Membunuh Keinginan, Membunuh Kesia-siaan

Hanya sebagian buku yang belum tuntas saya baca
Manusia memang mahluk dengan berjuta keinginan. Keinginan-keinginan yang tidak pernah terpuaskan sepanjang hayat masih dikandung badan, sepanjang tubuh belum berkalang tanah dan dimakan cacing. Karena saya manusia, tentu saya juga memiliki banyak keinginan, dan memang tidak pernah merasa puas. Keinginan itu selalu bertumbuh dari satu menjadi seribu satu, dari seribu satu menjadi sejuta satu. Demikian seterusnya. 

Dulu, di masa-masa sekolah, saya sering ‘korupsi’ uang jajan dan rela ‘ngesot’ ke sekolah demi membeli buku. Buku-buku itu saya lahap langsung begitu saya buka plastiknya. Saya juga magang di rental buku demi membaca buku gratis dan sembunyi-sembunyi membawa novel ke rumah untuk dibaca malam hari. Ibu selalu mengatakan bahwa membaca tidak akan mendatangkan uang dan nyaris selalu protes kalau melihat saya sedang membaca. Itulah sebabnya saya sering naik ke loteng atau ke genting hanya untuk membaca. Saya juga sering dimarahi guru gara-gara ketika mereka menjelaskan saya membaca novel Sidney Shieldon yang saya pinjam dari perpustakaan sekolah. Saya menyembunyikan novel itu di bawah meja. 



Ini buku dan komik yang saya pinjam dari rental buku,
semoga dengan adanya DL pengembalian bisa memaksa
saya untuk membaca


Saya membaca juga di angkot ketika akan berangkat ke sekolah sampai-sampai pernah ada penumpang angkot yang bertanya dengan heran. Waktu itu saya masih SMK dan yang bertanya kepada saya adalah lelaki dewasa dengan penampilan seperti orang kantoran. 
“Itu buku apa?” tanyanya. 



Saya memperlihatkan buku yang sedang saya pegang, MEGATRENDS 2000 karya John Naisbitt. 
“Anak SMU baca buku gituan? Kok enggak baca komik aja?” tanyanya lagi dengan raut heran. 
Saya hanya mengangkat bahu sebab bagi saya waktu itu tidak penting apakah buku  itu cocok untuk anak seusia saya atau tidak, lagipula saya belum begitu suka membaca komik dan buku itu lebih menarik. 



Setelah saya bekerja, saya mulai membeli buku-buku dengan uang gaji walau masih saja diprotes Ibu. Sekarang, walau saya tidak bekerja, saya tetap mendapatkan ‘kucuran’ buku dari teman-teman, baik itu yang barter buku maupun yang memang mengirim agar bukunya saya baca, syukur-syukur saya apresiasi. Kamar saya yang sempit isinya buku semua. Tapi apakah saya sempat membaca semuanya? Tidak, saya membaca satu buku kemudian saya tinggalkan, beralih ke buku yang lain kemudian saya tinggalkan. Target saya untuk membaca minimal tiga buah buku dalam satu minggu juga tidak saya penuhi. 

Reading list tetap tergantung di inspiration board tanpa kemajuan pasti. Buku yang saya beli tahun kemarin masih utuh tak tersentuh. Bahkan, buku-buku antologi dengan saya sebagai salah satu penulisnya pun tidak pernah saya baca. Jujur, saya mulai frustasi dan merasa menjadi manusia yang tidak pandai bersyukur. Untuk apa saya memiliki banyak buku jika buku-buku itu tidak saya gunakan? Tidak saya manfaatkan. Dan anehnya, keinginan untuk membeli buku tidak padam. Saya berubah menjadi kolektor yang obsesif terhadap keinginan untuk memiliki. 

Saya ingin membunuh keinginan-keinginan itu dan merasa cukup. Mengatakan cukup terhadap diri saya sendiri. Sebelum keinginan-keinginan itu membunuh saya nantinya. 



Leave a Reply