Ketika memutuskan untuk berangkat ke Jakarta bulan Desember tahun lalu, saya bahkan tidak tahu apa yang sebetulnya tengah saya cari. Memenuhi undangan temu blogger hanyalah alasan agar saya bisa pergi dari Cimahi, kembali datang ke kota yang dari namanya saja sering kali mendatangkan rasa nyeri. Jakarta, kota yang begitu asing. Kota dengan gedung-gedung tinggi laksana raksasa baja yang memamah manusia. Yang jalan-jalannya riuh dengan deru kendaraan namun sunyi dari percakapan.

Mungkin saya mencari kesempatan, mungkin juga tidak.

Saya berangkat dari Stasiun Bandung menuju Bekasi, menginap dua malam di rumah Teh Lidya agar besoknya bisa langsung ke Tokopedia, menumpang mobil Teh Irma Senja. Sepanjang perjalanan di dalam kereta, pertanyaan saya masih saja sama, “Apa yang saya cari?” Untuk apa saya repot-repot menitipkan Aksa selama beberapa hari? Untuk apa saya menghabiskan dana dan waktu? Untuk apa?

Hari pertama, saya tidak menemukan jawaban.

Hari kedua, nyaris seharian saya habiskan di Jakarta, menghadiri dua acara di hari yang sama. Yang pertama di Tokopedia, yang kedua di Grand Indonesia. Tapi saya tak jua menemukan apa-apa. Jakarta masih menjadi kota yang asing.

Hari ketiga saya habiskan sendirian, hadir di acara workshop IRF. Seharusnya setelah acara IRF selesai saya langsung pulang, tapi entah kenapa saya malah memutuskan untuk hadir di acara peluncuran sebuah merek smartphone keesokan harinya padahal saya belum tahu mau menginap di mana.

Sejak terjun ke dunia penulisan, saya tidak pernah takut jika harus bepergian ke luar kota karena akan selalu tersedia tempat untuk bermalam. Malam itu pengecualian, beberapa orang yang saya hubungi tidak memberikan respons, beberapa orang lagi hanya bercanda, lebih banyak pula yang memberikan ide utopis. Maka saya berjalan dari Synthetis Square untuk mencari minimarket yang buka 24 jam. Perjalanan mencari minimarket ini pun tak mudah. Hujan deras tiba-tiba datang, membuat saya terhambat di jembatan penyebrangan. Bahu kiri saya sudah berdenyut-denyut sakit ketika saya meneruskan perjalanan hingga terdampar di Sevel di daerah Guru Mughni.

Hujan kembali turun, saya lapar, tak punya uang, lelah, dan kesepian.

Saya mulai membenci Jakarta. Benci sebenci-bencinya.

EVAKUASI

Karena sudah terbiasa tidur di jalanan, malam itu saya melepaskan segala macam kekesalan, berusaha menikmati suasana seperti biasa. Tidak sulit bagi saya memutar mood, saya hanya perlu secangkir kopi dan beberapa batang rokok. Nikotin dan kafein membuat saya jinak, percayalah.

“Ukh, masih di Sevel? Pesan Go-Jek ke sini ya, nanti aku yang bayar,” sebuah pesan datang. Dari teman, laki-laki.

Tadinya saya akan menolak ajakannya karena sudah memutuskan untuk memulai kembali pencarian. Mencari sesuatu yang tidak saya tahu apa tentu bisa dimulai dari meja minimarket 24 jam. Tapi teman saya itu memaksa, mengatakan bahwa saya berutang diskusi tentang Tuhan dan agama dengannya.

“Sialan!” maki saya dalah hati. “Giliran dapat suaka malah harus dibayar dengan diskusi semacam itu.”

Jadi pergilah saya ke tempat teman saya itu setelah sebelumnya 3 kali gagal memesan Go-Jek. Pukul 10 malam, di tengah gerimis, seorang perempuan melintasi kota Jakarta untuk bermalam di tempat temannya dengan bayaran diskusi tentang agama.

Sialan, maki saya lagi.

Singkat cerita, tibalah saya di tempat teman saya itu. Minta makan, minta rokok, numpang mandi, dan numpang tidur. Tentu saja dia tidur di kamar lain.

STASI TERAKHIR

Di hari keempat, sehabis menghadiri peluncuran smartphone terbaru di sebuah mal, saya tak jua pulang. Waktu itu saya malah ikut blogger lain ke acara peluncuran sebuah produk makanan.

Ketika acara selesai, lagi-lagi saya harus merepotkan seorang teman. Dia menunggui saya, memesankan ojek online, dan memastikan saya bisa pulang ke Cimahi dengan selamat tanpa insiden ketinggalan kereta.

Tapi, petualangan saya memang belum berakhir. Mungkin karena pencarian saya pun belum berakhir. Berkali-kali kami memesan ojek online untuk ke Gambir, berkali-kali itu pula tidak berhasil. Ada driver yang sudah menuju lokasi, tapi dia kembali lagi karena katanya lokasi kami susah ditemukan. Bedebah memang.

Akhirnya rute pulang saya dialihkan ke Stasiun Senen karena tidak memungkinkan untuk mengejar Argo Parahyangan di Gambir.

Hingga kereta bertolak menuju Cimahi, pencarian saya belum selesai. Saya masih tidak menemukan apa-apa kecuali rasa lelah luar biasa. Badan saya sudah berbau bacin, bahu kiri saya sudah terasa nyeri menusuk-nusuk karena terlalu lama menggendong ransel, tapi saya tidak juga menemukan apa yang saya cari di Jakarta.

Sekali lagi, sialan!

KEPULANGAN

Stasiun Cimahi lengang dan gigil oleh gerimis ketika saya menginjakkan kaki di peron. Pukul 1 dini hari, dengan ransel dan muka kusut, saya seperti petualang yang baru pulang entah dari mana.

Begitu keluar dari stasiun, tak ada satupun kendaraan umum di sana. Tidak ada angkot, tidak ada ojek, tidak ada siapa-siapa. Hanya ada seorang petugas stasiun yang menyapa saya sekadarnya. Minta dijemput? Sama siapa?

Saya duduk di trotoar, mengeluarkan kopi botolan dan sebatang rokok. Di sanalah saya: merokok sendirian di belakang stasiun di tengah gerimis pada pukul 1 dini hari.

Sebelum memutuskan benar-benar pulang ke kosan, itulah kesempatan terakhir saya untuk menemukan entah apa.

Benak saya mulai memutar kembali setiap wajah dan peristiwa tiga hari ke belakang. Memutar kembali pongahnya Kota Jakarta. Mengais-ngais alasan mengapa saya begitu membencinya.

Ingatan saya berlayar kepada beberapa tahun silam. Kepada wajah seorang perempuan. Perempuan yang tinggal di kota yang baru saja saya tinggalkan. Perempuan yang membawa suami saya pergi.

Rasa nyeri itu datang lagi.

Kemudian ingatan saya berlayar kepada wajah dan peristiwa lain. Kepada Teh Lidya yang telah menjamu saya layaknya keluarga. Kepada Uci yang menemani hingga mengantarkan saya ke rumah Teh Lidya setelah acara selesai. Kepada teman lelaki yang tidak bisa saya sebutkan namanya, yang telah repot-repot mengevakuasi dan memberikan saya suaka. Kepada Teh Yuli yang dengan rela menemani dan memastikan saya pulang dengan selamat.

Juga kepada teman-teman lain yang saya temui. Teman-teman yang tadinya hanya wajah di media sosial. Teman-teman yang akhirnya bisa berjabat tangan dan bersenda gurau.

Rasa nyeri itu berangsur hilang.

Ternyata saya memang tidak sedang mencari apa-apa karena tidak pernah ada yang hilang dari diri saya. Saya masih punya teman-teman baik. Saya masih punya orang-orang yang peduli. Saya masih punya rasa berani.

Ternyata saya memang tidak sedang mencari apa-apa.

Pergi ke Jakarta hanyalah usaha untuk berhadapan dengan masa lalu. Dan saya sudah selesai dengan itu. Persetan dengan perempuan yang telah mencuri suami saya itu, toh setiap orang pada akhirnya akan pergi, cepat atau lambat. Jakarta akan tetap menjadi kota yang pongah di mata saya, tapi tak lagi mendatangkan luka sebab di kota itu pulalah teman-teman saya berada.

“Neng, ojek?” sebuah motor melintas di depan saya.

Saya mengangguk, sesaat meneliti penampilan lelaki di depan saya, sekadar berhati-hati “Ka Cibabat, Pak. Gang Eman.”

Jarum jam di pergelangan tangan kanan saya merangkak ke angka dua saat ojek yang saya tumpangi mulai melaju membelah gerimis.

Saya pulang, kembali ke kosan. Ke kota yang telah saya kenal.

Saya pulang. Pencarian saya … selesai.

2 Comments

Leave a Reply