Melakukan rihlah ke Taman Hutan Raya Ir. H. Juanda atau Tahura yang terletak di Dago Pakar bagi saya bukan hanya mengisi kembali paru-paru dengan udara segar, tapi juga mengisi kembali energi yang sudah aus dimamah polutan kota besar. Meski lahir dan besar di Bandung, saya memerlukan waktu 32 tahun untuk sampai ke tempat ini. Selama ini saya sudah terlanjur patah hati dengan pembangunan mal-mal yang membuat Bandung sedemikian riuh hingga lupa bahwa jantung kota ini tidak terletak di gedung-gedung, tidak terletak di festival-festival, tidak terletak di atas aspal, tidak terletak di keramaian, melainkan jauh menepi ke utara. Jantung kota ini berada di batang-batang pohon mahoni dan angsana, berada di deru hulu Sungai Cikapundung, berada di cericip burung.
Tahura yang terletak di Kampung Pakar, Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan ini memiliki luas 590 ha yang membentang dari Pakar hingga Maribaya. Luas yang bisa dibilang tidak cukup besar untuk memasok oksigen bagi Bandung, tapi cukup membuat saya bertenang diri. Setidaknya, saya tidak usah khawatir kekurangan oksigen. 

Hari Minggu, tanggal 3 Januari 2016 merupakan hari yang akan saya ingat selalu. Bukan hanya karena saya mendapat kesempatan untuk berdekatan dengan 2500 jenis tanaman yang terdapat di Tahura, tapi juga mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Goa Belanda dan Goa Jepang, dua tempat bersejarah yang selama ini hanya saya dengar dari cerita orang-orang. 

Hari itu, Minggu, 3 Januari 2015, saya, Teh Ani Berta, Teh Nchie, Jeung Sari Novita, Widya Herma, Sekar, Olive, Dita, dan keluarga Teh Okti Li melakukan rihlah bersama-sama. Melakukan tracking sepanjang jalur Pakar-Maribaya sambil menikmati keteduhan pohon-pohon, udara segar, dan percakapan-percakapan ringan. 

AWAL RIHLAH


Lokasi Tahura berada di lintasan Kota dan Kabupaten Bandung, meski cukup jauh, tapi mudah diakses dengan kendaraan umum. Kalau Anda pemalas seperti saya, Anda bisa menyewa ojek atau taksi hingga ke pintu gerbang. Dengan tiket masuk sebesar Rp11.000/orang, banyak sekali yang bisa Anda dapatkan.

Begitu masuk ke kawasan saya disambut oleh berbagai jenis pepohonan, suara tonggeret, dan tanah merah yang sukar didapat di perkotaan. Ini adalah pemandangan mewah, lebih berharga daripada gedung-gedung bertingkat yang membosankan.

INFO:
  • Alamat: Kampung Pakar, Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Lembang, Jawa Barat
  • Waktu buka: Setiap hari, 08.00-18.00
  • Tiket: Rp11.000/orang, Rp75.000/orang asing
  • Akses: Dapat dicapai melalui Jalan Dago maupun melalui Jalan Cikutra. Semua jenis kendaran bisa masuk hingga ke pintu gerbang utama. Bila menggunakan kendaraan umum, angkot hanya sampai Terminal Dago, selanjutnya perjalanan diteruskan dengan kendaraan umum lain jurusan Kampus Unisba dan berhenti di Kordon. Dari Kordon perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 500 m. (Wikipedia)

RIHLAH


Tracking dari Pakar ke Maribaya yang berjarak 6 Km rasanya seperti diseret pasir waktu, ketika Bandung masih sehijau dulu. Kami, saya dan rombongan, berjalan beriringan menyusuri jalan setapak yang untungnya sudah di-paving block. Di kanan kiri kami terdapat hutan yang ditumbuhi pohon-pohon pinus, angasana, mahoni, dan 40 familia lain yang tidak bisa saya kenali satu per satu.

Ada beberapa destinasi yang bisa kami kunjungi, tapi saat itu kami memutuskan untuk ke Goa Jepang, Goa Belanda, lalu meneruskan perjalanan ke Curug Omas yang terletak di Maribaya. 

Waktu menunjukkan pukul 11 siang ketika kami berdelapan memasuki Goa Jepang, berbekal senter sewaan yang dibandrol dengan harga Rp5.000. Tidak banyak yang bisa kami lihat di goa ini selain terowongan-terowongan tanah. Dulu, saya sempat berpikir bahwa Goa Jepang adalah labirin yang memenjarakan Ikarus, ternyata tidak. Meski beberapa buntu, tapi terowongan saling berarsiran sehingga tidak sulit untuk menemukan akses keluar. Gelap? Tentu saja, tidak ada akses cahaya lain selain senter yang kami bawa. 

Goa Belanda lain lagi. Bukan tanah yang kami temui melainkan terowongan-terowongan beton yang lebarnya lebih kecil. Seperti di Goa Jepang, di depan goa juga terdapat orang-orang yang menyewakan senter. Pun, kami tidak sempat menelusuri goa lebih lama karena banyak sekali orang dan entah kenapa ada yang masih sempat bercanda dengan mengeluarkan suara-suara a la hantu. Mungkin mereka bermaksud melucu, meski saya tetap merasa bahwa selera humor mereka kampungan.     


TIP: Tempat ini memang tidak seseram seperti yang sering ditayangkan di program televisi. Tapi saran saya, jangan pernah membawa anak kecil ke goa ini. 


Pepohonan yang memagari jalan
Jalan setapak menuju Curug Omas
Salah satu warung di jalur tracking


Medan menuju Curug Omas cenderung ramah. Memang, ada beberapa tanjakan yang membuat kami para emak-emak blogger sadar akan usia, tapi bisa kami lalui dengan gembira walau napas tersenggal-senggal. 

Kalau Anda berpikir bahwa Tahura adalah hutan belantara di negeri antah berantah lengkap dengan pepohonan berdiameter raksasa, mungkin Anda akan kecewa. Pohon-pohon yang memagari jalan setapak sepertinya masih muda jika dilihat dari diameternya. Pohon-pohon besar hanya saya temui beberapa, mungkin yang lainnya tengah bertenang diri jauh di kedalaman hutan. Terlebih lagi ada warung-warung yang menjual berbagai penganan dan minuman. Kalau Anda sudah cukup lelah, Anda bisa beristirahat di balai-balai atau bangku bambu sambil makan ketan atau jagung bakar dan menyesap kopi. 

Jangan khawatir tentang harga. Bagi saya yang sering menyesal ketika membeli air mineral seharga 15 ribu di kafe-kafe, harga penganan dan minuman di Tahura termasuk murah.  

Atau kalau Anda sudah sangat menyerah, Anda bisa menumpang ojek yang berseliweran, mudah sekali ditemukan. Tarif? Tidak, saya tidak tahu karena tidak sempat bertanya. Yang jelas, Tahura masih terjangkau oleh peradaban, bahkan oleh sinyal. 😀


HARGA:
  • Ketan bakar: Rp5.000/potong
  • Bandros: Rp1.000/potong
  • Kopi: Rp4.000/gelas

Ada beberapa hal lain yang saya perhatikan di sepanjang perjalanan: tempat sampah, toilet, dan kebersihan. Setiap beberapa puluh meter, terdapat tempat sampah beton yang kondisinya tertib. Tertib di sini maksudnya tidak ada sampah yang berhamburan, kondisi yang jauh lebih baik daripada di tengah perkotaan. Nyaris setiap warung yang agak besar juga dilengkapi dengan toilet, sayangnya kondisinya masih belum layak kalau menurut saya. Ya, namanya juga di hutan. 

Tidak, saya tidak menemui sampah di sepanjang jalan. Ini kabar gembira, bukan?

TIP:

  • Tetap bawa kantong sampah sendiri. Anda kampungan kalau masih nekad membuang sampah di hutan. 

Bagi para fotografer mualaf seperti saya atau Anda yang perlu mengisi postingan di Instagram, hutan lindung yang dirintis sejak tahun 1960 ini bolehlah dijadikan objek foto. 

Karena ini hutan, bukan hamparan bunga, jadi tidak usah khawatir jika mengunggahnya ke media sosial. Memangnya apa yang bisa dilakukan para alayers? Naik ke pohon angsana dan disambut monyet-monyet yang bergelantungan di sana? 

Dengan kecepatan kami, memakan waktu 3.5 jam untuk sampai ke Curug Omas. Waktu berlari di Tahura, saya bahkan sempat mengira kalau kami hanya melakukan perjalanan selama 1 jam. Ah, alam memang seperti mesin pembakar waktu.

Tidak perlu membayar tiket lagi untuk masuk ke Curug Omas. Kita bisa langsung masuk dan menikmati deru sungai dan beristirahat di bawah rimbun pepohonan. Anda bisa memilih tempat istirahat di kiri atau kanan sungai. Kami memilih untuk beristirahat di kanan sungai, jadi harus menyeberangi jembatan. 


TIP:Di tonggak jembatan ada tulisan “maksimal 5 orang”, untuk keselamatan bersama sebaiknya menyeberang secara bergiliran. Meski jembatan ini terbuat dari besi, tapi kan tidak lucu kalau suatu saat rubuh karena para turis lokal yang tidak sabaran. 

Aliran Sungai Cikawari

Curug Ciomas


Di kanan jembatan sudah terdapat tikar-tikar yang terhampar. Bukan, ini bukan tikar sambutan melainkan tikar yang disewakan dengan tarif Rp18.000. Ketika sampai, kami sudah cukup lelah dan lapar, jadi buru-buru mencari penjual makanan berat. Ada beberapa warung yang menjual berbagai jenis makanan dari mulai batagor, lotek, sampai nasi liwet. Rasa dan harganya sih lumayan, terutama sambal terasinya. Sayangnya kebersihan makanan dan piring-piring penyajian agak mengkhawatirkan. Saran saya sih, lebih baik membawa bekal makanan berat dari rumah. 

Berjalan kaki selama 3 jam akan membuat siapa saja kelaparan, sepiring nasi dengan lauk ayam goreng, tempe, tahu, lalapan, dan sambal di hadapan saya tandas dalam waktu sesingkat-singkatnya. Di antara kami, cuma Teh Ani yang tidak makan. Meski pada perjalanan pulang beliau membalas dendam dengan semangkuk cuanki. Hahaha.

Menurut artikel yang saya baca di Wikipedia, Curug Ciomas memiliki ketinggian kurang lebih 30 meter dengan kedalaman 10 meter. Sayangnya curug aliran Sungai Cikawari ini tidak bisa diakses dari bawah, hanya bisa dinikmati dari dua jembatan yang berada di atas dan di bawahnya. Beberapa meter dari tempat kami beristirahat memang ada akses jalan yang mengarah ke aliran sungai, sayangnya lagi) kami tidak sempat ke sana karena hari sudah beranjak petang.

Saya sendiri hanya sempat mengambil beberapa foto sebagai dokumentasi. Oh ya, bagi Anda yang membawa anak-anak, di kawasan curug juga disediakan arena bermain seperti ayunan, perosotan, dan jungkat-jungkit. 

PERJALANAN PULANG


Kami kembali menyusuri setapak menuju Dago Pakar. Saat itu pukul 3 sore dan gerimis. Berbeda dengan sebelumnya, perjalanan pulang kami lalui lebih cepat, kurang dari 2 jam. Selama perjalanan pulang itulah kami kembali disuguhi menu pepohonan dan udara segar. 

Walau musim hujan, tidak banyak “medan berbahaya”, ada beberapa jalan yang paving block-nya rusak sehingga agak licin. Tapi, tidak terlalu menyulitkan. Saya sering berpapasan dengan keluarga yang membawa anak-anak dan kelihatannya bocah-bocah itu juga tidak kesulitan. Suhu pun tidak terlalu esktrem. Mungkin karena kami berada di sana ketika siang hari. 

Mendekati pintu keluar, kami mengambil rute yang berbeda. Kali ini kami sempat melewati arena outbond, museum, dan monumen Ir. H. Juanda. Di sepanjang perjalan pulang inilah pula kami mencetuskan ide-ide revolusioner untuk para blogger yaitu: outing berkala tanpa goodiebag. #eh

Monumen Ir. H. Juanda


Malam dan hujan mulai turun ketika satu per satu dari kami pulang ke rumah masing-masing. Pulang berbekal paru-paru yang dicuci oleh udara hutan. Pulang berbekal pikiran yang dipenuhi rimbun dan hijau pepohonan. 

Saya berjanji di dalam hati bahwa dalam waktu dekat akan membawa Salwa dan Aksa ke tempat ini. Memperkenalkan hutan kepada mereka, menceritakan muasal Sungai Cikapundung yang membelah Kota Bandung. Menyampaikan kepada mereka bahwa rekreasi bukan pergi ke restoran cepat saji atau arena bermain artifisial. 

Saya berjanji.

~eL



28 Comments

  1. January 5, 2016 at 6:57 am

    Ajib nih ada di sini, seger pisan. Pokona mah harus ke sini lagi.
    Di Maribaya na kurang lama.

  2. January 5, 2016 at 7:00 am

    Seperti baca sebuah cerpen 🙂

  3. January 5, 2016 at 7:02 am

    Ke pemandian air panasnya yuk yuk.

  4. January 5, 2016 at 7:03 am

    Kan kan, akoh cerpenis. Hahaha.

  5. January 5, 2016 at 8:13 am

    bedana jauh pisan orang asing tiket na

  6. January 5, 2016 at 8:37 am

    Baca & lihat-lihat fotonya aja bisa adeemmm gimana gitu… Jadi mupeng pengen halan-halan kesana 😀

  7. January 5, 2016 at 8:48 am

    Awas kalau tak menepati janjimu kepada anak2mu untuk membawa mereka ke sana. Diarah di pengkolan 🙂

  8. January 5, 2016 at 8:49 am

    Awas kalau tak menepati janjimu kepada anak2mu untuk membawa mereka ke sana. Diarah di pengkolan 🙂

  9. January 5, 2016 at 9:22 am

    wahhh udaranya disana kyknya segar mbak, jadi pengen kesana ^_^
    http://www.warungbiru.com

  10. January 5, 2016 at 9:25 am

    Iya, ini PR banget sih, pengen nanyain ke petugasnya.

Leave a Reply