Menebus Tahun-Tahun yang Hilang


Mengingat sebuah perjalanan, yang bahagia ataupun tidak, adalah menyelam ke dasar pikiran. Mengais-ngais memori, memanggil kembali ingatan dari berbagai stasi. Ketika melakukannya, sering kali kita ingin membalikkan pasir waktu, berusaha kembali kepada saat-saat yang kita inginkan. Sayangnya hidup dan waktu seperti tiket kereta api satu kali jalan, kita hanya punya tiket pergi, tak bisa kembali. Yang bisa kita lakukan hanya mengingat, mungkin sesekali berharap mengambil keputusan yang berbeda meski harapan seperti itu tidak akan banyak berguna. 

Saat itu bulan Februari tahun 2005, usia saya baru 23 tahun, single parent dengan anak berusia 14 bulan, dan pengangguran. Atas desakan ekonomi dan keluarga, saya merantau ke Lobam, Kepulauan Bintan. Meninggalkan putri saya yang baru saja bisa berjalan. Ia bahkan belum bisa melafalkan kata “bunda” dengan benar. Ia memanggil saya “dada”.   

Hari itu, saya diantar oleh Bapak ke SMKN I Bandung, meeting point para rekrutan. Salwa, putri saya, “diungsikan” ke rumah tetangga agar tidak melihat kepergian saya. Sialnya, satu-satunya jalan yang bisa kami lewati berada tepat di depan rumah tetangga itu. Maka ketika mendengar deru suara motor Bapak, Salwa yang tengah bermain seketika menoleh. Saat dia melihat saya di boncengan, gegas ia berlari, meneriakkan satu kata dengan tangan menggapai-gapai.

“Dadaaa!” 

Jangan tanya seberapa remuk hati saya waktu itu. Yang jelas teriakan Salwa kerap menjadi hantu selama saya berada di perantauan. Menyelusup ke dalam mimpi paling buruk.  

Seperti yang dialami Ollie dalam bukunya Passport to Happiness, perpisahan telah banyak menghadiahkan luka. Saya mulai bertanya-tanya tentang arti perjalanan yang saya lakukan. Demi apa? Kenapa demi sebuah impian hidup berkecukupan harus dengan cara semenikam itu? Kenapa Bandung tidak menyediakan satu pun lapangan pekerjaan bagi para ibu agar tak harus berpisah dengan buah hatinya? 
  
Tapi luka akibat perpisahan dengan orang terkasih tidak bisa disembuhkan dengan apa pun kecuali oleh waktu. Maka saya bersabar, berdamai dengan rasa sakit, melanjutkan hidup dengan satu tujuan: pulang.


Bekerja sebagai buruh pabrik di perantauan dengan masyarakatnya yang majemuk adalah sebuah perjalanan yang akan terus saya ingat. Banyak hal yang saya temukan. Banyak hal yang saya pelajari. Sedikit banyak mengubah cara pandang saya terhadap hidup.

Saya belajar tentang keberagaman. Mengenal orang-orang dari berbagai suku, agama, warga negara, dan budaya yang berbeda. Lobam adalah miniatur Indonesia, seperti Jakarta. Melalui teman-teman satu dormitory dan perusahaan, saya bukan hanya belajar menghargai, tapi juga memahami bahwa perbedaan hanyalah ilusi yang kita buat sendiri. Memahami manusia sebagai manusia, tak peduli dengan hal-hal di luar itu.

Saya belajar kelembutan hati dari Kak Bertha, orang Mandailing beragama Katolik yang setiap sahur sering kali membangunkan dengan cara menepuk kaki saya. Saya belajar strata cinta dari Shinta, orang Palembang yang menjadi tulang punggung keluarganya. Saya belajar memperbaiki selera humor dari Kak Iyen, perempuan bersuku Melayu yang mulutnya kadang tak bisa direm tapi ialah satu-satunya “pelawak” yang selalu menghibur kami. Saya belajar tentang kebaikan dari Mbak Nurul, supervisor saya di perusahaan.

Di Lobam inilah juga saya kembali belajar menulis, sesuatu yang sempat saya lupakan bertahun-tahun sebelumnya. Untuk pertama kalinya, cerpen saya berhasil menembus media nasional. 

Di tempat yang sama, saya mulai “mencari” Tuhan. Memperbaiki hubungan dari sekadar pencipta dengan hamba menjadi sesuatu yang lebih lekat. Saya yang tadinya keras kepala dan cenderung memaksa ketika berdoa, menjadi saya yang lebih bijaksana memilih keinginan, menjadi saya yang lebih banyak berserah diri daripada mendikte.       

Saya belajar dari banyak orang. Dari banyak hal. Belajar berbahagia dengan cara berbeda.  


Namun rindu, sering kali menjadi seteru. Sebahagia apa pun saya di perantauan tak bisa menggantikan kebahagiaan ketika bersama dengan buah hati sendiri. Setiap minggu saya menulis surat kepada Salwa. Meminta adik saya untuk membacakannya agar meski jarak menyekat kami, ia tahu bahwa saya masih ibunya. Ketika ponsel mulai ramai digunakan, saya membeli dua buah. Yang satu saya kirimkan ke rumah. Dua hari sekali saya menelepon demi mendengar suara Salwa yang sedang belajar berbicara.

Di tahun kedua, saya memutuskan untuk pulang. Inilah perjalanan saya yang sesungguhnya, seorang ibu yang pulang. 

Anda tahu bagaimana rasanya dua tahun berpisah dengan buah hati? Anda tahu bagaimana rasanya ketika akhirnya dipertemukan kembali? Sepanjang perjalanan dari Bandara Hang Nadim ke Bandara Soekarno Hatta dada saya tak berhenti berdebar. Langit yang biasanya menjadi pemandangan memukau kali itu seakan menjadi penghalang. Saya ingin cepat mendarat, ingin cepat melanjutkan perjalanan ke Bandung.    

Perjalanan dengan kereta api dari Jakarta ke Bandung adalah hal yang lain lagi. Waktu 3 jam terasa memuai menjadi ribuan. Selama di perjalanan saya tak henti-hentinya melirik jendela, bertanya-tanya berapa lama lagi waktu yang harus saya relakan untuk sampai ke Bandung.  

Selama itu pula benak saya dipenuhi berbagai macam pertanyaan. Apakah Salwa akan mengenali saya? Apakah Salwa akan memanggil saya “bunda” atau sebutan lainnya? Apakah Salwa …?

Ketika kereta api memasuki Stasiun Bandung, saya bersiap-siap dengan dada masih penuh debar. Saat itu pukul 7 malam, saya disambut dengan udara dingin Bandung yang khas ketika menginjakkan kaki di peron. “I’m home,” bisik saya lalu bergegas menuju pintu keluar.

Dan di situlah ia. Berdiri di samping Ibu sambil membawa boneka yang saya kirimkan beberapa bulan sebelumnya. Gadis kecil berambut bob dengan poni mirip Dora, tokoh kartun favoritnya. 

Di setiap langkah kaki, rasa nyeri yang bersarang di dada selama dua tahun perlahan-lahan luruh bersama air mata. Saya berlutut di hadapannya dengan mata berkaca-kaca tanpa mengatakan apa-apa. Ia memandang saya malu-malu, mungkin sedang mengais-ngais memori di benak kecilnya. 

Saya menahan diri untuk tidak mengatakan, “Ini Bunda.” Maka saya hanya tersenyum, merentangkan tangan, menjanjikan sebuah pelukan. 

Ia mengerjapkan mata, memandang boneka di tangannya, menoleh ke arah Ibu dan Bapak, lalu kembali menatapi wajah saya. “Bunda …” bisiknya. Saya mengangguk. 

Perlahan, ia berjalan, lalu melingkarkan tangan di leher saya. Saya memeluknya erat, menciuminya dengan isak tertahan. Dari sudut mata, saya melihat mata Bapak dan Ibu juga berkaca-kaca.

“Bunda pulang, Sayang. Bunda pulang,” hanya itu yang sanggup saya katakan.  


Hidup, sejatinya memang sebuah perjalanan. Bukan hanya perkara destinasi atau stasi tempat kita berhenti. Bertahun-tahun sudah lewat sejak saat itu, berbagai peristiwa telah saya lalui dari satu perjalanan ke perjalanan yang lain. Tapi perjalanan menuju kebahagiaan saya bukan terletak di langkah kaki, perjalanan saya yang sesungguhnya berada di dalam sini. 

Sejak saat itu saya bertekad untuk tak pernah pergi lagi. Saya ingin menebus tahun-tahun saya yang hilang. 

Sebab bahagia bukan di mana, tapi dengan siapa kita melewatinya. 

~eL

  

35 Comments

  1. December 26, 2015 at 9:03 am

    Mbak Langit berhasil bikin saya nangis 🙁 saya suka cara bercerita Mbak Langit 🙂

  2. December 26, 2015 at 10:02 am

    Terharu…

  3. December 26, 2015 at 10:03 am

    Aku sih 'yes' dengan postingan ini. Ini harus menang! *gebrak meja sambil sesenggukan*

  4. December 26, 2015 at 10:26 am

    Hiks… tulisannya bikin aku cirambay… T^T Aku punya anak juga, jadi tauuuu banget perasaan Teh El..*meski ga pernah lebih jauh dr Bdg-Jkt dan ga lebih lama dr 3×24 jam* Tapi I feel you, beneran. Ikut pedih ni hati.. Anyway, salam kenal! ^^ kunjungan pertama dan jatuh cinta..

  5. December 26, 2015 at 10:30 am

    Kakaaaaakk, tulisan dikau bikin galau. Hiks :(((((

  6. December 26, 2015 at 11:29 am

    Dari tadi udah nahan diri supaya nggak mampir ke sini. Apa daya, nggak bisa melewatkan tulisan bagus. Dan sekarang aku jadi meneteskan air mataaaaa!! Heu…

    Good luck, ya. Doa terbaik untukmu

  7. December 26, 2015 at 12:06 pm

    Nyesek nih teh.

    Juara!

  8. December 26, 2015 at 1:39 pm

    Ima tau rasanya… Ima pernah dalam posisi kamu.

  9. December 26, 2015 at 1:58 pm

    Semoga yg terbaik selalu diberikan buat Teteh sekeluarga, aamiin..

  10. December 27, 2015 at 12:21 am

    Sebab bahagia bukan di mana, tapi dengan siapa kita melewatinya.

    *suka kata kata ini :')

Leave a Reply