Mengemas Kesedihan

Ada yang perlahan hengkang kemudian hilang di belantara kata-kata, sebuah frase bernama air mata. Entahlah, Am. Mungkin ia dilarung ke lautan dan dimakan gelombang, atau barangkali berakhir di pesisir dan menjadi butiran pasir. Entah.

Namun, masih ada jejak kesedihan, semakin lama semakin jelas dan membekas. Bahkan ketika aku menari-nari di jejalan, ketika aku tertawa meski dengan bibir pasi. Tak ada yang mampu mengganti atau menghapus. Tapi apakah ini? Rasa yang menikam-nikam ini?
Jadi, mari kita akhiri seluruh petualangan. Sebab hidup, hanya soal mengeja ingatan, bukan?

Leave a Reply