MENGEMAS PRAHARA; KOTA JEJAK LUKA (BUKU PUISI TUNGGALKU)

Kepada Batam:

Aku masih akan mengingatmu dan jalan-jalan itu serta tempat kost beratap seng yang panas seperti di neraka . Aku masih akan mengingatmu dan seluruh luka yang kau tumpahkan dalam guris nadiku. Dan ya, aku masih mengingatmu yang dengan serakah merampok segalanya dariku.

Maka buku puisi ini akan lahir karena di dalam rahimmu lah dulu aku mendendam pada pena dan carikan kertas, sehingga hanya kepada kata dan aksaralah bisa kuabadikan jejak-jejak luka.

Jangan mencibir! Puisiku bukan sekedar syair yang kau bandingkan dengan petuah-petuah Raja Ali Haji. Puisiku berdarah dari airmu, berdaging dari tanahmu. Puisiku menghisap udara dari udaramu. Mereka lahir karena suntikan induksi yang kau paksa tancapkan di selangkanganku.

Mereka jejak luka kotamu. Dan kini, telah tuntas kukemas semua prahara itu.

Leave a Reply