MENGEMAS PRAHARA

Kumasukan badai dan petir dalam satu koper yang setengahnya telah penuh oleh peluh dan lenguh. Peluh dan lenguh kita yang tak sengaja kusimpan sebab malam-malam telanjang ibarat gulma yang tak rela terbuang. Masih tersisa pilu dan gugu di sudut pintu, menunggu, berharap-harap cemas untuk dicumbu. Kurenggut pembungkusnya dan kujejalkan ke dalam koper lain, yang ternyata juga hampir tak dapat menampung isi apa pun lagi sebab di dalamnya meringkuk duka berdarah dan dedah amarah.

Kujalari setiap inci kamar, mencari-cari adakah yang tertinggal dari kita. Tak ada, kupu-kupu perak malam pertama telah kabur dua bulan lalu karena takut selalu mendengar teriakanmu.

Setelah kurasa puas berbenah, kuseret kedua koper itu pergi menjauhi rumah berkamar satu tanpa kamar mandi dan dapur. Sebuah surat kuletakan di atas pembaringan, tempatmu membantaiku setiap malam.

“Telah kukemas seluruh prahara. Sekarang aku pergi. Jangan mencari atau mengharapku kembali. Percayalah, langitmu akan lebih cerah tanpa kehadiranku.”

Jodoh, 19092009

Leave a Reply