Menikmati Kesakitan, Memaknai Kehilangan

:Muhammad Zibril Bayu Perbawa

Cinta tidak pernah salah, tidak juga Tuhan yang memilihkan jalan begitu terjal bagiku, juga bagimu.

Sekarang, setelah engkau dan aku memiliki jarak yang sama-sama tidak bisa kita pangkas, sebuah kerelaan mulai tumbuh di dadaku. Pun, kesakitan demi kesakitan yang engkau sebabkan mulai dikelantang hantu bernama waktu. Sebab seperti yang sering aku katakan, cinta selalu memilihkan jalan paling benar.

Zib, kata maaf yang sering engkau uarkan lama-kelamaan membuatku merasa kebal. Barangkali, ya, hanya barangkali, hati di dalam sini sudah memaafkan atas seluruh luka yang engkau hadiahkan. Barangkali juga tidak. Sebab ketika nama dan wajahmu berkelebat, aku kerap kalap. Ingatan tentangmu membawaku ke kawah berisi rasa marah.

Hingga saat ini aku hidup dengan menyimpan berbagai macam rasa sakit tak tertahankan, rasa sakit yang engkau tinggalkan. Aku masih ingat bagaimana tanganmu menjambak rambutku. Aku masih ingat tanganmu menampar wajahku. Aku masih ingat tanganmu memukuliku. Aku masih ingat tanganmu nyaris membakarku.

Tapi aku juga ingat ketika tangan yang sama menelusuri punggungku. Ketika tangan yang sama merangkul bahuku. Ketika tangan yang sama …. Ya, tangan yang sama, tanganmu.

Meski aku kerap bertanya, di manakah cinta saat itu?

Zib, aku tak pernah punya senjata untuk mengenyahkan semua luka. Aku juga tidak pernah berhasil sampai pada kata lupa. Nama dan wajahmu masih kerap berdesak-desak di dalam kepala. Mungkin saja aku bisa berpura-pura bahwa segala macam remuk tidak pernah ada. Bahwa kita tidak pernah bersama. Bahwa aku dan kamu bukan dua orang yang pernah saling jatuh cinta.

Tapi apa yang akan aku dapat dengan berpura-pura?

Zib, aku pernah mencintaimu, dan kau pernah tergila-gila padaku. Terlepas dari apakah sesudah itu kita saling membantai atau tidak, toh nyatanya kita pernah jatuh cinta. Itu saja.

Maka yang aku inginkan saat ini adalah berterima kasih kepadamu. Setelah bertahun-tahun aku menyimpan rasa sakit yang kausebabkan, sudah saatnya aku belajar untuk menerima, menyimpan, sekaligus melepaskan. Aku tak pernah menyesal menjadi bagian dari hidupmu, pun ketika kau menjadi bagian dari nadiku. Karena tanpamu, mungkin aku akan tetap menjadi perempuan paling lemah. Karena tanpamu, mungkin aku tak akan pernah belajar bagaimana memamah badai.

Segala rasa sakit itu akan aku simpan, memasukkannya ke dalam kotak yang aku tutup rapat-rapat. Kesakitan demi kesakitan itu akan aku nikmati sendirian agar aku bisa kuat bertahan. Kehilanganmu hanyalah harga yang harus aku bayar untuk sebuah hidup yang -mungkin saja- lebih terjal.

Selamat tinggal, Zib. Kini aku sudah sampai pada kerelaan menerimamu sebagai bagian dari hidupku. Aku … lepas. Aku … bebas.

Leave a Reply