Kulit saya legam, bibir saya tebal, tubuh saya cenderung gempal. Dilihat dari sisi mana pun, saya bukan perempuan berparas dan bertubuh cantik. Sejak kecil hingga remaja, teman-teman selalu memiliki alasan untuk mengejek bentuk fisik saya. Dikatai mirip Dono, dikatai (maaf) negro, dan ejekan lain adalah makanan saya sehari-hari. Saya tumbuh menjadi anak perempuan yang tidak percaya diri.

Karena tidak terlalu banyak anak yang mau berteman dengan saya, saya menghabiskan waktu dengan membaca, belajar, membaca, dan belajar lagi. Karenanya, sejak kelas 3 SD hingga tahun-tahun berikutnya saya selalu menduduki rangking pertama di kelas. Untuk mengungkapkan unek-unek, saya mulai menulis buku harian. Jadi, gaya saya bertutur ketika menulis memang sudah terasah sejak dua puluh tahun silam. Tapi, meskipun juara kelas, toh itu tidak mengubah apa-apa. Saya tetap diejek, dikatai jelek.
Masa remaja adalah mimpi yang lebih buruk. Ketika gadis lain tengah berubah menjadi angsa, saya tetap si itik buruk rupa. Selain menjadi bahan ejekan, saya kerap dimanfaatkan. Ada yang berpura-pura ingin berteman agar bisa mencontek saat ulangan. Ada yang berpura-pura berteman agar saya rela berbagi uang jajan.
Saya remaja yang pendiam, selalu merasa khawatir jika bertemu orang baru. Tidak pernah sekalipun memulai percakapan, bahkan ketika bersama dengan orang-orang yang sudah saya kenal. Ketika gadis-gadis lain berbincang sambil tertawa-tawa di depan kelas atau saling menggoda dengan murid laki-laki, saya menepi ke perpustakaan. Almarhum Pak Izrak, guru agama sekaligus penjaga perpustakaan di SMP saya dulu, adalah kawan setia. Di bangku SMP, saya mulai menulis puisi dan cerpen.
Ketika kawan sebaya berdesakan di depan gang sambil main gitar, saya naik ke loteng untuk membaca buku yang saya pinjam dari perpustakaan sekolah. Ibu kerap berteriak dari bawah dan menyuruh saya turun, mungkin beliau berpikir bahwa kelakuan anak gadisnya kurang normal. Tapi, memang apa lagi yang bisa saya lakukan? Bergabung dengan teman-teman sebaya dan menjadi arca? Saya pernah melakukannya, selama berjam-jam, tak ada satupun orang yang mengajak saya berbicara. Saya adalah gadis tak kasat mata.
Ada yang sedikit berubah ketika SMK. Karena nyaris seluruh muridnya perempuan, rasa percaya diri saya mulai tumbuh. Saya mulai ikut ekstrakulikuler, menjadi pengurus OSIS, masuk Paskibra. Tapi ejekan-ejekan yang berhubungan dengan fisik tetap saja tidak berhenti. Selalu ada orang-orang yang menganggap bahwa dirinya lebih mulia karena fisiknya lebih indah dibandingkan saya sehingga merasa berhak merendahkan.

♥♥♥

Sekeluarnya dari SMK, saya tidak kuliah karena memang orang tua saya tidak memiliki biaya. Saya justru menikah di usia 20 tahun dan bercerai dua tahun kemudian. Saya tidak tahu apa motivasi saya menikah dulu, entah cinta, entah karena mantan suami saya itu pernah mengatakan bahwa saya cantik. Atau mungkin karena yang dikatakan Ibu sehari sebelum pernikahan, “Kamu menikah karena memang siap dan ingin atau karena dia satu-satunya lelaki yang mau sama kamu?”
Rupanya, berpuluh tahun saya menghabiskan hidup hanya demi diinginkan orang-orang. Hanya demi memiliki kawan. Hanya demi dianggap ada.
Di usia 22 tahun, ketika saya sudah resmi menjadi janda dengan satu orang anak, saya pergi merantau untuk bekerja di Lobam, Kepulauan Bintan.
Dunia kerja adalah dunia orang dewasa. Dunia ketika orang-orang dilihat bukan dari bentuk fisiknya, melainkan dari keahliannya. Hanya dibutuhkan waktu 3 bulan bagi saya untuk naik jabatan dari operator menjadi clerk. Di situ saya mulai tahu bahwa kulit saya yang legam, bibir saya yang tebal, dan bentuk tubuh saya yang gempal tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan isi kepala saya.
Saat gadis lain nongkrong di depan gang, berhaha-hihi dengan para pemuda, saya membaca. Mungkin itu yang membuat kepala saya ada isinya. Saat gadis lain berpacaran dan nongkrong di mal, saya kursus komputer. Itu yang membuat keahlian saya “diperhitungkan” di dunia kerja.
Saya mulai tumbuh menjadi orang dewasa yang percaya diri.

♥♥♥

Tahun 2005, di Lobam itulah saya bergabung dengan majelis taklim, mulai sering datang ke kajian, dan memutuskan untuk berjilbab. Sebagai sekretaris majelis taklim sekaligus pemred mading Al-Insan, sebulan sekali saya menjadi guru sukarelawan di Teluk Sasah. Di tahun yang sama pula cerpen yang saya tulis mulai dimuat di media.
Relasi saya dengan orang lain pun ikut membaik. Saya mulai berani berbicara, menyapa, atau mengemukakan pendapat di forum-forum diskusi. Untungnya, saya bertemu dengan orang-orang yang menghargai seseorang bukan dari fisiknya.
Saya pulang kembali ke Bandung tahun 2010, bekerja selama setahun di sebuah pabrik tekstil lalu memutuskan untuk berhenti dan menjadi penulis.
Tahun 2012, saya kembali menikah. Setelah pernikahan, tadinya saya mengira bahwa urusan kecantikan sudah kedaluwarsa, tapi ternyata tidak. Iya, saya memang sudah menjadi perempuan yang lebih percaya diri, sudah menemukan dunia yang saya cintai dan ingin saya geluti, sudah menemukan suami yang kepadanya saya ingin berbakti. Sayangnya kecantikan sekali lagi menjadi mata pisau yang merajam ulu hati.
Sembilan bulan setelah pernikahan, suami saya pergi dengan perempuan lain yang lebih cantik dan lebih muda. Perempuan itu berkata dengan lantang bahwa saya memang pantas ditinggalkan karena saya tidak secantik dirinya.
Rasa sakit akibat ditinggalkan adalah stimulan paling hebat yang bisa membuat seorang perempuan nyaris gila. Saya bahkan pernah berniat mengumpulkan uang untuk pergi ke Korea atau Thailand dan operasi plastik. Saya memakai berbagai kosmetik, mengubah gaya berpakaian, diet ketat hingga nyaris bulimia.
Tapi apakah suami saya kembali? Tidak. Maka sejak saat itu saya berhenti ingin menjadi perempuan cantik berdasarkan standar orang-orang.

♥♥♥

Cantik dari hati #1: Menghargai dan merawat tubuh

Tahun ini, usia saya genap 33 tahun. Kulit saya masih legam, bibir saya masih tebal, tubuh saya masih saja sedikit gempal. Tapi saya justru merasa cantik. Sejak bertahun lalu, pasca perpisahan itu, saya sudah melepaskan kata cantik dari sekadar bentuk fisik.

Sebab perempuan cantik bukan hanya mereka yang memiliki paras rupawan atau tubuh menawan. Seorang perempuan dikatakan cantik apabila hatinya juga cantik.
Bagi saya, cantik dari hati adalah ketika seorang perempuan menghargai tubuhnya sebagai anugerah dari Tuhan dan merawatnya dengan baik. Tidak, saya tidak lagi ingin operasi plastik. Di usia kepala tiga ini saya mensyukuri tubuh yang saya miliki dengan cara menjaganya agar tetap sehat dan bersih.
Cantik dari hati adalah ketika seorang perempuan memelihara hubungan baiknya secara vertikal dan horizontal. Hubungan baiknya dengan Tuhan, sesama manusia, dan dengan alam. Perempuan cantik adalah ia yang memegang iman dengan teguh dan bermanfaat bagi lingkungan sosialnya.
Cantik dari hati adalah ketika seorang perempuan memiliki kesadaran bahwa isi kepala juga harus senantiasa dirawat. Tubuh menawan tapi isi kepala berantakan rasa-rasanya bukan hal yang pantas dibanggakan. Perempuan cantik adalah ia yang senantiasa menuntut ilmu, perempuan yang cerdas, seperti Aisyah.
Cantik dari hati adalah ketika seorang perempuan berani menggapai mimpi-mimpinya. Ketika hidup tak hanya dianggap sebagai menunggu mati. “Hiduplah selagi kau hidup,” begitu yang dikatakan Dee Lestari dalam Supernova.
Saya percaya bahwa saya cantik
Cantik dari hati adalah ketika seorang perempuan percaya bahwa dirinya cantik. Ketika seorang perempuan menutup telinga dari raungan orang-orang di luar sana yang mengatakan sebaliknya. Sebab manusia memandang manusia lain berdasarkan apa yang ingin mereka lihat. Menuruti standar kecantikan yang dikatakan orang lain adalah menulis di atas air, sia-sia.
Lagi pula, tubuh mengalami masa kedaluwarsa. Seorang perempuan yang hari ini dikatakan cantik akan menjadi perempuan renta dengan kulit berkeriput suatu hari nanti. Seorang perempuan yang hari ini dikatakan cantik akan menjadi perempuan yang berjalan terbungkuk-bungkuk, pikun, rabun, dan mengalami gangguan pendengaran.

♥♥♥

Hari ini, ketika menulis catatan ini, saya percaya bahwa diri saya cantik dan akan selalu berusaha menjadi cantik. Tidak peduli apa yang dikatakan orang-orang tentang fisik saya. Sebab cantik bukanlah hal-hal di luar sana, melainkan yang ada di dalam sini. Di dalam hati.
Salam,
~eL

20 Comments

  1. July 15, 2016 at 4:51 pm

    Cantik dari hati adalah ketika seorang perempuan memelihara hubungan baiknya secara vertikal dan horizontal.

    di kalimat itu aku langsung mewek mbak. Ini jadi pengingat aku untuk menjaga hubunganku dengan Yang di Atas.

    http://www.talkativetya.com

  2. July 15, 2016 at 5:54 pm

    Mbak Langit, aku sampai nangis bacanya. Meski belum kenal, tapi aku tahu dirimu & hatimu cantik. Salam kenal, Mbak 🙂

  3. July 15, 2016 at 6:31 pm

    Duu haru aku bacanya, smeoga sebagai ibu kita bisa menteladani arti cantik dari hati kepada anak-anak prempuan kita, ya.

  4. July 16, 2016 at 2:07 am

    Tetehhhhh…..terharu sangat….aku dulu dikatain lutung.

  5. July 16, 2016 at 2:45 am

    Terharu bacanya teh :(. Dengan segala label yang melekat itu justru teteh berhasil bangkit dan sadar bahwa cantik itu bukan perkara fisik semata. Tetep semangat ya teh, semoga menang lombanya ! 🙂

  6. July 16, 2016 at 8:24 pm

    Duh, cup cup cup. 🙂
    Aku juga masih memperbaiki hubungan vertikal aku, kok. 🙂

  7. July 16, 2016 at 8:25 pm

    Lebih tepatnya, percaya dan senantiasa berusaha menjadi cantik. Salam kenal juga, terima kasih sudah mampir. 🙂

  8. July 16, 2016 at 8:27 pm

    Uwooo … ada Mbak Naqi. Iya, Mbak. Anak aku juga sering diejek karena kulitnya item. Jadi ya, pengen sih berbagi arti cantik kepada dia juga.

  9. July 16, 2016 at 8:27 pm

    Sekarang mah udah nggak lagi, kan?

  10. July 16, 2016 at 8:29 pm

    Meski butuh waktu berpuluh tahun untuk bisa bangkit. Hahaha.

Leave a Reply