: a late birthday note

Cermin itu berdiri di sana, dari waktu ke waktu, dari tahun ke tahun. Cermin itu berdiri di sana, memantulkan kisah perjalanan orang yang sama, manusia yang sama; aku.

Namun setiap tahun mata di dalam dunia media kaca itu senantiasa berbeda. Mata yang aku lihat di cermin ketika aku menatapnya tanggal 27 Januari kemarin adalah mata perempuan yang telah kenyang memamah bara. Mata yang aku lihat adalah mata perempuan yang telah usang dikelantang asmara. Mata yang aku lihat adalah mata perempuan yang sudah selesai bermetamorfosa.
Ketika aku mencari jejak kesakitan yang tahun lalu ia teriakkan, yang aku dapatkan adalah setapak lapang, meski terjal, tapi lapang. Ketika aku berusaha menemukan remah-remah luka yang tahun lalu bukan hanya serpih melainkan lava menganga, maka yang aku saksikan adalah lapisan-lapisan rumpun angsana dan bebaris akasia.
Dengan hati yang cabik karena gembira, sulur-sulur air mata berteriak keluar. AKU MENANGIS.
Lalu ribuan kupu-kupu menetas dari mataku.

Leave a Reply