Mimpi-Mimpi Buruk Itu Kembali, eL

eL, mimpi-mimpi itu datang lagi. Mimpi buruk yang menyeretku ke dalam labirin paling pekat sehingga aku kembali tersesat. Bukan, ini bukan tentang anak perempuan yang mengajakku pulang di halte bus tempat aku terbaring sambil berlumuran darah. Mimpi yang itu sudah berhasil kutidurkan berbarengan dengan lenyapnya makam putriku. Ini mimpi yang lain lagi, mimpi yang lebih menakutkan lagi.

Aku kembali diseret ke tahun 2009, kembali berada di kamar pengap  penuh baju kotor bergelantungan. Seseorang menyiramkan satu jeriken minyak tanah ke tubuhku hinga payudaraku melepuh dan rambutku berbau tungku. Di dalam mimpiku itu, aku tidak berteriak meminta pertolongan, tidak menangis ataupun meronta-ronta seperti seharusnya ketika sepercik api berada di pinggiran pipi. Perlahan, rambutku terbakar. Alisku terbakar. Wajahku terbakar. Lalu api itu menjalar, menikmati gemeretak daging dan tulangku yang mendesis-desis. 

Aku ingin bangun, sungguh aku ingin bangun. 

Yang terjadi kemudian adalah aku yang nyaris telanjang di belantara pasar dan tatapan orang-orang. Kau masih ingat tanggalnya? Aku tidak, mungkin kita bisa mencarinya nanti di buku harian yang kutuliskan atau di blog ini. Ya, aku kembali ke sana. Ke Nagoya Center yang ramai dengan para pejalan kaki; remaja-remaja kurang hiburan dan orang-orang yang tak tahu bagaimana bersenang-senang. Seorang lelaki mendatangiku dari arah belakang, menyeretku pulang. Aku meronta, kali ini aku meronta. Lalu ia mulai merobek-robek bajuku, menampariku sambil mengataiku perempuan sundal. Dengan pakaian compang-camping aku diseretnya ke tengah jalan, menantang berbagai kendaraan yang berlalu-lalang. Bahkan di dalam mimpi, aku ingin sekali mati.

Seharusnya aku bangun agar mimpi buruk itu tak terus berlanjut, tapi aku tak bangun.



Lalu, tiba-tiba aku berada di penghujung tahun 2011. Masih dapat kudengar gempita terompet di kejauhan ketika seorang lelaki menampar wajahku berkali-kali hingga bibirku berdarah. Apa yang dia katakan, eL? Entahlah, tak begitu jelas kudengar. Ia mabuk, mulutnya berbau alkohol. Pelan-pelan ia mengeluarkan gunting, mendudukanku di bangku. Sambil terkekeh-kekeh, lelaki itu menggunting habis rambutku. Aku menangis, di dalam mimpi itu aku menangis ketika helai demi helai rambutku jatuh ke pangkuan. Samar-samar, masih dapat kudengar lelaki itu tertawa.

Aku tak juga bangun, eL. 

Mungkin kau heran bagaimana mimpi bisa ditandai dengan tahun. Aku juga heran. Tapi ada kalender yang berjejalan di dalam kepalaku sehingga tahun-tahun itu kerap kali tak dapat kupisahkan dari berbagai peristiwa. 

Mimpi buruk itu masih berlanjut. Aku dan seorang lelaki berada di depan penghulu. Bapak dengan baju batiknya yang berwarna hijau ada di depanku dengan wajah ditenggelamkan kesedihan. Itu pasti ritual pernikahan. Aneh memang, seharusnya pernikahan adalah kabar paling menggembirakan setelah kabar kelahiran. Tapi wajah Bapak seolah-olah akan mengantarku ke neraka. 

Setelah itu, aku melihat diriku sendiri di dalam sebuah peti mati. Tahukah kau, eL bahwa selain Tuhan, Izrail adalah lelaki (kalau malaikat memiliki jenis kelamin) yang paling aku cintai. Dalam mimpi itu aku bergembira karena pada akhirnya aku berhasil mati. Tapi mimpi buruk itu memang keparat. Lelaki yang kunikahi membawa pisau dan membelah perutku, tangannya yang berlumuran darah merenggut janin yang tengah kukandung dengan sebelah tangan sementara tangannya yang lain menikam-nikam perutku berkali-kali. Tapi aku tak mati. 

Peti mati itu, dari baunya sepertinya itu kayu mahoni, tertutup rapat, mayat putriku berada di dalam sementara aku menggedor-gedor ingin masuk bersamanya. 

Mimpi itu berakhir dengan hilangnya semua orang. Aku sendirian di tengah kepekatan yang tak bisa kuterjemahkan. Samar-samar, ada tangis bayi di latar belakang. 

Saat itulah aku bangun dari tidur, berteriak janggal seolah-olah tengah dikejar tukang jagal. Samar-samar, masih dapat kudengar tangis bayi di latar belakang.

Leave a Reply