MITOLOGI DAN FIKSI DALAM UTUKKI

Judul : UTUKKI; SAYAP PARA DEWA
Penulis : Clara Ng
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, 2006
Editor : Hetih Rusli
Halaman : 408 Halaman

Mitologi selalu menarik perhatian dan rasa ingin tahu. Sebagian karena sejarahnya, sebagian karena rasa penasaran. Manusia pada dasarnya selalu tertarik untuk mengetahu asal-usulnya, serumit apapun itu. Maka Clara menyediakan sebuah kisah untuk membasuk rasa penasaran itu.

Perjuangan, cinta, pengorbanan, dan perjalanan memahami cinta itu sendiri menjadi tema besar dalam buku ini. Sebuah kisah yang melibatkan dewa dewi mitos Mesopotamia 5ribu SM sampai 2000 tahun setelah Masehi.



Bagaimana karma membelit Celia dan Thomas, bercampur dengan campur tangan Dewa Dewi yang terasa jadi ‘manusia’ di luar kemampuan dan immortalitas mereka. Cerita bergulir di luar konsep ke-Tuhan-an para penganut paganisme, karena ini memang bukan cerita religi, melainkan cerita cinta.
Membuat kisah yang berdasarkan mitos, legenda, dongeng, atau kisah lain yang sudah telanjur menggores sejarah memiliki kelemahan-kelemahan. Pembaca mulai mencari-cari sumber pembenaran dan referensi, sedangkan penulis setengah mati berteriak bahwa bukunya adalah fiksi.
Tidak ada tema baru dalam buku ini sebenarnya; cinta yang yak pada tempatnya, lalu karma, lalu perjuangna, pembuktian cinta, dan sebagainya, dan sebagainya. Tapi cukup menarik karena Clara Ng mengambil mitos sebagai tema besar sekaligus latar.
Namun, kelincahan Clara dalam bercerita tersendat dengan penggambaran latar tempat, emosi tokoh, dan segala penjelasan tentang ‘dunia atas’ yang sebenarnya terasa terlalu berhati-hati.
Aku membaca UTUKKI setelah membaca TIGA VENUS dan JAMPI-JAMPI VARAIYA, dan menemukan perbedaan yang cukup besar dari ketiganya. Membaca UTUKKI seperti menyantap sushi lengkap dengan washabi, terasa asing di lidah sambil celingak-celinguk mencari saus tomat atau cabe yang lebih familiar. Sedangkan membaca TIGA VENUS atau JAMPI-JAMPI VARAIYA lebih seperti menyantap rendang, atau sayur asem, atau masakan lain yang begitu dicecap lidah langusng terasa enak tanpa harus bertanya; ‘rasa apakah ini?’
Well, tapi walau bagaimanapun aku menikmati dialog-dialog Marduk dengan Celia dan Marduk dengan Dewa Ellil. Meski hanya secuil, tapi menurutku yang secuil inilah yang khas Clara.



… mengerti arti cinta sesungguhnya…



Itu yang sedang berusaha dikatakan buku ini. Bahwa cinta itu tidak membelenggu, melainkan membebaskan. Sebebas kita menentukan selera masakan dan bacaan ^_^

Leave a Reply