Sejak ngantor, aku lebih sering berinteraksi dengan komputer dan dokumen daripada dengan manusia. Sejak punya laptop, interaksiku dengan sesama mahluk hidup semakin berkurang. Dengan alasan ngerjain naskah lah, kerjaan kantor lah, hidupku jadi terpusat di benda-benda ini.

Tapi dengan punya Ms. Butterfly (nama laptopku), aku jadi semakin getol berkarya, semakin punya kesempatan untuk menelurkan berbagai macam cerita. Kalau dulu nih, semua karya aku harus ditulis tangan dulu di buku, lalu dibawa ke warnet untuk diketik dan dikirim ke media (yang pada akhirnya nggak dikirim karena aku kebanyakan facebook-an).

Ada kemajuan lain, sekarang nggak usah cape-cape ke warnet lagi karena ada modem. Walau itu adalah fasilitas kantor karena aku emang pegang system, tapi lumayan kalau untuk numpang ngirim e-mail dan nge-blog mah. Hehehehe…

Laptop ada, modem ada. Lantas apakah karyaku semakin banyak dan berkualitas? Jawabannya adalah NGGAK NGARUH. Males mah males ajah. Lho, terus arti kalimat ‘kesempatan untuk menelurkan karya’ di atas itu tadi apa? Nah itu dia, itu kan kesempatan, bukan berarti aku menggunakan kesempatan itu lho ya. Well, setidaknya fasilitas udah ada . Perkara apakah aku menggunakannya sebagaimana mestinya mah, ya gimana nanti aja ^ ^

Oke, kembali ke Ms. Butterfly. Doi adalah spesies laptop segede biji semangka yang lebih dikenal dengan sebutan netbook. Ms. Butterfly dibeli (baca: kredit) dari hasil kerja kerasku lembur dan begadang berhari-hari. Untuk kemudian dipergunakan untuk begadang juga.

Akhir-akhir ini aku sering bikin dokumen memakai Ms. Butterfly, hasilnya adalah peningkatan kadar keboloroan mataku yang dulu cuma minus 1.75, sekarang sudah berganti haluan menjadi -hampir- silinder. Memang bukan salah dia kalau bodinya itu sangat sempit (layar 11″). Juga bukan salah dia kalau selalu memendam dendam kesumat terhadpnya karena dokumenku jadi banyak yang salah gara-gara salah baca di layar.

Beberapa kali Ms. Butterfly dipasangkan dengan USB yang sering bergaul bebas, alhasil sekarang ini dia jadi sering demam karena terkena virus hidden sialan. Dokter Smadav ada, tapi sepertinya Ms. Butterfly mau yang agak berkelas seperti Northon. Sayangnya kapasitas doi sendiri emang terlalu riskan kalau harus dipasangkan dengan Northon. Jadi tak apa, Mas Smadav aja cukuplah.

Ms. Butterfly emang setipe dengan pemiliknya, berantakan dan berdebu. Jadi walaupun aku sering pakai. tetep aja dia berdebu dan hampir korengan. Karena aku mah suka males membersihkannya.

Karena body-nya yang ramping, dia sering aku bawa ke kantor in case kalau aku tiba-tiba kepikiran untuk bikin cerita. Yang kalau ditelaah lebih dalam, belum pernah menulis cerita di kantor karena jangankan untuk bikin cerita, wong nama sendiri aja kadang lupa.

Kalau Ms. Butterfly ini udah cukup umur, rencananya aku mau pasang stiker atau air brush. Dengan ada namaku nempel permanen di bodynya, kemungkinan besar nggak bakalan bisa dijual dan artinya aku nggak bakalan tergoda untuk menjual, menggadaikan, ataupun tindakan amoral lainnya.

…. whoaammm… ngantuk, Ms. Butterfly sepertinya butuh tidur.

2 Comments

  1. Anonymous-Reply
    June 16, 2011 at 1:06 am

    coba pake antivirus NOD, ringan, powerful.
    jangan lupa jaga kesehatan, entar klu sakit entar gak bisa bertelor lagi…eh menelor-in karya kamsudnyah…heheh

  2. Skylashtar-Reply
    June 16, 2011 at 12:43 pm

    kamuh: NOD appah? itu jenis makanan cepat saji ya? Hahaha..thanks, ntar aku coba.
    Iya nih, harus jaga kesehatan dan banyak makan vitamin supaya bisa banyak bertelur.

Leave a Reply