Muara Perpisahan

Aku mungkin perahu timpang yang telah bertambat di dermagamu. Tapi sesungguhnya kita berdua hanya dua helai daun yang mengikuti arus angin nasib. Terseok-seok menunggangi badai, terbang melayang untuk kemudian menghilang.

Kekasih …
Setiap pertemuan akan berujung di muara yang sama; perpisahan. Siklus abadi yang sama-sama tidak bisa kita cegah, sama-sama tidak bisa kita sanggah. Ada tangan-tangan yang meski sekuat tenaga kita berontak tapi tetap saja pada akhirnya kita harus menyerah, pasrah. Aku dan kau sudah cukup lelah, berderai menjadi kepingan, tidak bisa saling mengutuhkan. Lalu, apa yang harus kita genggam selain sakit demi sakit yang kian menggigit?

Kau sudah cukup mengunyah, aku sudah cukup memamah. Barangkali inilah waktunya bagi kita untuk menyerah. Simpanlah apa-apa yang sanggup kau simpan dan aku akan menyimpan setiap jejak, setiap remah, setiap stasi tempat kita masih saling mencintai. Percayalah, suatu saat kita akan merindukan ketika aku dan kau bukan sekadar dua sosok yang saling melemparkan serapah.

Keping-keping doa, akan selalu aku hantar. Semoga kelak, kau dan aku menemukan muara bernama bahagia. Selamat tinggal.

2 Comments

  1. November 30, 2012 at 11:48 am

    hari ini aku berusaha untuk mengalahkan keegoisanku. terima kasih atas pencerahan dari setiap tulisan di blog ini. Menulis itu bahagia

  2. Skylashtar-Reply
    December 1, 2012 at 4:43 pm

    Terima kasih. Sering-sering mampir ya 😀

Leave a Reply