Mungkin Kita

city-1026227_1920

Malam tadi seharusnya kita bergembira, bukan? Bertemu dengan kawan-kawan, bertukar kabar, tawa, jabat tangan, dan pelukan. Tapi entahlah, ingar bingar selalu membuat kita asing. Membuat kita ingin segera menyepi ke tempat sunyi lalu kembali menjadi diri sendiri.

Bahkan sebuah pertemuan yang tak direncanakan kerap kali terasa janggal. Akhirnya kita hanya bertingkah seperti dua orang yang baru saja kenal, atau memang demikian, lalu berpisah begitu saja.  Jadi kau mencariku? Di belantara punggung orang-orang dan lampu temaram? Aku pun mencarimu, tapi tak berusaha keras menemukan. Aku tak suka berpamitan, dengan cara apa pun. Maka kukira lebih baik aku pergi begitu saja, seperti angin, seperti udara yang ada tapi tak pernah benar kausadari ada.

Sejak, kau tahulah, arus pasang gelombang yang kerap membuatku tumbang, aku tak pernah lagi bisa menempatkan diri sebagai kekasih. Aku hanya perempuan, punya banyak urusan, itu saja.

Ya, aku menikmati malam tadi, pertemuan denganmu. Aku masih mengingat aroma tubuhmu, getar suaramu. Meski masih saja terasa asing. Mungkin kita harus bertemu dalam situasi yang berbeda. Bukan di antara puluhan orang. Bukan di antara ingar bingar sebuah perhelatan.  Mungkin kita masih harus bertemu. Lagi.

Leave a Reply