(Pikiran Rakyat, 1 Desember 2013)

Permusuhanku dengan Ibu selalu dimulai dari pertanyaan yang sama: “Kapan kamu akan nadran ke makam anakmu?”. Pertanyaan itu pun berulang setiap tahun di setiap kali kepulanganku ke Babakan. Bagi Ibu, nadran bukan hanya amalan mengingat kematian melainkan sudah menjadi semacam ritual. Dia melakukannya setiap bulan selama bertahun-tahun. Semakin banyak anggota keluarga kami yang mati, maka semakin giranglah dia, karena itu artinya Ibu memiliki satu lagi alasan untuk tetap nadran dan berlama-lama di pemakaman.


Jadwal nadran Ibu adalah di hari Jumat pertama setiap bulan. Jadwal yang kerap kali memusuhi jadwal membayar listrik ataupun pengajian. Jika ada perhelatan di hari Jumat pertama, maka sudah dipastikan Ibu tak akan datang. Dia lebih memilih untuk nadran; menganyam doa di pinggiran makam.

Ibu, di usianya yang merangkak menuju tengah baya, akan menyisihkan sebagian uang belanja yang diberikan Bapak untuk ritualnya itu. Dia memasak satu boboko nasi kuning serta lauk pauk yang tak akan pernah Ibu hidangkan di atas meja makan kami. Ayam panggang, pindang ikan mas, pais peda, urap, sambal terasi, beberapa potong tahu dan tempe yang yang ukurannya cukup untuk tiga orang. Bukan hanya itu, Ibu juga menyiapkan beberapa botol air dalam kemasan ukuran satu setengah liter, sekeranjang bunga rampai yang sepertinya cukup untuk membuat badanmu berbau seperti taman.

Benda-benda yang dianggap sebagai bakti terhadap anggota keluarga yang sudah mati itu dibawa Ibu ke Mak Iti, perempuan paling tua di Babakan. Mak Iti, sepanjang ingatanku adalah indung beurang yang memiliki banyak sekali keahlian. Anehnya,semua kehlian Mak Iti selalu berhubungan dengan kelahiran dan kematian. Di dalam ritual Ibu, Mak Iti berperan sebagai pendoa. Benda-benda yang Ibu bawa akan didoakan, diamini, tapi tak dikembalikan.

“Itu kan sedekah untuk keluarga kita yang sudah meninggal, Sum. Jika semasa hidup aku tak bisa memberikan makanan mewah seperti itu untuk uyutmu, maka sekaranglah masa yang tepat untuk membalas jasa-jasanya. Jadi tutup saja mulut nyinyirmu itu.”
Itu selalu yang dikatakan Ibu jika sedikit saja aku memperlihatkan ketidaksetujuan. Lagi pula, bagaimana mungkin aku mengamini semua yang dilakukan Ibu jika itu malah mendatangkan nasib celaka bagi perut kami, anak-anaknya? Selain menyunat uang belanja yang diberikan Bapak, tak jarang Ibu berutang pada tetangga untuk ritual nadrannya.

Setelah aku dewasa, menikah, memiliki anak, bercerai, merantau ke Batam, sampai aku pulang kembali ke kampung halaman, ritual Ibu itu tak juga usai. Maka setiap kali aku pulang, pertanyaan itulah yang sering kali ia ulang.

*



“Tadi malam aku bermimpi buruk sekali, Sum,” bisik Ibu begitu aku masuk ke dapur. Tangannya yang sedang menyiapkan sarapan sejenak berhenti.

“Mimpi apa?” pertanyaan yang kuajukan tidak berisi keingintahuan barang setetes. Tapi Ibu tak akan berhenti berbicara terlepas apakah aku bertanya atau tidak.

“Aku bermimpi anakmu telanjang sambil menangis di tepi makam, katanya dia kedinginan.”

Aku mendengus. Apa lagi ini? “Lalu?”

“Dia minta dikirimi pakaian,” bisik Ibu. Dengan pandai ia mengatur intonasi suaranya agar dramatis dan mistis.

“Lalu?” aku mengangkat alis, sesuatu yang sangat dibenci Ibu.

“Belilah barang sepotong dua potong pakaian di Pasar Cibogo lalu kirimkan pada anakmu itu. Kalau kamu tak mau, biar aku yang pergi ke pasar dan mengantarkannya ke Mak Iti,” suara Ibu mulai meninggi.

Aku hanya mengeleng-gelengkan kepala, mulai menyapu lantai dapur tanpa banyak bersuara.

“Sum!” panggil Ibu ketika dilihatnya aku tak menggubrisnya lagi. “Kalau kamu tak mau, biar Ibu yang membelinya ke pasar,” ulangnya.

“Bu …,” kubuat suaraku serendah mungkin. “Apa Ibu tahu bahwa anak Teteh sudah meninggal?”

“Ya tentu saja aku tahu, aku kan yang memandikan dan ikut menguburkannya.”

“Apa Ibu yakin kalau Najwa masuk surga?” aku berdiri di ambang pintu dapur sementara tanganku masih menggenggam sapu.

“Bicara apa kamu ini? Tentu saja anakmu yang meninggal sewaktu bayi itu akan masuk surga, juga menjadi pembuka pintunya untukmu, barangkali juga untukku,” suara Ibu masih tinggi.

“Kalau dia masuk surga, berarti dia tak akan pernah kekurangan apa-apa. Untuk apa kita harus repot-repot mengirimkan barang-barang dunia kepadanya?”

Setelah kalimat itu kukeluarkan, Ibu sempurna diam. Entah karena kata-kataku yang bertemu dengan kebenaran di dalam kepalanya, atau karena alasan-alasan yang tidak dapat kuterka. Yang jelas Ibu sama sekali berhenti berbicara.

Tadinya kukira bahwa diamnya Ibu adalah semacam pertobatan, tapi bukan Ibu namanya kalau kegandrungannya terhadap memuaskan mereka yang sudah mati dapat begitu saja dihentikan. Siangnya Ibu justru pergi ke pasar, membeli tiga stel pakaian bayi, mainan, selimut, satu dus susu formula, dan tiga dus makanan bayi. Barang-barang itu dibawanya kepada Mak Iti, dan tentu saja tak kembali.

Setelah berpuas diri dengan mengirimkan sesaji dan ritual nadran yang semakin lama waktunya semakin panjang, Ibu pulang ke rumah dengan raut wajah semringah. Tak lupa ia membawa bekal sebotol air mineral yang telah diberi doa dan memberikannya kepadaku. Agar aku tak lupa pada tradisi, katanya.

Dua hari kemudian seorang tetangga bertandang untuk menagih utang. Utang apalagi kalau bukan utang Ibu, utang yang dipakainya untuk memuaskan mimpi-mimpi dan ritual nadrannya. Tentu saja aku meradang, meski utang itu tetap kubayar.

Mestinya Ibu tahu bahwa kepulanganku ke Babakan tidaklah berbekal berkarung uang. Berapalah gaji seorang buruh pabrik tamatan SMU yang usianya tak muda lagi sepertiku? Aku hanya berhasil menabung tak lebih dari dua juta rupiah, itu artinya aku harus cepat mendapatkan pekerjaan di Bandung jika tak ingin hidupku terkatung-katung. Sebab bagiku, menumpang hidup di rumah orang tua –apalagi dengan kegemaran Ibu- tidak berarti aku bisa menumpang makan dan tidur seenaknya.

*

Permusuhanku dengan Ibu kemudian dimulai dengan pembukaan yang berbeda: “Tadi malam aku bermimpi ….”. Jika di suatu pagi Ibu mengatakan bahwa ia bermimpi, maka aku akan cepat menjawabnya bahwa mimpi baik itu berasal dari Tuhan sedangkan mimpi buruk asalnya dari setan. Dan mimpi buruk jelas tak layak diceritakan.

Biasanya, Ibu akan menutup mulutnya rapat-rapat setelah mendengar sanggahanku. Ia akan dengan senang hati menganggapku batu, tak ingin berbicara atau bertegur sapa. Kedua adikku sudah menikah dan tinggal di rumah yang berbeda, ikut dengan suami-suami mereka. Otomatis, jika Bapak pergi bekerja, aku dan Ibulah yang ada di rumah seharian. Aku tahu, Ibu sengaja menjadikanku orang asing semata-mata karena mulut nyinyirku.

Meski mimpi-mimpi Ibu kerap kali tidak kutanggapi, ia tak lantas berhenti. Ritual nadrannya seakan tak memiliki tepi. Aku sendiri heran, mengapa banyak sekali orang mati yang mengajukan permintaan? Permintaan yang membuat Ibu semakin khusyuk nadran dan berdoa di atas makam, juga semakin khusyuk berutang. Utang yang tentu saja harus aku atau Bapak bayar.

Semakin aku geram, semakin seringlah Ibu pergi ke makam. Karena menolak berbicara denganku, Ibu akan menggerutu sendirian di dapur dengan suara keras agar aku juga bisa mendengar. Dalam gerutuannya, sesekali Ibu seolah-olah sedang berbincang dengan Najwa, almarhum putriku. Dikatakannya bahwa sebagai nenek ia tak akan membiarkan cucunya nelangsa di akhirat sana, tak seperti aku ibunya.

Dalau gerutuannya, sering pula Ibu mengatakan bahwa aku adalah anak sulung yang tak tahu tradisi, tak mengerti agama. Sering kali Ibu menuding-nuding jilbab yang kukenakan dan mengatakan bahwa itu hanya pakaian yang membuatku justru semakin kurang ajar. Semakin tak tahu aturan.

Jika gerutuannya kubalas dengan pertanyaan “Apakah Ibu sudah salat atau belum?”, maka ia akan semakin berang. Semakin memiliki alasan untuk pergi ke makam dan melakukan ritual nadran, meski belum awal bulan. Dan aku, dengan keras kepala akan terus-menerus menolaknya. Sebab bagiku, kematian bukan sesuatu yang harus selalu dirayakan. Bagiku, bersebrangan dengan kepercayaan Ibu, doa tak harus dilarungkan di atas nisan, apalagi jika harus melalui ritual yang dipaksakan. Jika beras di dapur kami yang masih hidup ini kadang ada kadang tiada, untuk apa aku harus berutang kesana-kemari hanya untuk memuaskan keinginan mereka yang jelas-jelas sudah mati?

Bagi Ibu, aku adalah anak yang mengingkari tradisi. Bagiku, Ibu adalah manusia yang selalu menolak untuk mengerti.

*

Setelah bertahun-tahun, permusuhanku dengan Ibu tidak lantas berhenti. Bahkan setelah ia sendiri dihampiri maut; sesuatu yang semasa hidup ia puja sekaligus ia takuti. Ibu, kerap datang ke dalam mimpi dan menggumamkan hal yang sama berulang kali.

“Kapan kamu akan nadran ke makamku, Sum? Aku begitu kesepian dan kedinginan.”

Rupanya Bapak tidak pernah memimpikan hal yang sama. Ketika kubisikkan mimpi itu ke telinga tuanya, ia hanya terbatuk-batuk lantas menghunuskan mata penuh pertanyaan. Mungkin ia sedang menerka, apakah anak sulungnya ini sedang mengarang cerita ataukah sudah berangkat gila?

Namun mimpi itu selalu kembali, selama berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, sehingga aku nyaris tak tahan.

“Pergilah berziarah. Toh doa bisa dipanjatkan kapan dan di mana saja,” kata Bapak setelah beribu kali aku mengeluhkan mimpi yang sama.

“Ibu juga minta dikirimi baju dan selimut,” suaraku parau, berusaha menepis ingatan tentang Ibu yang duduk telanjang di tepian makam dengan mata murka.

Mata Bapak menerawang, mungkin sedang mencari jawaban. “Lakukan apa saja yang kaupercayai, Sum. Ini hanya ikhtiar untuk membuat tidurmu tenang,” katanya.

Maka aku pergi ke makam Ibu tanpa berbekal apa-apa sebab Surat Yasin yang sering dirapal orang-orang ketika ziarah sudah kuhafal di luar kepala, tidak juga berbekal baju atau selimut seperti yang diminta Ibu di dalam mimpi. Sesampainya di pemakaman, kubersihkan ilalang dan daun-daun kering yang berkeliaran di atas kuburannya. Lalu aku mulai berdoa, untuk keselamatan Ibu, untuk ketentramannya di akhirat sana. Itu adalah doa yang sama yang kupanjatkan setiap kali sehabis salat. Tak ada yang berbeda. Benar kata Bapak, toh doa bisa dipanjatkan di mana saja.

Ibu pun berhenti datang ke dalam mimpi. Permusuhan kami telah menemukan tepi.

(Bandung, 27 November 2013)

One Comment

  1. November 26, 2015 at 9:40 am

    Dan tradisi boleh tak ditaati lagi…

Leave a Reply