<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:"Cambria Math"; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman","serif"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoHeader, li.MsoHeader, div.MsoHeader {mso-style-noshow:yes; mso-style-unhide:no; mso-style-link:"Header Char"; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; tab-stops:center 3.0in right 6.0in; font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman","serif"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoBodyText, li.MsoBodyText, div.MsoBodyText {mso-style-noshow:yes; mso-style-unhide:no; mso-style-link:"Body Text Char"; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; text-align:justify; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman","serif"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} span.BodyTextChar {mso-style-name:"Body Text Char"; mso-style-noshow:yes; mso-style-unhide:no; mso-style-locked:yes; mso-style-link:"Body Text"; mso-ansi-font-size:12.0pt; mso-bidi-font-size:12.0pt;} span.HeaderChar {mso-style-name:"Header Char"; mso-style-noshow:yes; mso-style-unhide:no; mso-style-locked:yes; mso-style-link:Header; mso-ansi-font-size:12.0pt; mso-bidi-font-size:12.0pt;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-size:10.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;}
–>

Siang itu seharusnya menjadi siang yang biasa, terlanjur biasa hingga nyaris membuat bosan. Tapi sepucuk undangan hadir melalui jasa kurir. Berwarna lembayung dengan emboss emas nan megah disertai sepasang lily pada sebentuk hati.
Aku mengenalnya, karena aku yang merancangnya. Karena aku sendiri yang memilih warnanya. Tapi kenapa namaku tak ada di sana? Kenapa tak ada cetakan dengan inisial ‘S’? Kenapa nama mempelai perempuan itu diisi oleh nama lain; orang lain?
HANCUR SUDAH!

Cinta seperti apa yang membuat seorang laki-laki sanggup berubah menjadi mesin tanpa hati? Pernikahan seperti apa yang dibangun di atas kepingan hati perempuan lain? Selayaknya kemalangan itu kutangisi, seharusnya banyak dendam yang tersembul dari reruntuhan. Namun istanaku tak pernah ada, kecuali remah cerita yang dulu punya judul, punya paragraf pembuka. Tapi tak pernah memiliki akhir kecuali runcing tebing.

DIAM
AKU HARUS DIAM
Undangan itu kusimpan. Mungkin suatu hari akan ada namaku tercetak di suatu tempat. Entah bersanding dengan nama siapa.
*
Sebesar apa rasa sakit yang bisa ditanggung oleh rongga dada ketika cinta memutuskan untuk berlalu? Bukan dengan cara berpamitan di ambang pintu atau menyelipkan selembar surat perpisahan di atas meja tivi, melainkan dengan langkah derap sembari menunggangi prahara dan halilintar.
Dan aku berdiri di sini, di luar gedung pertunjukkan yang seharusnya dengan aku sebagai pemeran utama. Tapi tidak, kini aku hanya jadi penonton di luar barisan. Aku hanya penikmat pagelaran.
Ikon kekalahan.
Seharusnya aku berlari pulang.
Semestinya aku tak datang, sebab dada ini tak akan sanggup lagi menahan retakan.
Sejenak aku gamang dengan kaki tetap terpancang. Menjadi belukar di antara puluhan tamu lain yang berlalu lalang. Belum terlambat untuk pergi lalu menganggap semuanya tidak terjadi.
Tanpa bermaksud mengulur waktu, kutatap lekat wajah-wajah itu; para tamu, kerabat, teman-teman, pagar ayu dan pagar bagus. Wajah-wajah itu tidak kukenali namun memasang raut bahagia yang sama. Ini acara pernikahan, tentu saja mereka seharusnya bahagia. Aku juga, mungkin… seharunya bahagia.
Sekali lagi undangan di tanganku berdenyar-denyar, seperti berteriak meminta pengakuan. Langkahku tetap berpancang di luar gedung, tak jua menemukan arah yang tepat untuk menyudahi gundah.
Namun kemudian ia melangkah; kaki-kakiku yang malang. Lalu mataku menangkap wajahmu, senyummu, baju pengantinmu, dan tentu saja perempuan yang bersanding di pelaminan bersamamu.
Senyum kalian. Kebahagiaan kalian.
Kamu melambai.
Hatiku meratap sesal, merapal berjuta deretan kesalahan yang barangkali telah kulakukan padamu beribu-ribu hari belakangan; tak ada daftar apapun di sana. Tak ada celah, tak ada satupun salah. Dan kamu tak memiliki setetes pun alasan, begitu juga aku.
Tangan keparat ini menjabat tanganmu, menjabat tangannya. Bibir keparat ini mengucap kata-kata selamat. Dan kaki-kaki nan malang ini berjalan pulang.
Sesudah itu apa? Sejenak kuraba dada untuk mengukur dan menghitung seberapa besar luka yang kalian timbulkan, namun aku tak menemukan apa-apa kecuali lapang. Hati yang kumiliki kini lebih luas dari jagad raya sebab ternyata namamu telah menyublim tak berbekas. Pupus sudah rasa sesak itu.
Dan aku pun terbebas dari belenggumu.
* *

2 Comments

  1. Anonymous-Reply
    December 23, 2010 at 1:01 am

    great, aku suka tulisan ini krn endingnya yang melegakan.

  2. Skylashtar-Reply
    January 17, 2011 at 9:42 am

    anonim : karena merelakan akan membuahkan kelegaan. pernah dengar tentang falsafah pasir di genggaman? nah, barangkali dari sanalah cerita ini berasal. eniwei, selamat merajut kesan!

Leave a Reply