Namamu Malam, Bukan?

 :a war declaration ^^

Hei, kau!  Ya, kau!  Kau yang itu.  Namamu malam, bukan?

Aku sudah sering mendengar namamu dirajahkan dengan tinta merah paling darah, atau dengan tinta hitam paling suram.  Namamu senantiasa disandingkan dengan asmara sekaligus luka-luka… yang entah mengapa sampai sekarang masih kulihat ia menganga.  Aku mengenalmu dan kau juga mungkin mengenalku.  Kita pernah bertemu.  Kau dan senyummu yang berwarna biru dan aku dengan jemari berwarna ungu.  Kau tersenyum, mengangguk, menyembunyikan pisau di punggung.  Aku tersenyum, juga mengangguk, menyarungkan kembali katana di lambung. 

Apa yang kau punya tidak aku punya; magis, manis, dan entah rasa legit apa lagi.  Apa yang aku punya tidak engkau punya; sadis, bengis, mistis, dan rasa apapun yang ditinggalkan oleh waktu.  Kita adalah dua lingkaran venn yang saling berarsiran, melulu bertemu di setiap persimpangan.  Apapun yang keluar dari mulutmu hanya ingin menunjukkan bahwa dalam satu kali teguk, maka langitku akan menjadi hamparan hitam terkutuk.  Namun, tahukah engkau?  Aku memiliki begitu banyak lapisan sehingga kau akan terlalu lelah ketika bergegas melangkah hanya untuk mendedahku dengan amarah. 

Ya, aku memang sudah sering membaca namamu diukir di dinding-dinding bagai mural yang kerap membuat mual.  Namamu dirapal, dihafal, bergelenyar dan selalu berdenyar.  Engkau adalah muara berbagai sebutan.  Tanggal-tanggal tentangmu melekat erat di udara yang jengat.  Segala tentangmu pernah membuatnya kalap, menghantui di setiap lelap.  Ia tergila-gila, mungkin juga sebetulnya sudah gila; kepadamu.

Aku juga tahu, berkali-kali kau mencoba membenamkan kembali taring di bekas luka yang sudah mengering.  Kau berharap ia kembali, berlutut di pesonamu, mengais apapun yang jatuh dari gelapmu.  Tidak merasakah kau?  Bahwa masa-masa kejayaanmu sudah berlalu seiring luruh debu dan deru.  Bahwa kharismamu sudah luluh dan lusuh meski bekas yang kau tinggalkan tetap terkampuh.  Bahwa kegemaranmu akan api kelak akan membakar dirimu sendiri.

Maka berhentilah mencoba!
Berhentilah tertawa di atas luka-luka!

Aku bosan!  Aku lelah!  Aku ingin berhenti dirajam imaji apa pun tentang dirimu.  Engkau adalah sejarah, riwayat yang telah sempurna karam.  Sekammu telah dirajam kelam.  Kau sempurna tiada, malam!

Maka demi segala yang berkecamuk di dadaku yang remuk, enyahlah!  Menyerahlah!  Menepilah!

(Itu sebabnya orang memanggilku langit, sebab apapun yang mendung akan kembali terlarung; di keluasanku)

Sarijadi, 5 Mei 2012   

Leave a Reply