NO, I’M NOT DESERVE TO GET THIS FUCKING SCAR

Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) merupakan hal pelik. Pelaku jarang bisa dijerat oleh hukum karena berbagai alasan. Karena tidak ada bukti kuat lah, atau karena yang dilakukannya memang sudah menjadi kewajiban lah, bahkan seringkali pelaku memanipulasi semua orang sehingga seakan-akan dialah yang menjadi korban.


Perempuan, sebagai pihak yang lebih banyak menjadi korban KDRT sulit untuk mendapatkan pertolongan yang tepat. Sebab dalam masyarakat Indonesia, suami adalah raja dan pemimpin yang mempunyai otorisasi dalam menentukan keputusan. Sedangkan istri adalah abdi yang senantiasa diberi kewajiban untuk menjalankan titah. Hubungan suami istri yang seharusnya sebagai partner hidup berubah menjadi hubungan antara tuan dan budaknya.

Korban KDRT sukar mengajukan tuntutan atau mendapatkan perlindungan hukum. Sebagai contoh, Anda adalah korban KDRT dan berniat untuk mengadukan hal ini kepada polisi. Maka bersiap-siaplah membawa saksi dan bukti. Bukti berupa hasil visum dari rumah sakit. Tanpa hasil visum, jangan harap polisi mau menindak lanjuti. Dan meminta visum pada pihak rumah sakit juga sama susahnya seperti kalau kita minta mereka makan durian plus kulit-kulitnya. Dengan alasan yang sangat manusiawi: BEKAS LUKA TIDAK MEMADAI. So, kalau Anda seorang korban KDRT, usahakanlah agar pasangan Anda menambah pukulan hingga sedemikian rupa. Sampai menimbulkan lebam-lebam yang sangat legam, dan benjolan-benjolan sebesar bola tenis. Jangan lupa untuk tidak melawan saat Anda dibanting atau ditendang supaya tulang rusuk Anda retak, kalau bisa sih patah sekalian. Juga beri sentuhan akhir berupa sayatan pisau atau silet, atau tusukan. Setelah itu, barulah Anda pergi ke rumah sakit dalam keadaan sekarat untuk meminta pertolongan.



Jika Anda berhasil selamat dan masih hidup, maka surat visum akan keluar. Tapi saya beri tips jitu bila Anda sedang berada di rumah sakit: JANGAN SEKALI-KALI MEMINTA BELAS KASIHAN PADA DOKTER ATAU PERAWAT. Sebab mereka tidak diprogram untuk menghadapi kasus-kasus seperti ini.


Setelah Anda mendapatkan hasil visum, bersiap-siaplah pergi ke kantor polisi dengan membawa bukti dan saksi. Di sana pun tidak akan mudah. Terutama bila Anda mempunyai pasangan seorang psikopat yang selalu jadi malaikat di depan semua orang tapi berubah jadi iblis bermulut kotor dan kejam bila sedang berada dengan Anda.


Terus bagaimana dengan saksi dan bukti? Saksi itu adalah manusia. Dan manusia merupakan mahluk yang jalan pikirannya paling tidak stabil. Saksi yang pertamanya menguatkan posisi Anda, bisa saja berubah malah memberatkan.


Bukti juga bisa musnah seketika dengan mantra; “You deserve to get this”


Ini baru tahap interogasi dan mendengarkan pengakuan kedua belah pihak. Jika Anda bukan selebriti seperti Manohara atau Cici Paramida, sidang hanya impian. Kasus ditutup dengan Anda sebagai tersangka pembuat pengaduan palsu. Setelah itu, Anda akan digiring kembali ke pangkuan suami. Kemudian mengalami penyiksaan yang sama, pelecehan yang sama, penghinaan yang sama, sampai … barangkali sampai Anda masuk kubur atau rumah sakit jiwa.



Kenapa KDRT kerap terjadi dan tidak ditangani secara serius sampai sang korban berada dalam tahap akhir: terbunuh oleh pasangannya, bunuh diri, berbulan-bulan koma, atau masuk rumah sakit jiwa? Sebab memang tak banyak yang peduli.


Dalam masyarakat kita, jika si istri membuat kesalahan, lalu ia dilempar gelas oleh suaminya, orang-orang akan berkata begini: “Oh, emang pantes dilempar gelas. Istri macam apa tuh yang kayak gitu?”


Berbeda bila si suami tidur dengan wanita lain, lalu memukuli istrinya karena kepergok. Komentar orang-orang adalah: “Istrinya aja kali yang nggak sanggpu melayani.”
See? Perempuan tetap berada di pihak yang salah.

Silakan anggap tulisan aku ini sebagai omong kosong, tapi jangan kira perempuan-perempuan yang menjadi korban KDRT itu tidak nyata. Jangan kira semua luka itu tidak ada. Dan jangan berani-berani menutup mata.

Dear, ladies. Tolong jangan cekoki otak kalian dengan anggapan bahwa semua luka itu pantas kalian dapatkan. Tidak, kalian, kita, tidak pantas mendapatkan semua luka itu. Lakukanlah apa yang harus dilakukan, tapi yang paling penting, JANGAN DIAM!

==

One Comment

  1. December 28, 2015 at 3:41 am

    Love your statement… “Terutama bila Anda mempunyai pasangan seorang psikopat yang selalu jadi malaikat di depan semua orang tapi berubah jadi iblis bermulut kotor dan kejam bila sedang berada dengan Anda”

    Masih mending kekerasan fisik teh, selalu ada bekasnya… artifisial sekalipun.. kalo kekerasan emosional? how can we prove it? tidak ada bekas yang “membekas”.. perubahan sikap yang dipicu masalah ini justru mengundang kekerasan emosional dari pihak lain yang lagi-lagi seperti katamu teeh…
    “Saksi itu adalah manusia. Dan manusia merupakan mahluk yang jalan pikirannya paling tidak stabil. Saksi yang pertamanya menguatkan posisi Anda, bisa saja berubah malah memberatkan”
    “See? Perempuan tetap berada di pihak yang salah.”
    NO I DON'T DESERVE TO GET THIS..
    I WILL FIGHT MY CORNER…Sooner or later i will get my freedom..

Leave a Reply