NO ‘KRESEK’ ALLOWED

“Nggak usah pakai kresek, nggak apa-apa”

Saking seringnya kalimat itu aku lontarkan, para pemilik warung di sekitar rumahku jadi terbiasa sehingga mereka selalu bertanya apakah aku mau memakai kresek atau tidak. Ya, hampir di setiap transaksi. Dan hampir di setiap transaksi itu pula aku selalu mengatakan tidak. Untuk apa memakai kresek yang baru bisa hancur setelah ribuan tahun jika hanya untuk membungkus satu pak rokok, dua bungkus mie instant, dan serenceng kopi? Toh barang-barang itu masih bisa muat dalam dua genggaman tanganku.

Lama kelamaan, kebiasaan itu menular kepada kasir di minimarket depan gang. Dan karena aku selalu membawa tas besar, maka bisa dipastikan aku tak pernah mau memakai kresek.

Di laci kiri paling atas meja kantorku, penuh dengan kresek hitam kecil yang aku kumpulkan setiap kali aku membeli sarapan. Agak susah membawa nasi kuning atau kupat tahu tanpa kresek, jadi aku mengumpulkannya dan memakai itu untuk kebutuhan lain.

Memang tidak gampang membiasakan diri untuk mencintai lingkungan. Tapi kita bisa memulainya dari kebiasaan-kebiasaan kecil. Setiap berbelanja ke supermarket, aku selalu membawa kantong sendiri. Dulu, itu terasa janggal, tapi karena sekarang ini sudah dikampanyekan besar-besaran, para kasir itu tidak lagi merasa jengah. Juga tidak menganggap aku sebagai mahluk asing.

Well, kalau bukan kita yang menjaga bumi, lalu siapa lagi?

Leave a Reply