Nyala Matahari untuk Kedua Matahari


Yang paling saya khawatirkan dari kematian bukan hanya kehidupan setelahnya, melainkan juga kehidupan yang saya tinggalkan di belakang: kehidupan kedua matahari saya, Salwa dan Aksa. Kerap pula membayangkan bagaimana jika saya sakit parah, bagaimana jika saya mengalami kecelakaan seperti beberapa tahun silam, bagaimana jika …. Sebagai orang tua tunggal, wajar jika kadang-kadang saya dipenuhi kecemasan. Rasa takut dan cemas itulah yang membuat saya waspada ketika mengambil berbagai keputusan sekaligus alert agar saya mempersiapkan pemecahan untuk masalah yang bisa saja datang kemudian.

Tahun ini usia saya 32 tahun, masih produktif dan bisa mengerahkan tenaga kuda untuk menambah penghasilan. Tapi 10 tahun dari sekarang barangkali saya tidak akan lagi bisa mendedah tenaga seperti hari ini, 20 tahun lagi mungkin saya harus sudah pensiun. Kembali ke masalah kecemasan di atas, tapi bagaimana jika usia saya bahkan tidak sampai kepada angka 50? Siapa yang akan menjamin masa depan anak-anak saya? Keluarga saya? Ayah mereka? Sorry to say, tapi itu bukan lagi spekulasi, itu namanya berjudi. Dan saya tidak suka berjudi dengan masa depan anak-anak saya sebagai taruhan.

“Tapi hidup harus optimis. Tidak boleh lho mengharapkan hal-hal yang buruk terjadi.”


Barangkali begitulah yang akan dikatakan orang-orang. Sayangnya, menyimpan rasa optimis saja tidak akan cukup untuk melindungi diri dan anak-anak saya. Lagi pula, saya ini freelancer yang artinya tidak punya asuransi kesehatan, tidak punya jaminan hari tua, bahkan tidak punya slip gaji. Tidak akan ada yang bisa menjamin dan melindungi masa depan kami kecuali saya sendiri.

Maka satu-satunya yang bisa saya lakukan adalah mempersiapkan “matahari” untuk Salwa dan Aksa agar kelak jika sesuatu terjadi pada saya, mereka tidak perlu terlunta-lunta.

*

Analisis Pendapatan

Setiap profesi baik itu karyawan, profesional, maupun pengusaha pastilah memiliki risiko masing-masing. Jika merujuk kepada tiga profesi tersebut, saya termasuk profesional meski skalanya jelas tidak bisa disamakan dengan profesional lainnya, dokter atau pengacara misalnya. Sebagai penata letak lepas, saya memiliki risiko fluktuasi penghasilan. Artinya penghasilan yang tidak tetap setiap bulannya, tergantung kepada jumlah order layout-an yang datang dan yang bisa saya selesaikan. Sesuai artikel yang saya baca di Brighter Life tentang merencanakan keuangan, saya mengelompokkan pendapatan ke dalam dua kelompok dan membuat grafik agar bisa menganalisis fluktuasi pendapatan setiap bulannya. Selain itu, hal ini juga berfungsi agar saya bisa mengetahui apakah keuangan saya cukup sehat selama 6 bulan terakhir.

Saya mengelempokkan pendapatan ke dalam 2 pos:

1. Pemasukan rutin tidak tetap

  • Honor layout

2. Pemasukan tidak tetap

  • Honor menulis
  • Hadiah lomba
  • Online shop
  • Dan lain-lain


Analisis Pendapatan Periode Mei-Oktober 2015
Dilihat dari grafik di atas, pendapatan saya berada di kisaran 3-6 juta per bulan. Juga bisa dilihat bahwa pemasukan rutin tidak tetap 4 bulan terakhir agak menurun, itu karena saya hanya bisa menyelesaikan 1 order layout per bulan. Grafik seperti ini juga memudahkan saya untuk melakukan evaluasi. Mengapa dalam waktu 4 bulan saya hanya bisa menyelesaikan 1 layout? Ini beberapa evaluasi hambatan dan solusi yang saya lakukan:

1. Hambatan teknis

  • PC rusak: service, pinjam netbook adik untuk sementara.
  • Internet: ganti modem dengan jaringan fiber optik.
  • Software: re-instal software.

2. Hambatan non teknis

  • Revisi: berkali-kali revisi akan menambah waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan 1 layout-an, solusinya adalah memberikan konsep beberapa halaman kepada editor sebelum membuat layout keseluruhan isi buku. 
  • Aksa: dalam 4 bulan terakhir Aksa agak sering sakit, jika itu terjadi biasanya saya tidak memberikannya kepada pengasuh, itu artinya siang hari saya tidak bisa bekerja. Solusinya, jaga imunitas Aksa dengan memberikan makanan bergizi, menjaga kebersihan lingkungan, dan memerhatikan terus tumbuh kembangnya.
  • Acara lain: kurangi datang ke acara-acara penulisan yang tidak memiliki urgensi tinggi.
  • Ide: perbanyak membaca buku, browsing ide, dan membaca tutorial untuk meningkatkan keahlian. 


Persentase Pendapatan Periode Mei-Oktober 2015
Jika dibuat persentase selama kurun waktu 6 bulan, akan didapatkan angka 77% pendapatan dari pemasukan rutin tidak tetap dan 23% dari pemasukan tidak tetap. Lalu bagaimana mengelola pendapatan yang fluktuatif seperti ini? Goal saya adalah pengeluaran rutin tetap ter-cover sekaligus masih bisa menyediakan perlindungan bagi saya dan anak-anak saya.

*


Analisis Kebutuhan

Sebelum merencanakan pengelolaan keuangan masa depan, saya tentu harus menganalisis kebutuhan terlebih dahulu. Mengapa demikian? Agar saya bisa menemukan jenis perencanaan dan perlindungan paling tepat untuk saya dan keluarga. Berikut kebutuhan saya:

1. Dana kesehatan untuk saya dan keluarga
2. Asuransi jiwa untuk saya dan keluarga
3. Dana pendidikan anak-anak
4. Tabungan
5. Dana pensiun


Dengan pendapatan berkisar 3-6 juta, apakah saya mampu memenuhi 5 poin di atas? Agak sulit memang, itu sebabnya saya harus menganalisis pengeluaran terlebih dahulu agar bisa menemukan angka yang realistis. Kan tidak lucu kalau saya langsung mengalokasikan sejumlah dana sementara pengeluaran-pengeluaran rutin belum ter-cover.

*


Analisis Pengeluaran

Saya membagi pengeluaran ke dalam 3 pos:

1. Rutin tetap

  • Kos : Rp500.000 
  • Pengasuh : Rp600.000 

2. Rutin tidak tetap

  • Biaya hidup : Susu dan diapers Aksa, MPASI, biaya makan, biaya sekolah Salwa, dan lain-lain. 
  • Pulsa : Karena 6 bulan terakhir masih memakai modem, jadi biaya yang dikeluarkan berubah-ubah, tergantung kuota yang saya habiskan. 
  • Utang : 10% dari total penghasilan. 

3. Tidak rutin

  • Buku 
  • Baju Aksa 
  • Biaya hiburan 


Analisis Pengeluaran Periode Mei-Oktober 2015


Jadi selama 6 bulan bekerja keras, uang yang berhasil saya sisihkan hanya Rp352.800. Jika mengacu kepada yang dikatakan Safir Senduk, saya termasuk golongan agak-agak miskin. Jika terus-menerus seperti ini, paling banyak saya hanya bisa menyisihkan Rp58.800 per bulan untuk rencana masa depan. Cukup? Jelas tidak.

*


Rencana Masa Depan

Masih mengacu kepada artikel yang saya baca di Brighter Life, saya akan memakai rumusan yang direkomendasikan oleh Elizabeth Warren, profesor dari Harvard: 50-30-20.

  • 50% : pengeluaran rutin tetap + pengeluaran rutin tidak tetap 
  • 30% : pengeluaran tidak rutin 
  • 20% : tabungan 

Jika dirata-ratakan, penghasilan per bulan saya adalah Rp4.565.333. Maka dana yang bisa dialokasikan untuk rencana masa depan adalah Rp4.565.333 x 20% = Rp913.067. Dengan keterbatasan dana seperti ini, saya harus memilih apakah akan menggunakan asuransi, tabungan, atau sekaligus investasi?

Sulit mengelola keuangan yang minim seperti ini, padahal saya ingin mempersiapkan perlindungan menyeluruh bagi kedua anak saya. Solusi yang saya ambil adalah menetapkan skala prioritas. Yang pertama, perlindungan kesehatan bagi kami bertiga. Kedua, asuransi jiwa bagi saya yang menjamin dana pendidikan bagi Salwa (11 tahun) dan Aksa (15 bulan). Ketiga, tabungan dan atau dana pensiun.

1. Perlindungan kesehatan

Sepertinya saya harus memilih asuransi kesehatan dari pemerintah yang preminya cukup terjangkau, Rp127.500 atau 14% dari total alokasi dana.

2. Asuransi jiwa + dana pendidikan

Saya mengalokasikan dana sebesar Rp700.000 atau 77% untuk asuransi jiwa sekaligus dana pendidikan untuk Salwa dan Aksa. Mengingat biaya pendidikan yang akan terus mengalami inflasi, sebetulnya ini belum cukup, tapi baru sampai inilah kemampuan saya.

3. Tabungan dan atau dana pensiun

Sisa dana hanya Rp85.657. Ini tidak saya masukkan ke dalam tabungan jangka panjang karena saya masih harus menyediakan dana cadangan jika sewaktu-waktu ada keperluan mendadak. Kecil memang, tapi namanya juga menabung, sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. 



Alokasi Rencana Masa Depan


Mengapa pada akhirnya saya lebih memilih asuransi jiwa, bukan murni tabungan pendidikan bagi anak-anak saya? Karena saya memperhitungkan risiko-risiko kematian di awal tadi, juga memperhitungkan benefit yang akan saya dapat. Dengan kata lain, satu kali mendayung dua tiga pulau terlampaui.

Merencanakan masa depan dan mengelola keuangan memang bukan hal yang mudah bagi orang awam seperti saya, apalagi dengan pendapatan minim dan tidak menentu. Tapi, inilah hal terbaik yang bisa saya lakukan untuk kedua matahari saya Salwa dan Aksa: mempersiapkan nyala matahari agar kelak jika sesuatu terjadi dan saya harus pergi, tak ada harapan yang harus padam. Setidaknya, saya sudah mempersiapkan perlindungan agar mereka terus menyala, melanjutkan hidup, dengan atau tanpa saya.~


Salam,
~eL

Tulisan ini diikutsertakan dalam SUN ANUGERAH CARAKA KOMPETISI MENULIS BLOG 2015


19 Comments

  1. Abah Raka-Reply
    October 25, 2015 at 10:59 pm

    Detil euy…semoga menang lombanya ya

  2. October 25, 2015 at 5:45 pm

    Tulisanmu selalu keren. Semoga menang.

  3. October 26, 2015 at 1:27 am

    Seperti biasa, mohon doa untuk Ibu Ketua. Hahahah.

  4. October 26, 2015 at 1:28 am

    Pamer anggaran ini mah. Hahaha.

  5. October 26, 2015 at 1:55 am

    Semangat ya mama salwa aksa

  6. October 26, 2015 at 3:16 am

    Keren…as usual….
    Menang…menang… :))

  7. October 26, 2015 at 8:20 am

    Aiiih, menenangkan sekali mbaaak, baca postingan ini 🙂

  8. October 26, 2015 at 9:07 am

    Iya nih, harus sudah mulai serius mempersiapkan dana pendidikan buat anak-anak.

  9. October 26, 2015 at 9:08 am

    Amin. 🙂

  10. October 26, 2015 at 9:08 am

    Kalau keluar jiwa keibuannya emang gini tulisan saya mah. Hahaha.

Leave a Reply