#NyalaUntukYuyun

098308700_1462189060-Capture_3

Sebelum meneruskan membaca, saya meminta Anda untuk sejenak memejamkan mata lalu membayangkan wajah perempuan yang paling Anda cintai. Saya ingin bertanya, jika perempuan yang paling Anda cintai itu ditemukan tewas di kedalaman jurang, tanpa busana, tangan terikat, vagina dan tubuh penuh bekas luka akibat diperkosa 14 orang lelaki, bagaimana perasaan Anda? Bagaimana perasaan Anda jika ternyata 12 orang pelaku yang berhasil ditangkap hanya diancam dengan hukuman 30 tahun penjara?

Ironisnya, dari 3 pasal berlapis yang konon menjerat para pelaku, tidak ada satu pun pasal tentang pemerkosaan. Satu pasal perlindungan anak, satu pasal pembunuhan, satu pasal mabuk-mabukan di muka umum.

Nasib nahas itulah yang terjadi pada Yuyun, remaja 14 tahun di Bengkulu sana. Ia diperkosa oleh 14 orang lelaki lalu dibuang ke jurang dengan tangan terikat. Sekarang, silakan Anda bayangkan kematian macam apa yang telah menimpanya. Kejadian seperti ini, bukan sekali dua kali terjadi. Yuyun muncul ke permukaan karena ia tewas. Kasus-kasus pemerkosaan lainnya hanya jadi mimpi buruk, korban-korban berusaha menangani rasa sakitnya sendiri tanpa berniat meminta bantuan. Mengapa? Satu, karena hukum di Indonesia masih memanjakan para pelaku. Dua, karena korban pemerkosaan lebih sering di-bully beramai-ramai. Tiga, karena kita tidak teredukasi dengan baik dan menganggap bahwa pemerkosaan adalah aib alih-alih tindakan kriminal.

Oh iya, saya tahu betul bagaimana rasanya. Usia saya 19 tahun ketika diperkosa oleh 3 orang. Ketika saya bercerita kepada seseorang, jawaban yang saya dapatkan adalah, “Siapa yang suruh kamu keluyuran malam-malam?”

Kasus-kasus pelecehan seksual lainnya pun berujung di muara yang sama: justru korban yang kemudian disalahkan. Bukan itu saja, korban di-bully beramai-ramai. Dikatai memakai baju seronoklah, karena pergi sendirianlah, karena pergi malam-malamlah, dan sebagainya, dan sebagainya.


Kematian Yuyun menjadi martil bagi hukum di Indonesia. Sayangnya, karena beberapa pelaku masih di bawah umur, saya tidak begitu yakin kalau kasus ini akan tertangani dengan baik.

Yang membuat saya lebih sedih, bagaimana jika Yuyun tidak tewas? Akankah dia mendapat keadilan? Ataukah hanya berakhir seperti P, korban pemerkosaan oleh paman dan kakak sepupunya sendiri di Jambi sana? Iya, para pelaku divonis bebas. Atau seperti kasus pelecehan seksual lain yang mandek di pengadilan karena pengadilan menganggap korban dan pelaku melakukannya suka sama suka padahal si perempuan masih di bawah umur?

Itu tidak terjadi berpuluh tahun silam, Saudara-Saudara. Itu terjadi bulan April dan Januari tahun ini.

Mau sampai kapan? Harus berapa banyak lagi anak-anak perempuan kita yang tewas? Harus berapa juta lagi perempuan yang bertarung dengan masa lalunya karena tidak bisa mendapatkan keadilan? Dibutuhkan berapa banyak lagi Yuyun agar hukum di Indonesia menjadi payung perlindungan bagi masyarakatnya?


Sebanyak 75% kasus pemerkosaan tidak muncul ke permukaan. Kasus-kasus pemerkosaan yang pada akhirnya muncul pun kerap luput dari kita. Awak media dan para netizen lebih suka mengawal isu-isu yang jauh lebih besar. Kasus pemerkosaan tanpa kekerasan atau jika korban tidak tewas mengenaskan, malah mengalami nasib yang lebih buruk: korbanlah yang dianggap pesakitan.

Pemerkosaan, dengan atau tanpa kekerasan, bukan hanya kejahatan terhadap perempuan, melainkan juga kejahatan terhadap kemanusiaan.

Yuyun sudah pergi, yang bisa kita lakukan hanyalah mengirimkan doa agar ia tenang di sisi-Nya, juga agar keluarganya senantiasa diberikan ketabahan dan kekuatan. Tapi, atas nama kemanusiaan, saya mengajak Anda untuk ikut serta “mengawal” kasus ini. Saya mengajak Anda untuk tidak lelah menyuarakan keadilan.

Kematian Yuyun akan sia-sia jika pada akhirnya hukum tetap mati suri seperti hari ini. Mari, lebih menjaga diri. Mari, lebih berempati. Mari, lebih peduli. Mari, lebih teredukasi.

Puan, Tuan, tidak mudah bangkit dari trauma pasca pemerkosaan. Perdamaian saya dengan tragedi itu ditandai dengan bekas luka di pergelangan tangan kiri.

Jangan sampai ada saya yang lain. Jangan sampai ada Yuyun yang lain.

Salam,
~eL

 

20 thoughts on “#NyalaUntukYuyun

  1. irsalina husna azwir Reply

    Pantasnya para pelaku pemerkosaan dihukum rajam di muka umum, atau di potong kemaluannya, karena kalau hanya hukuman 30 tahun atau hukuman mati, masih terlalu mudah bagi mereka para binatang itu menjalaninya.
    Saya ngg bisa membayangkan bagaimana yuyun ketika itu, semoga Allah SWT menempatkan yuyun disisinya, dimaafkan segala kesalahan, disucikan ia dalam surga Allah SWT. 😢

    • Langit Amaravati Post authorReply

      Kasus pelecehan seksual memang sulit, Wit.

  2. Maya Siswadi Reply

    Ohh ancaman hukumannya 30 tahun? Kapan hari baca hukumannya malah cuma 15 tahun. Org kayak gini pantasnya dihukum mati aja

  3. Desy Yusnita Reply

    Penjara dan hukum kebiri harus ditegakkan. Jika atas nama HAM pemerkosa tidak di kebiri, perempuan jg berhak mengusung nama HAM, untuk berkehidupan secara Aman dan nyaman.

    • Langit Amaravati Post authorReply

      Iya, masih dikaji dan ditentang oleh para aktivis HAM. Ke mana coba para aktivis HAM ketika korban pemerkosaan meminta keadilan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *