[ODOP] Berziarah ke Masa Lalu Melalui Sinetron Tahun 90-an

Memang benar, setiap generasi memiliki tantangannya sendiri-sendiri. Pun dengan generasi 90-an yang tumbuh besar ketika stasiun televisi mulai ada di Indonesia. Diawali dengan TVRI, lalu RCTI, kemudian stasiun televisi lainnya. Saya mengalami masa transisi itu. Masa ketika permainan kucing-kucingan di tegalan berganti dengan menonton Candy-Candy dan Doraemon. Masa ketika meraut buluh layang-layang sudah tak menarik lagi, digantikan dengan duduk diam di depan televisi dan menonton Ksatria Baja Hitam.

Ngomong-ngomong soal televisi, tentu tak lepas dari yang namanya sinetron. Di tahun 90-an, perfilman Indonesia sedang mati suri, digantikan dengan hadirnya puluhan sinetron yang layak maupun tidak layak tonton. Well, terlepas dari kualitasnya, sinetron-sinetron inilah yang menurut saya justru membentuk karakteristik generasi 90-an yang waktu itu masih kanak-kanak dan berada di fase remaja. Televisi, sejak kemunculannya pertama kali hingga hari ini, memang layaknya gurita yang tentakelnya mengubah benak dan pemikiran banyak orang. 

Saat televisi yang asalnya barang mewah menjadi barang wajib punya di setiap rumah, ketika euforia menular dan mengular, saya justru kesepian. Iya, saya menonton televisi, sesekali. Iya, saya pernah menjadi penggemar berat film kartun Jepang seperti Sailormoon dan Wedding Peach. Iya, saya pernah menonton Losmen, Sitti Nurbaya, Keluarga Cemara, dan sinetron lainnya. Tapi tidak semua episodenya, itu pun saya sudah tidak ingat lagi jalan ceritanya. 

Tapi, kalau ditanya apa sinetron favorit ketika kecil dan remaja dulu, saya akan menjawab: TIDAK ADA. Iya, tidak ada.

Ya mau bagaimana lagi. Ketika teman-teman saya menonton Jin dan Jun, saya lebih suka menonton Hercules. Ketika nyaris semua keluarga di Indonesia menggemari Si Doel Anak Sekolahan, saya malah belajar “sihir” gara-gara nonton Charmed.

Well, okay. Waktu kecil dan remaja dulu saya lebih banyak membaca cerpen-cerpen di Majalah Gadis, Anita, Aneka, dan Mode alih-alih menonton televisi. Jadi apa atuh inti dari curhatan enggak jelas ini? Ya, intinya sih bahwa tayangan televisi bisa menginspirasi kehidupan seseorang, bisa juga menjadi sekadar hiburan yang ditonton lalu dilupakan. 

Mengingat kembali sinetron Indonesia tahun 1990-an bagi saya seperti memasuki gorong-gorong ingatan atau berziarah kepada masa lalu. Sayangnya, tak banyak yang saya temukan di situ. Saya hanya menemukan seorang anak perempuan yang pernah bermimpi menjadi Sailor Mercury atau Ranger Ungu. Seorang anak yang “terasing” dari lingkungannya karena lebih suka membaca buku di atas genting daripada menonton Si Manis Jembatan Ancol. Seorang anak yang tidak pernah mau dibelikan topeng Saras 008 atau topi Tersayang.  

Seorang anak yang … “bermusuhan” dengan televisi. Sampai hari ini.

Salam,
~eL

Please feel free to share

10 Comments

  1. April 27, 2017 at 11:10 am

    Tersayang, inikah rasanya…

    Kalau sekarang, dunia terbalik

    • April 30, 2017 at 1:08 am

      Kalau sekarang Anak Langit, Anak Jalanan, re-make Anak Menteng.
      Lagi musim kali ya sinetron berjudul “anak”? Bwahahah.

  2. April 24, 2017 at 1:08 pm

    Mbak… Endingnya syahdu. Baca buku lebih asyik daripada nonton tivi ya, Mbak 🙂

  3. April 23, 2017 at 11:34 pm

    serial candy candy favorit gw banget tuh, sampe akhirnya bela2in beli komiknya pake uang lebaran, hihihi..

    • April 25, 2017 at 11:06 am

      Barang siapa yang menonton Candy-Candy, maka masa kecilnya bahagia. Hahaha.

  4. April 23, 2017 at 9:32 pm

    Aku penggemar sailormon mbaaakkk hahaha…..
    Habis baca ini jadi kangen sailormon,huhu

  5. aguspinokio-Reply
    April 23, 2017 at 9:31 pm

    Baju lebaran anak masa kini yang lebih diwarnai oleh wajah ganteng dan cantiknya pemeran sinetron 😮

Leave A Comment