[ODOP] Isra Mikraj dalam Ingatan

Saya tidak merayakan Isra Mikraj, atau lebih tepatnya, tidak lagi merayakan hari raya agama apa pun. Tapi, Isra Mikraj atau yang sering disebut Rajaban mau tidak mau memberikan kesan tersendiri. Pertama, karena saya tinggal di lingkungan Muslim, maka aura Rajaban masih terasa. Kedua, karena hal-hal tentang perjalanan Nabi Muhammad dan turunnya perintah salat 5 waktu ini pernah pula lekat dalam kehidupan, juga ingatan. 

[heading centered=”yes” margin_bottom=”no” large=”yes” background=”no”]Rajaban dalam Ingatan[/heading]

Dulu, semasa kecil, Rajaban adalah salah satu hari raya yang dinanti-nanti selain Idul Fitri dan Idul Adha. Ini karena Rajaban dirayakan dengan amat meriah. Di kampung kami, Babakan Sukaresik, ibu-ibu akan membuat nasi tumpeng, berjenis-jenis penganan, dan minuman tradisional. Di malam Rajaban, biasanya digelar panggung yang diisi dengan tausyiah, hiburan semacam qasidah, atau lomba-lomba seperti tilawah. Ini juga malam ketika kami bisa kelayapan tanpa kena rotan. Hahahaha.

Rajaban juga berarti latihan menabuh rebana dengan Kang Didi. Saya kebagian bass 2 yang beratnya membuat bahu pegal selama berminggu-minggu. Anehnya, tak ada satu pun dari kami yang mengeluh, kami justru bahagia. Well, mungkin juga karena kami dihadiahi gamis dan jilbab baru. 😀

Setelah dewasa, ketika saya masih Muslim (jangan tanya kenapa, ceritanya panjang) dan aktif di majelis taklim di Lobam sana, Isra Mikraj diwarnai dengan pertentangan antara apakah Rajaban pantas dirayakan ataukah bidah belaka. Setiap kali menjelang Rajaban, nyaris selalu ada “perang ayat” di antara orang-orang ikhwan dengan orang-orang salafi. FYI, saya berorganisasi dengan orang ikhwan, tapi ngaji dengan orang salaf, jadi setiap kali “perang ayat” ini terjadi, saya selalu berada di tengah-tengah. Lucu memang melihat mereka itu, keduanya merasa diri paling benar, merasa diri akan masuk surga sedangkan yang lain masuk neraka. 

Sebagai pengurus inti, fundamental di satu sisi, tapi tetap moderat di sisi lain, saya tak pernah bisa memihak meskipun dipaksa. “Kalian yang mau merayakan, rayakanlah! Yang tidak, sudah diamlah,” itu yang selalu saya katakan. Karena bagi saya, sepanjang syahadatnya sama, sepanjang rukun islam dan imannya sama, sepanjang tata cara salatnya sama (ngomong-ngomong, tata cara salat ini juga sering pula dijadikan bahan “perang”), rajaban atau tidak, Muslim ya Muslim.

Apakah ketika menjadi pengurus majelis taklim itu saya merayakan Rajaban? Tidak, saya tidak merayakannya, tapi tidak pernah pula menolak jika dimintai bantuan untuk mempersiapkan perayaan atau menjadi salah satu pengisi acara (biasanya sari tilawah). Lucunya lagi, kelakuan saya yang ngehe ini kerap membuat saya dicap munafik. Well, saya pribadi malas gontok-gontokkan tentang perkara-perkara furuiyah, jadi cap yang mereka lekatkan tak pernah saya ambil pusing.

“Yang harus kalian pusingkan bukan siapa yang merayakan Isra Mikraj dan siapa yang tidak, tapi siapa yang tidak melaksanakan salat lima waktu sesuai yang diperintahkan,” begitu kata saya selalu. Meskipun yaaa … tidak semua yang setuju. Tapi, sudahlah. 

[heading centered=”yes” margin_bottom=”no” large=”yes” background=”no”]RAJABAN HARI INI[/heading]

Selama nyaris empat tahun tinggal di Cimahi, saya tinggal di lingkungan Muslim konvensional. Maksudnya, mereka yang beribadah tanpa banyak cingcong. Di sini, Isra Mikraj dirayakan dengan tausyiah di masjid-masjid, meski tidak semeriah ketika saya masih kecil. 

Beberapa hari sebelum Rajaban, biasanya Ibu Kos akan datang ke kamar, “Ceu, nanti kalau ada yang minta sumbangan untuk Rajaban, kasih aja, ya. Itu sudah disetujui Mamih, kok,” begitu jelasnya. 

FYI lagi, di sini, setiap pungutan harus melalui persetujuan Mamih. Dan ya, saya senang melihat remaja-remaja tanggung mendatangi rumah demi rumah untuk meminta sumbangan biaya Rajaban. Bagi saya, itu bukan hanya simbol kemandirian ekonomi, tapi juga simbol toleransi. 

Oh, dan satu lagi yang saya ingat. Meskipun tidak pernah ke masjid untuk mengikuti perayaan, tapi saya selalu kebagian satu plastik penganan. Siapa lagi kalau bukan “ulah” tetangga kosan.

“Ini untuk Aksa,” kata Bude, tetangga kosan yang selalu memiliki alasan untuk membagikan makanan. 😀

===

Demikian curhat saya kali ini. Jika ada beberapa konten yang sekiranya Anda kira agak sensitif, saya memohon maaf. Saya tidak bermaksud menyinggung, itu hanya bagian dari cerita saya dalam proses pencarian Tuhan. Mohon jangan adukan saya sebagai penista agama atau apa. #eh

Untuk Anda yang Muslim, saya ucapkan selamat merayakan Isra Mikraj. 

Salam,
~eL

15 thoughts on “[ODOP] Isra Mikraj dalam Ingatan

  1. Ihan Reply

    Dulu pas masih SD aku pernah tampil nembangin kasidah pas rajaban, bareng teman teman hehehe.

  2. Zia Reply

    Di tempat aku rajaban kemarin hanya ada pengajian di masjid. Dulu waktu aku kecil sering ada panggung tabligh akbar dan ada hiburan-hiburan nasyid atau qasidah. Rame banget. Hehehe.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *