Orang Sakit Boleh Miskin, Tapi Tidak Boleh Bodoh

Saya jadi tahu sebabnya mengapa orang kaya lebih suka berobat ke rumah sakit swasta daripada harus ke rumah sakit pemerintah. Selain pelayanan dan fasilitas yang lebih prima, keahlian tenaga medis di rumah sakit swasta juga tidak membuat tekanan jiwa.
Dokter memang bukan dewa, tapi bagi masyarakat awam seperti saya, ke tangan para dokter inilah harapan untuk sembuh saya larungkan. Bukan hanya harapan akan obat dan penanganan yang tepat, tapi juga analisis dan diagnosis yang benar. Bagi saya, dokter adalah decision maker. Kalau dokter ahli yang tingkat pendidikannya tinggi saja tidak bisa mengambil keputusan, apatah lagi saya, pasien yang tidak pernah mencecap bangku perkuliahan?
*

BARAK PENDAFTARAN
Awal Agustus tahun 2012. Saat itu usia kandungan saya sudah 44 minggu, telat tiga minggu dari perkiraan kelahiran. Setiap kali berdiri atau berjalan, seperti ada ribuan jarum yang menusuk-nusuk perut bagian bawah saya. Rasa sakit yang tidak tertahankan.
Berbekal SKM (Surat Keterangan Miskin) yang saya dapat setelah membayar 100 ribu rupiah kepada seorang kader PKK, datanglah saya ke Rumah Sakit Hasan Sadikin untuk pemeriksaan kehamilan. Sebelumnya saya sudah diperiksa di RS Hermina Pasteur dan bayi saya didiagnosis anenchepalus. Seharusnya saya melahirkan di RS Hermina, tapi karena biaya persalinan di sana minimal 5 juta, jumlah uang yang bagi saya dan keluarga adalah neraka, saya terpaksa ke RSHS dengan harapan mendapatkan penanganan dengan kualitas yang sama tapi tanpa biaya.
Situasi di loket pendaftaran non umum poliklinik RSHS mengingatkan saya pada barak evakuasi pasca bencana di negeri antah berantah. Ratusan orang sakit dan keluarganya di kursi ruang tunggu, petugas di loket yang bermuka masam mengancam, dan percakapan orang-orang yang berisi berbagai macam keluhan.

Lucunya lagi, saat jam istirahat makan siang, semua loket ditutup selama satu jam. Bagi saya ini menggelikan sekaligus mengerikan. Di tempat pelayanan publik swasta, mereka mengenal yang namanya shift, bahkan untuk istirahat, di rumah sakit umum besar ini malah tidak ada. Padahal pasien pemegang SKM, SKTM, dan asuransi jaminan kesehatan lainnya di ruang tunggu ini tidak sedikit yang memiliki penyakit kronis. Ada yang ginjal, lever, usus buntu. Mereka tidak semua datang dari kota Bandung, sebagian besar datang dari luar kota dan harus berangkat dari kota asal dini hari agar sampai di rumah sakit pagi-pagi.   

Orang lapar bisa menunggu, tapi orang sakit tidak.

Setelah menunggu kurang lebih empat jam di loket pendaftaran, saya pun mendapatkan ‘tiket’ untuk diperiksa ke poli kandungan. Poli kandungan artinya sebuah ruangan persegi panjang dengan tiga kamar periksa yang disekat ‘seadanya’, dokter yang entah ada di mana, perawat senior (saya tidak ingin menyebutnya tua) dengan suara menyakitkan telinga, para koas yang berlalu lalang, dan seribu perawat magang yang memandang saya seperti memandang sampel jaringan kodok di meja laboratorium.
Perawat magang yang menimbang berat badan saya bahkan tidak bisa menggunakan timbangan manual lalu kebingungan kalau saja saya tidak berbisik berapa berat badan saya.
“Tulis saja 63 Kg. Terakhir ditimbang tiga hari lalu berat badan saya segitu,” bisik saya. Satu karena kesal, kedua karena kasihan melihat wajahnya yang kebingungan.
Perawat magang itu meringis tapi memandang saya dengan tatapan berterima kasih. Kalau petugas medis yang mereka miliki setolol itu, saya sendiri heran mengapa rumah sakit tidak menggunakan timbangan digital saja.
Proses pemeriksaan adalah momok yang lain lagi. Saya harus terus-terusan mengangkang sementara satu per satu dokter ahli kandungan melakukan pemeriksaan vaginal tanpa berhasil membuat keputusan. Memang, atas petuah kader PKK yang membuatkan SKM itu, saya tidak boleh menyebut-nyebut soal diagnosis dokter di RS Hermina. Karena katanya, dokter di rumah sakit pemerintah akan merasa ‘terhina’.
“Masa iya periksa awal di rumah sakit swasta yang mahal terus karena kurang biaya baru ke rumah sakit pemerintah? Nanti dokter-dokter di sana tersinggung dan takutnya tidak mau memeriksa,” begitu penjelasan kader PKK tersebut.
Setelah siang sampai sore diperiksa (USG dengan mesin kecil, detak jantung bayi, cek darah, ratusan kali pemeriksaan vaginal) oleh lima orang dokter kandungan, tak satu pun hasil diagnosis saya dapatkan. Para tenaga medis berkumpul, berdiskusi, bertanya-tanya ada apa dengan kandungan saya sementara saya dan suami (yang sudah tahu akar permasalahannya) hanya menahan geram. 

Di RS Hermina, dengan ditangani oleh satu orang dokter dan satu orang perawat, empat tahap pemeriksaan (pemeriksaan dalam, detak jantung bayi, USG, dan rontgen) diagnosis didapat dalam waktu 45 menit. Tanpa bermaksud membanding-bandingkan keahlian antara tenaga medis di rumah sakit swasta dan pemerintah, tapi Anda tentu bisa membayangkan betapa jomplang keahlian mereka.
*

PASIEN SANDIWARA

Esok harinya saya mengulang kembali prosedur yang sama, duduk berjam-jam di ruang pendaftaran, kemudian diperiksa berkali-kali tanpa hasil pasti. Tahap terakhir adalah USG dengan mesin yang lebih besar di rumah sakit yang sama. Anehnya, dokter yang konon ahli itu juga tidak bisa memberikan kesimpulan apa-apa. Ia hanya memberikan keterangan bahwa kepala bayi saya tidak terdeteksi di rongga panggul.
Sambil membawa hasil cetakan USG, saya dan suami kembali lagi ke poli kandungan. Di lorong rumah sakit, sambil menahan nyeri di perut bagian bawah, akhirnya saya mengajukan usul kepada suami agar kami bermain sandiwara. Jujur, saya ingin sekali meneriakkan hasil diagnosis sebelumnya ke telinga mereka. Kalau perlu, akan saya tunjukkan rekap medis dari RS Hermina. Tapi jika itu saya lakukan, saya takut pihak rumah sakit akan membatalkan SKM yang saya bawa. Kalau sampai surat itu tidak berlaku, kami akan membayar biaya perawatan dan persalinan nanti dengan apa?
“A, bagaimana kalau kita bersandiwara?” ide itu saya lontarkan kepada suami ketika kami berjalan di lorong.
“Maksud kamu?”

“Gini aja deh. Nanti, kalau dokter kandungannya bertanya tentang apa yang dibilang dokter USG, kita pura-pura saja bahwa dokter itu bilang anenchepalus. Gimana?”
Suami saya berpikir sebentar. “Tapi kan ga ada tulisannya di sini,” ia mengacungkan hasil USG dan secarik kertas.
“Nggak masalah itu mah, serahkan sama Teteh,” kata saya.
Di poli kandungan, saya menyerahkan hasil USG itu kepada dokter yang sedang bertugas (dokter yang berbeda dari hari sebelumnya). Ia membaca dan menyelidiki hasil USG tapi tidak mengatakan apa-apa kecuali bergumam-gumam. Mungkin ia sedang mengingat-ingat pelajaran sewaktu sekolah kedokteran dulu. Mungkin juga ia sedang berusaha keras mengambil kesimpulan dari kepingan puzzle hasil pemeriksaan.
Saya menunggu. Menunggu pertanyaan ‘keramat’ itu ia ajukan.
“Hmmm … jadi, apa kata dokter di ruang USG?” dokter perempuan di depan saya itu mengetuk-ngetukkan bolpoin di bibirnya.
Nah, kan. Saya memasang wajah pasien yang bodoh dan tak tahu apa-apa.
“Nggg … tadi sih dokternya bilang ada masalah dengan bayi saya, apa ya namanya? Itu lho yang kelainan kepala itu. Anan … anen … hmmm … lus lus gitu,” saya melirik suami saya.
Anenchepalus,” ujar suami saya. Untungnya dia bisa juga berakting.
Kalau ini adegan film kartun, mungkin saya bisa melihat ada pijar bola lampu di atas kepala dokter di depan saya itu.

“Ah iya betul. Anenchepalus!” serunya agak sedikit riang. Keriangan yang tidak pantas mengingat jawaban itu bukan benar-benar didapat dari koleganya.
Beberapa dokter yang masuk ke ruang pemeriksaan di poli ikut-ikutan melihat rekap medis saya. Dengan bangga, mereka mengangguk-angguk, berkata satu sama lain bahwa diagnosis itu sudah mereka perkirakan sejak semula. Diagnosis yang sayangnya tidak akan pernah saya dapat jika saja saya dan suami tidak pandai berpura-pura.
Seorang dokter berbaik hati menghampiri kami di ruang tunggu poli dengan maksud untuk menjelaskan apa itu anenchepalus. Selain memberikan keterangan bahwa bayi saya kemungkinan besar tidak akan hidup lama, dokter itu juga memberikan penghiburan agar saya dan suami bersabar.
Kalimat-kalimat penghiburannya saya terima dengan gembira tapi keterangannya saya anggap sia-sia. Karena sebelum pergi ke rumah sakit saya sudah riset di internet. At least, saya tidak datang dengan kepala kosong.
Mereka memutuskan bahwa saya harus dirawat inap agar segera melakukan persalinan. Sore itu juga, setelah melengkapi kelengkpan administrasi bagi pasien pemegang SKM, saya dipindahkan ke ruang bersalin. Kelengkapan administrasi adalah memersiapkan puluhan fotokopi berkas-berkas. Kalau ada yang kurang lengkap sedikit saja maka petugas di loket bersangkutan akan memberikan petuah yang akan membuat sakit hati siapa saja.
Tempat fotokopi di rumah sakit itu adalah cerita yang lain lagi. Saya tidak pernah melihat tempat fotokopi seramai itu selain di kampus-kampus jika mendekati ujian. Dengan hanya dua mesin dan dua orang operator, antriannya bisa membuat para pasien yang sakit semakin sakit.
*
PASIEN TONTONAN

Ditangani oleh enam dokter ahli kandungan yang semuanya laki-laki, dua orang perawat senior, tiga orang koas, dan lebih dari lima orang perawat yang sedang magang, proses bersalin berhasil saya lalui. Tiba-tiba kamar bersalin saya lebih ramai dari pasar. Vagina dan rasa sakit saya menjadi tontonan.
Kalau saja saya dan suami memiliki banyak uang, mungkin saya akan memilih untuk melahirkan di rumah sakit swasta agar saya tidak ‘dipermalukan’. Tidak menjadi objek praktik hanya karena bayi saya yang memiliki kelainan mampu bertahan selama 9 bulan di dalam kandungan.
Kalau saja saat itu saya memiliki uang lima juta, mungkin saya akan memilih bersalin di ruangan yang nyaman, bukan di ruangan seperti barak dengan dua orang pasien lain yang tak henti-hentinya berteriak.    

Tapi pengalaman ini menghantarkan kesadaran bahwa saya boleh saja miskin, tapi tidak boleh bodoh. Sebab kalau saya bodoh, mungkin para dokter di RSHS akan memerlukan waktu berhari-hari sampai menemukan kesimpulan pasti. Jika itu yang terjadi, barangkali bayi yang saya kandung akan terlanjur mati. Atau mungkin, saya yang akan terlebih dahulu mati. 

*

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog “Wajah Sistem dan Regulasi Kesehatan di Indonesia” dengan subtema (1) Praktik pelayanan kesehatan di Indonesia (pengalaman berhubungan dengan pelayanan kesehatan).





32 Comments

  1. Langit Amaravati-Reply
    December 11, 2013 at 2:58 pm

    Aku langganan rumah sakit dan mengoleksi kartu berobat, jadi punya banyak komparasi pelayanan kesehatan. Pengalaman yang satu ini memang 'inspiratif', inspiratif untuk memilih rumah sakit swasta daripada kena tekanan jiwa 😀

  2. Langit Amaravati-Reply
    December 11, 2013 at 3:20 pm

    Ketika saya memeriksakan diri ke rumah sakit yang sama beberapa bulan lalu (nyaris setahun setelah kejadian itu), para dokternya masih kebingungan. Dan tak ada peningkatan di loket pembayaran kecuali kursi di ruang tunggu yang sekarang lebih 'modern'.

  3. December 11, 2013 at 2:53 pm

    Alhamdulillah sampai swkarang belum pernah dirawat di RS dan semoga enggak teh. Sehat2 wae yaaa… Orang temen saya luar yang kebetulan keluarganya sakit di INA geleng2 kepala (dugem kali geleng2)

  4. December 11, 2013 at 3:10 pm

    Kenapa saya nggak kaget ya dengan pengalaman di atas? Semoga tulisan ini bisa menginspirasi pemerintah dan pemberi layanan kesehatan untuk menjadi lebih baik.

  5. Langit Amaravati-Reply
    December 12, 2013 at 7:38 am

    Kultur dan kesadaran masyarakat akan kebersihan juga harus dijaga kali ya?

  6. Langit Amaravati-Reply
    December 12, 2013 at 7:47 am

    Itu berita gembira. Semoga RSHS berubah semakin baik.

  7. December 12, 2013 at 3:50 am

    Tempat antrian fotocopy, biasanya bak menjadi tempat tadah air liur bagi pasien yang “Chah chuh” meludah dimana mana. Rumah sakit memang sarang penyakit, apalagi di RS pemerintah

  8. December 12, 2013 at 6:55 am

    ALhamdulillah mungkin RSHS Sudah berubah, kemarin saya merasa sangat terbantu sekali oleh para pelayannya.

  9. December 13, 2013 at 3:56 am

    Sesungguhnya Allah itu tdk pernah tidur, Maha Melihat dan Maha Adil…

  10. December 13, 2013 at 3:56 am

    Sesungguhnya Allah itu tdk pernah tidur, Maha Melihat dan Maha Adil…

Leave a Reply