Pada Akhirnya Cinta

 

:Lelaki yang kerap menyiksa mimpi
 
 
Pada akhirnya, setapak ini harus aku mamah sendirian.
 
Peta yang kau sisipkan di helai daun-daun kenanga di ujung jalan itu tidak menyebutkan nama-nama jalan kecuali ruas ingatan tentang suara-suara dan wajah yang kian hilang.  Adakah mereka selalu bisu dicumbui tunggu dan waktu?  Ataukah engkau sedemikian gemar meracau sehingga suaramu sendiri parau.  Telah kau rapalkan pertanda demi pertanda pada setiap bongkah kerikil yang aku temui, namun wajahmu sendiri pasi. 
Setiap kelokan yang kau janjikan membuatku patung dan risau.  Bagaimana tidak jika pesan-pesan yang kau hantarkan kian pudar disapu tangis gerimis.  Kian hari kian miris.  Kesabaranku sendiri dikelantang prahara hingga ia kelaparan dan tergugu di sudut-sudut jalan.
Adakah engkau benar-benar hilang, Am?
Lalu kemana harus aku sampaikan kabar-kabar dari gelisah dan racau galau jika engkau tak mampu lagi mendengar?  Lalu bagaimana aku tahankan kepundan gigil jika kampuh yang kau pinjamkan kerap kali berkhianat? 
 
Janin-janin luka, yang kau titipkan di rahimku tak lagi berbaring diam, mereka menohok dan merobek dada, kemudian beranak luka-luka yang lain, sakit yang lain. Punggungku sudah puas menahankan berbagai macam arah mata angin, berisi banyak nama dan wajah.  Ia kian tertelikung, sedemikian lelah tumpah. 
Tahun-tahun yang aku pakai untuk mencarimu kerap disesaki sampah serapah, buih-buih tangis perih, kerpak-kerpak letih, dan segerombolan pisau-pisau tajam mengiris dada.  Semua itu aku papah demi mendapatkan peta yang benar; peta yang tak juga kau berikan.
Itukah engkau, Am?
Yang tiba-tiba datang dari sudut ketiadaan… untuk menemaniku menempuh sisa perjalanan.  Tapi, mengapa nama yang aku dengar dari mulutmu bukan namaku melainkan nama yang lain?  Nama perempuan lain.
(Bandung, 2 Feb 2012)

Leave a Reply