Malam itu, kususuri jalan Yos Sudarso bersama kaki yang terpincang-pincang. Sebab luka menganga di lutut masih meneteskan darah dan menimbulkan rasa pedih serta nyeri. Bersama lebam di leher, di bahu, di pipi, dan banyak lagi di tangan kanan dan kiriku.
Sweaterku koyak di bagian dada. Celana tak apa-apa, tapi merah bernoda darah di bagian lututnya. Isak dan gugu tangisku sendiri adalah satu-satunya suara yang mampu kudengar. Aliran air mata terasa asin di ujung bibir, membuat tenggorokanku tersekat dan merasa sangat haus.
Keadaanku benar-benar mengenaskan. Seperti habis diperkosa sepuluh orang pejantan berahi lalu disiksa.
Otakku sama sekali tak bisa bekerja. Tak bisa mengingat. Tak bisa mencerna. Tak bisa menetralisir suasana. Maka aku teruskan berjalan di bawah bayang-bayang pepohonan.
Irama yang dapat kurasakan di tengah-tengah deru jalanan hanyalah degupan jantungku sendiri. Nyeri dan perih hatiku sendiri. Yang lainnya, aku tak ambil peduli.
Aku menyebrang jalan, meski tak tahu akan kemana. Kaki yang terasa nyeri, seluruh tubuh yang remuk redam dan perih di hati membuatku tak mempedulikan sekitar. Sehingga sebuah truk bermuatan kontainer nyaris menggilasku. Suara klakson nyaring memecah malam, beberapa pengendara berteriak bersahutan. Saat itulah aku sadar, bahwa aku masih hidup dan harus segera menghindar.
Kalut, berada di seberang jalan dengan selamat. Kemudian memori yang sebelumnya sempat terhenti perlahan-lahan membanjiriku dengan lintasan ingatan dan peristiwa. Bahwa hidup bersamanya tak lagi berharga untuk dijalankan.

One Comment

  1. August 2, 2009 at 1:31 pm

    Mengobati, sembuh dan melanjutkan perjalanan dengan semangat yang baru tanpa menoleh kebelakang mungkin akan membuat hidup jadi lebih baik.

Leave a Reply