Foto dipinjam dari Indoprogress

Tak banyak yang bisa saya ingat tentang Partai Komunis Indonesia (PKI) kecuali film-film mengerikan yang menghantui masa kecil dan kebohongan yang dirajahkan dalam pelajaran sejarah. Dulu, saya membenci PKI sebagaimana anak-anak generasi 90-an membencinya. Saya mengutuk mereka karena telah membunuh jenderal-jenderal pembela negeri. Saya takut kepada mereka karena tega membunuh dengan cara-cara di luar nalar. Saya menganggap bahwa PKI adalah orang-orang atheis, mereka yang tak bertuhan dan pantas masuk neraka.


Saya, produk generasi yang tumbuh bebal, yang dungu karena doktrin-doktrin pemerintahnya sendiri.
Bahkan, ketika beberapa tahun silam Gusdur menggulirkan wacana untuk mencabut Ketetapan MPRS Nomor XXV/1966, saya termasuk orang yang menentang. Waktu itu, saya masih bebal, masih dungu.
Namun, sejak bergaul dengan kalangan seniman tahun 2012, saya mulai membedakan antara komunisme dengan atheisme. Sejak bergaul dengan mereka-mereka yang bukan hanya menjadikan buku-buku Pram sebagai kitab suci, tapi juga dengan bangga memproklamasikan diri sebagai orang kiri, saya mulai mencari dan membaca berbagai literasi tentang PKI meski sulit sekali mendapatkannya. Tak banyak yang saya baca karena memang tak banyak buku yang tersedia. Meski sejak saat itu “kebencian” saya terhadap kata komunisme perlahan-lahan terkikis. Tapi tidak, saya tidak lantas menjadi kiri. Tidak pula kanan.
Ya bagaimana mau menentukan “posisi” jika di satu sisi saya mendukung rekonsiliasi peristiwa 1965, sedangkan di sisi lain saya juga menentang pembredelan Ahmadiyah dan Syiah? Saya hanya berdiri di atas kanal kemanusiaan. Tidak kurang, tidak lebih.

FAKTA-FAKTA DI DEPAN MATA

Film Pengkhianatan G30S/PKI sudah dilarang diputar, buku-buku Pram mulai beredar terang-terangan, novel Ronggeng Dukuh Paruk versi asli tanpa sensor Orba dicetak ulang dan dibuat film, buku 1965 yang tebal dan mahal itu nangkring di rak toko buku tanpa rasa takut. Bahkan bukan sekali dua kali saya berbincang dengan anak-anak yang orang tuanya dituduh PKI. Mereka, adalah orang-orang patah hati yang dikucilkan di negeri sendiri.
Namun, setelah semua itu pun, saya masih belum menemukan “kebenaran” yang saya perlukan agar bisa menebus rasa bersalah atas dosa-dosa kedunguan saya di masa lalu.
Hingga pada suatu hari naskah itu datang di meja kerja saya. Naskah berjudul 101 Fakta & Mitos Kontroversial Seputar Gerakan 30 September. Tugas saya hanya menata letak, sebetulnya. Tapi tak urung jua saya membacanya, kata per kata.
Dari seluruh buku yang saya kerjakan untuk Grasindo, itu adalah buku paling menekan. Buku yang merobek-robek ingatan saya tentang PKI selama ini. Bab demi bab menyajikan fakta-fakta yang acap kali harus membuat saya berhenti, menyesap kopi, lalu termenung di depan komputer, lama sekali.
Dengan alasan untuk menghayati, saya bahkan mengerjakan tata letak sambil ditemani lagu Genjer-Genjer-nya Lilis Suryani. Lagu itulah yang selalu diidentikkan dengan PKI dan Gerwani.
Saya marah, marah sekali ketika sampai di bab fakta tentang peristiwa Lubang Buaya. Iya, jenderal-jenderal itu memang dibunuh. Tapi dengan cara ditembak, bukan dikebiri, bukan dicungkil mata, bukan disayat-sayat layaknya binatang seperti yang dipropagandakan Orba selama berpuluh-puluh tahun itu. Saya berduka untuk mereka, sungguh. Tapi saya lebih berduka atas mimpi buruk yang dipropagandakan Orba.
Saya marah dan sedih ketika membaca kisah-kisah para perempuan Gerwani, organisasi yang sebetulnya tidak memiliki afiliasi politik dengan PKI. Betapa mereka, perempuan-perempuan itu diciduk, disiksa, diperkosa. Untuk apa? Untuk kesalahan yang tidak mereka lakukan. 

PENGAKUAN ALGOJO 1965

Buku yang saya tata letak itu membawa saya ke muara yang lain: Pengakuan Algojo 1965: Investigasi Tempo Perihal Pembantaian 1965. 
Anda yang sudah pernah membaca buku ini dan mengaku sebagai manusia pasti setuju bahwa kita masih memiliki utang sejarah. Pembantaian berjuta-juta rakyat Indonesia sama sekali bukan tentang isu komunisme, bukan tentang atheisme, juga bukan tentang pembalasan atas peristiwa Madiun. Ini murni politik dunia, ketakutan Amerika karena saat itu Bung Karno lebih dekat kepada Rusia. 
Kita … hanya boneka.
Anda tahu bagaimana orang-orang malang ini dibantai? Tidak, saya tidak ingin menjelaskannya. Apakah mereka benar-benar atheis? Banyak dari mereka yang mengucapkan dua kalimat syahadat sebelum lehernya ditebas. Hanya akting agar menyelamatkan nyawa? Tidak, Bung, Nona. Mereka memang beragama. 
Anda tahu berapa ratus ribu yang mati hanya karena dituduh PKI padahal sebetulnya tidak? “Ditulis tonggong” kalau kata nenek saya. Tidak, mungkin Anda tidak tahu karena data faktualnya selalu ditutup-tutupi.
Pada tahun 1965, ada daftar nama yang dipegang oleh RPKAD, daftar nama itulah yang disebarkan kepada NU dan para algojo lainnya. Para algojo yang dibayar untuk menghabisi nyawa sesamanya. 

KOMUNISME DAN RASA TAKUT KITA

Bung, Nona. Berpuluh tahun kepala kita dicekoki dengan rasa takut terhadap PKI, terhadap komunisme. Kita dipaksa menghemat nalar, dipaksa berhenti mencari hal yang benar. Kita ditakut-takuti dengan kekejaman palu dan arit. Padahal, jangankan untuk bangkit, untuk menghilangkan tanda di KTP saja orang-orang malang ini tak kuasa. 
Bung, Nona. Pada saat diskusi sastra bertema Tan Malaka dibredel FPI karena dianggap menyebarkan paham komunis, Indonesia masih menduduki peringkat ke-60 dalam hal literasi dan minat baca. 
Pada saat seorang mahasiswa dihajar orang di jalan hanya karena memakai pin yang mirip lambang PKI, anak-anak perempuan kita diperkosa hingga tewas dan belum ada satu pun undang-undang yang memberikan keadilan. 
Pada saat buku-buku yang dianggap kiri diberangus, hutan-hutan kita dibakar untuk kepentingan para pengusaha.  Para petani diusir dari tanahnya sendiri.
Pada saat kita ditakut-takuti dengan isu PKI, harta dan kekayaan kita digerogoti para wakil rakyat sendiri. 
Bung, Nona. 
Mau sampai kapan isi kepala kita dipasung? Kalau harus takut, bukankah kita harus lebih takut kepada anjing-anjing yang duduk di kursi pemerintahan tapi tidak melakukan apa-apa selain memeras kita dan memperkaya diri mereka? Kalau harus takut, bukankah kita harus lebih takut kepada propaganda-propaganda yang mengekalkan kebodohan kita? Kalau harus takut, bukankah kita harus lebih takut kepada orang-orang dungu yang mengatasnamakan agama lalu meneror kita? 
Selama berpuluh tahun, ketika Orba berkuasa, buku-buku sebagai produk intelektual dijegal dan dilarang beredar. Para penulis yang dianggap kiri dibuang. Penyair yang dianggap vokal dihilangkan.
Hari ini, ketika seluruh dunia melesat maju dengan dunia digital, kita masih ribut soal buku kiri yang bahkan tidak sanggup kita beli. Orang-orang sudah siap-siap tinggal di planet lain dan kita masih diadu domba dengan isu komunisme? Yang benar saja. 

Bung, Nona.

Tahukah Anda bahwa untuk menghancurkan sebuah bangsa, yang pertama kali harus dilakukan adalah membuat bangsa itu tetap dungu? Dan maukah Anda menjadi orang-orang dungu yang isi kepalanya dipasung? Yang matanya ditutupi terus-menerus? 

Hari ini buku yang dibakar. Esok mungkin giliran kita. Anda takut dengan komunisme? Takut terhadap sesuatu yang tidak Anda ketahui? Maka bacalah, karena takut terhadap sesuatu yang berada di kegelapan kadang lebih mengerikan daripada menghadapi setan yang berada di hadapan.

Selamat Hari Buku Nasional!

~eL

Share This