PASTI BOHONG,DEH!

‘Masa sih?’
‘Pasti bohong, deh’
‘Hare gene kagak punya hape? Capek deh’
‘Nggg… kayaknya aneh ajah’

Beberapa komentar seperti itu sering kudengar saat aku mengatakan bahwa aku tak punya hape. Banyak yang merasa heran, sebagian diucapkan dengan nada tak percaya, sebagian lagi dengan nada kasihan.

Aku mulai merasa bahwa tidak punya hape sama dengan tidak punya kepala, atau tidak punya kaki. Mereka merasa heran, kenapa aku bisa bertahan hidup tanpa benda satu itu. Hey, asal kalian tahu yah. Aku bernafas menggunakan oksigen, bukan pake pulsa. Dan sampai sekarang aku masih memutuskan memakan nasi sebagai menu utama, bukan telepon. Jadi, ya, aku masih bisa bertahan hidup tanpa benda itu.

Kantorku mempunyai 2 line telepon, satu nomor fax. Jadi, untuk urusan kerja, siapa pun bisa menghubungiku. Dari senin sampai sabtu. Dari jam 8.30 – 17.00. Selain itu, skpe-ku online selama aku kerja. YM juga ada. Dan aku memiliki empat alamat email yang semuanya aktif. Tak ada alasan bagi orang-orang utnuk mengeluh karena tidak bisa menghubungiku.

Yah, satu-satunya kesulitan adalah bila harus menghubungiku di luar jam kerja. Tapi, bagiku itu tidak penting. Sebab aku (hampir) tidak pernah punya urusan dengan siapa pun di luar jam kerja.

Manusia kadang terlalu tergantung kepada teknologi untuk menyelesaikan urusan-urusannya. Itu tidak bisa dipungkiri. Tapi aku tak mau diperbudak teknologi. Aku hanya mau memanfaatkan teknologi secukupnya, tanpa harus diperbudak olehnya.

Bagiku, hape tetap kebutuhan tersier. Bahkan pada saat semua orang menganggapnya sebagai kebutuhan utama setelah makan dan pakaian.

***

Leave a Reply