PELAJARAN HIDUP DARI PUTRIKU

Putri sulung saya; Salwa, baru berulang tahun yang ke lima bulan Desember kemarin. Tapi cara dia belajar tentang hidup seringkali menohok saya sebagai Bundanya, juga sebagai orang dewasa.

Sudah menjadi aturan di keluarga kami, kalau anak-anak nonton TV harus didampingi. Untuk pengawasan dan penjelasan. Salwa ini termasuk anak yang suka bertanya, mengemukakan pendapat, dan kritis. Ketika di TV ditayangkan berita tentang keadaan korban lumpur lapindo, saya jelaskan pada dia bahwa kami harus banyak bersyukur karena masih punya rumah untuk berteduh, punya nasi dan lauk untuk dimakan, sedangkan mereka tidaklah seberuntung kami.

Maka, saat Ibu saya mengeluh tentang harga minyak yang semakin naik, gas elpiji yang langka, dan segala macam pernak-pernik dapur yang semakin tak terjangkau. Salwa dengan mimik polosnya berkata: “Eh, Mamih (sapaan dia pada Ibu)nggak boleh ngeluh. Kita lho masih untung karena masih punya rumah, punya makanan. Orang yang di TV itu kasihan lho, Mih. Makannya cuma sama mie rebus. Iya kan, Bunda?” ia meminta persetujuan saya. Saya hanya mengangguk sambil nyengir. Anak ini!

Di rumah saya di Bandung, minyak tanah sempat mencapai Rp 8.000,- per liter, itu pun tak tersedia. Sedangkan bantuan gas elpiji 3KG dari pemerintah belum datang. Tabung gas 12Kg kami sudah lama dijual.[!_!]. Jadilah kami sekeluarga memasak memakai kayu bakar. Kebetulan di halaman masih ada lahan untuk dapur darurat. Tetangga pun kadang numpang masak di situ. Salwa ribut bertanya-tanya, “Kok kita masak di sini Bunda? BBM naik lagi ya?”. Waduh, anak lima tahun kok ribut soal BBM, pikir saya. “Tapi alhamdulillah ya, Bunda. Kita punya hawu (tungku) buat masak. Jadi nggak usah pakai minyak tanah, hemat…” dia nyengir. Sekali lagi hati saya tertohok. Ya, Salwa memang tak tahu mengenai bolongnya lubang ozon di atas sana. Yang penting baginya, kami masih bisa memasak meski tak ada minyak tanah.

Suatu hari Bibi saya meminta bantuan untuk menjaga putrinya yang sakit. Ia masih sibuk di warung ketika itu. Salwa sambil berjalan mengiringi saya, menekuk wajahnya.
“Kenapa?” tanya saya.
“Sahda sakit ya, Bunda?”
“Iya, kita ke rumahnya, yuk. Nemenin dia biar dia cepet sembuh.”
“Nggak bawa apa-apa boleh?”
“Boleh,” jawabku. “Kita kan masih bisa menghibur dan mendoakan.”
“Kalau abdi (aku;sunda) punya uang mah, kita bisa bawa apel.”

Di rumah Bibi saya, Salwa langsung menghampiri Sahda dan memegang keningnya.
“Maaf ya, abdi ke sini nggak bawa apa-apa. Sasa cepat sembuh. Abdi temenin di sini deh.”
Sasa hanya mengangguk dengan muka pucat.
Kemudian Salwa mengambil selimut dan menyelimuti Sahda, setelah itu tangannya menengadah, mulutnya komat-komit.
“Ya Allah, mudah-mudahan Sasa cepat sembuh, supaya
bisa main lagi sama abdi. Mudah-mudahan abdi bayak rezeki, supaya nanti bisa beliin Sasa apel. Amin…”
Hati saya diliputi rasa haru.

Ketika adik perempuannya meninggal. Ia dieemmm terus. Kerjaannya melamun. Saya tahu dia sedih, karena dia ingin sekali punya adik, bahkan ikut pilih-pilih waktu belanja baju bayi.
Saya memeluknya, membenamkan ia ke dalam rengkuhan saya.
“Bunda, ade Najwa sekarang sama siapa?” tanyanya.
“Sama Allah, sayang…” suara saya agak serak menahan tangis.
“Di mana itu?”
“Di surga,” karena cuma itu yang saya tahu.
“Nanti kita ketemu lagi nggak?” binar matanya mengharap.
“Pasti, kalau kita jadi orang baik, kita pasti ketemu lagi sama Najwa.”
“Kalau gitu, abdi mau jadi orang baik,ah. Biar masuk surga, biar ketemu sama ade Najwa.”
“Amin…semoga malaikat menulis niatmu, semoga Allah memperlancar usahamu menuju itu, Nak.” getar saya dalam hati.

Dan masih banyak pelajaran dan hikmah yang saya petik dari putri kecil saya….

-sky-

Leave a Reply