Pelecehan Seksual, Kapan Akan Berakhir?

Lagi-lagi, berita pencabulan dan pemerkosaan diangkat ke media. Korban pun berasal dari berbagai lapisan usia. Mulai dari balita umur empat tahun sampai nenek-nenek renta tujuh puluh tahunan.

Pelaku kejahatan ini juga tak hanya orang dewasa. Remaja belasan tahun pun ikut-ikutan. Aduh, apa sih yang terjadi dengan orientasi sex semua orang?
Tiga orang laki-laki mencabuli seorang balita umur empat tahun di sebuah tempat bilyard. Apa enaknya coba? Kalau laki-laki yang pikirannya normal nih, mending sama istri di rumah, enak dan halal. Nggak ada istri? Kenapa harus bocah balita yang jadi korban? Apa gunanya ada PSK? Ups! Maaf, nggak bermaksud kasar dan membenarkan prostitusi lho ya. Lha, daripada ngerusak anak orang!

Ya, aku tahu jadi laki-laki itu nggak gampang. Perzinahan diharamkan, sementara objek rangsang seksual bertebaran di mana-mana. Perempuan-perempuan half naked lalu lalang di depan mata. Tapi… nggak lantas harus perkosa anak gadis orang kaaaaannnnnn????!!!

Jujur, sebagai perempuan aku sakit hati banget membaca berita-berita itu. Mungkin sudah saatnya perempuan belajar bela diri; taekwondo, wushu, jiatsu, atau kick boxing. Jadi, kalau ada yang berusaha tidak senonoh, bisa melawan. Patahin tangannya kalau perlu :D. Ya, nggak ada salahnya kan jadi The Warrior Princess demi mempertahankan kehormatan.
Bagi mereka yang harus sering keluar rumah, berpakaianlah yang sopan. Supaya tidak mengundang hasrat laki-laki hidung belang. Di Barat sana, perempuan terbiasa membawa senjata bila bepergian seorang diri. Bayonet? Atau samurai? Haha…bukan, nanti malah disangka yakuza. Biasanya membawa pepper spray. Semacam semprotan berisi bubuk cabe atau merica.
Nah, yang punya anak perempuan di bawah umur, apalagi balita, jangan biarkan anak bermain tanpa pengawasan. Ingat kata Bang Napi; Kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat si pelaku, tapi juga karena ada kesempatan. Hidup Bang Napi! [Fiuh, garink!]

Leave a Reply