Penis Anda Saja Tidak Akan Cukup

Saya sering berbicara mengenai perempuan dan kecerdasan intelektual. Saya juga sering mengatakan bahwa menjadi perempuan cerdas itu penting agar para perempuan memiliki ‘hak tawar’ baik itu di ranah domestik maupun di ranah publik. Namun saya lengah, bahwa laki-laki juga sudah sepantasnya memiliki kecerdasan.

Bukan tanpa alasan ketika saya mengatakan bahwa saya menemukan banyak sekali laki-laki yang bodoh. Tidak, saya tidak sedang membicarakan mengenai gelar akademis karena lulusan perguruan tinggi tidak akan menjamin kecerdasan seseorang. Di sini saya sedang berbicara mengenai kecerdasan baik itu intelektual, emosional, maupun sosial.

Mari saya bagi ke dalam poin per poin:


A. Kecerdasan Intelektual

Karena jujur saja, perempuan urban sekarang sudah sangat selektif ketika memilih pasangan. Ketika wawasan seorang perempuan semakin berkembang, tentu saja ia menginginkan pasangan yang memiliki wawasan yang setara atau lebih. Sebagai laki-laki Anda tentu tidak mau terlongo dan tampak bodoh ketika pasangan Anda membicarakan topik-topik  yang ternyata tidak Anda kuasai, bukan?

Saran saya sih, banyak-banyaklah membaca buku.

Penis kekar perkasa kuku bima memang sangat menggoda untuk dinikmati, tapi otak yang berisi itu lebih seksi.

B. Kecerdasan Emosional

Tak ada satupun perempuan yang ingin memiliki pasangan yang menderita gangguan jiwa. Perempuan hari ini adalah perempuan yang berani mengambil langkah seribu ketika Anda membuat mereka tidak nyaman.

Berikut gangguan jiwa yang sering diidap lelaki:

  • Posesif akut: semacam penyakit yang nyaris menyamai rambu-rambu lalu lintas ==> melarang ini, melarang itu, harus begini, harus begitu. Pasangan Anda bukan Putri Indonesia atau Ratu Inggris yang harus Anda kawal setiap hari, ia adalah perempuan mandiri yang sudah bisa mengaktualisasikan diri. Jangan biarkan dia hidup dalam jeruji.
  • GPS disorder: selalu bertanya lagi di mana. Tahukah Anda bahwa pertanyaan semacam itu sangat membosankan dan mengintimidasi? Anda bukan atasan, bukan orang tua, bukan ketua RT yang mengharuskan pasangan Anda wajib lapor 1×24 jam. Kalau Anda selalu ingin tahu posisi pasangan Anda, Anda bisa menyewa semacam detektif atau CIA sekalian untuk menguntit daripada harus merepotkannya setiap saat.
  • Scheduller Fever: selalu bertanya sedang apa. Anda bukan agenda, bukan kalender, bukan sekretaris pribadi, bukan juga alarm. Anda tidak harus tahu kegiatan pasangan Anda setiap saat. Percayalah, pertanyaan seperti itu bukanlah bentuk perhatian melainkan kata lain dari menyebalkan.
C. Kecerdasan Sosial

Poin inilah yang sedang saya soroti. In my opinion, kecerdasan sosial harus dimiliki seorang laki-laki sebagai front line pada saat PDKT. Poin ini juga berhubungan dengan cara Anda berkomunikasi. Lelaki yang menyenangkan diajak ngobrol lebih menggairahkan daripada lelaki yang menggairahkan secara fisik. Jadi percuma saja Anda menguasai berbagai macam posisi dan teknik bercinta atau penis Anda selalu siap sedia tapi tidak menyenangkan diajak bercerita. Kalau seperti itu, Anda hanya akan menjadi mesin. 



*
Percayalah, menjadi laki-laki goblok lebih menyakitkan daripada menjadi laki-laki impoten. Tidak ada salahnya menjadi pintar dan teman diskusi yang menyenangkan, bukan? 

4 Comments

  1. November 10, 2013 at 5:17 pm

    setuju banget! lelaki pintar itu lebih seksi dan menggairahkan!

  2. Langit Amaravati-Reply
    November 11, 2013 at 2:30 am

    Melecut kita untuk terus menimba ilmu, ya kan?

  3. November 14, 2013 at 10:14 pm

    Bahkan, aku nggak punya penis. 😛

  4. November 18, 2013 at 3:37 pm

    Gak demen gua punya lelaki yang ngandalin penis doan, IQ Jongkok apalagi!

Leave a Reply