Perempuan dan Kemandirian Ekonomi

Siapa pun, perempuan yang bekerja atau tidak, bisa saja marah ketika membaca postingan seperti di atas. Saya setuju jika perempuan harus mandiri secara ekonomi, tapi tidak setuju dengan pemikiran parsial si pembuat status. Rumah tangga seseorang adalah urusan domestik dan tidak bisa digeneralisasi sedemikian rupa. Pun, dengan para ibu rumah tangga. Si penulis status mungkin belum pernah bertemu dengan ibu rumah tangga yang menjadi “ratu” meski tidak bekerja. 

Seperti biasa, saya menolak untuk terjebak dalam dikotomi yang ujung-ujungnya hanya saling caci. Bagi saya, status ini berakhir di kesimpulan: pemikiran parsial layak untuk diabaikan. Saya justru ingin membahas perkara kemandirian ekonominya. 

Di berbagai kultur, suami berfungsi sebagai pencari nafkah utama. Meski di kota-kota besar, terutama kota-kota basis industri, pembagian peran ini kerap sebaliknya. Di Batam misalnya, tidak jarang saya menemukan para istri yang berfungsi sebagai pencari nafkah utama sedangkan suaminya menjadi bapak rumah tangga, tidak bekerja, diam di rumah untuk mengurus rumah dan anak-anak. Rumah tangga masyarakat urban, begitu saya menyebutnya. 

Tidak jarang pula saya menemukan istri yang tidak bekerja tapi dijadikan “ratu” di rumahnya. Mau ke mana-mana tinggal minta, mau beli apa pun tinggal minta. Jadi, sekali lagi, perkara seperti ini tidak bisa digeneralisasi. 


FUNGSI KEMANDIRIAN EKONOMI


Namun, di dalam setiap kesempatan baik itu di forum-forum diskusi atau obrolan warung kopi, saya selalu menyarankan bahwa perempuan harus mandiri secara ekonomi. Ada dua macam yang saya masukkan dalam kemandirian ekonomi: memiliki keahlian yang bisa “dijual” dan memiliki penghasilan. 


KEAHLIAN

Keahlian di sini artinya adalah keahlian yang bisa menghasilkan. Berbelanja itu juga keahlian. Di luar negeri, ada profesi personal shopper, di Indonesia mungkin belum begitu familiar. 

Keahlian juga tidak tergantung ijazah dan tingkat pendidikan. Keahlian bersifat aplikatif, bukan hanya busa-busa teori. 

Kenapa perempuan harus memiliki keahlian di luar menjadi istri dan ibu bagi anak-anak? Agar jika terjadi sesuatu yang buruk, perceraian atau suami meninggal misalnya, seorang perempuan siap mengganti peran menjadi pencari nafkah utama. 

Hasil obrolan santai saya dengan beberapa PSK yang sering nongkrong di Taman Jodoh beberapa tahun silam, mereka terjun ke dunia pelacuran karena bercerai sementara ada anak yang harus dihidupi. Mereka sulit mendapatkan pekerjaan karena tidak punya keahlian yang bisa dijual. Wirausaha? Mereka sudah mencoba, tapi gagal karena modal dan -lagi-lagi- keahlian manajemen yang buruk. 


PENGHASILAN

Mohon diingat bahwa memiliki penghasilan tidak harus bekerja di luar rumah. Ada para istri yang memilih untuk bekerja di rumah sambil mengurus anak-anak. Ada para ibu yang keluar dari kantor dan menjadi freelancer agar lebih memiliki waktu bersama anak-anak. 

Penghasilan juga bukan perkara nominal. Memangnya Anda sedang bekerja untuk apa? Membangun Taj Mahal?

Ada beberapa alasan mengapa saya katakan bahwa perempuan disarankan mandiri secara ekonomi.

1. Aktualisasi Diri
Perempuan memiliki hak yang sama untuk mengaktualisasikan diri dan berkarier seperti lelaki, di dalam maupun di luar rumah. Bekerja adalah hak segala gender. 

2. Ketahanan Finansial
Bukan, ini bukan agar Anda bisa membeli bedak atau baju atau traveling ke luar negeri seperti yang disebutkan dalam status di atas. Dengan memiliki penghasilan dan tabungan, artinya kita memiliki dana talangan. In case, anak-anak sakit dan memerlukan biaya perawatan cukup besar sementara suami di luar kota atau tidak bisa dihubungi, misalnya. Seorang ibu yang memiliki penghasilan tentu tidak harus pusing-pusing, bukan? 

Atau, misalnya suami kecelakaan dan tidak bisa bekerja sehingga tidak ada pemasukan, masih ada penghasilan dari istri. 

3. Bargaining Power
Ada beberapa suami bajingan yang merasa dirinya nabi hanya karena dia menjadi pencari nafkah utama. Suami seperti ini biasanya merasa bebas memperlakukan istrinya seenak udel dia karena dia berpikir si istri tidak akan bisa ke mana-mana. 

Perempuan yang mandiri secara ekonomi memiliki kans lebih kecil untuk “diperbudak” sekaligus memiliki bargaining position.

4. Percaya Diri
Kemandirian ekonomi akan memupuk rasa percaya diri. Dan perempuan yang percaya diri lebih stabil secara emosi. Ini berimbas kepada ketika menghadapi masalah dalam rumah tangga atau ketika mengurus anak-anak. 

Kasus-kasus kekerasan terhadap anak kandung dengan pelaku ibu sendiri kebanyakan dipicu oleh uang. Suami yang tidak pulang atau ketahuan selingkuh dan tidak memberi nafkah, itu adalah lagu lama yang terus diulang-ulang. Sialnya, yang biasanya menjadi korban adalah anak-anak. 

Suami super baik tapi di rumah tidak ada beras juga banyak terjadi. Siapa lagi yang menjadi korban? Anak-anak. Kalau si istri memiliki penghasilan, setidaknya hal-hal seperti itu bisa diminimalisasi.

5. Tambahan Opsi
Tidak semua rumah tangga baik-baik saja. Kasus-kasus KDRT yang saya tangani ada beberapa yang berujung kepada si perempuan kembali lagi kepada suaminya karena takut anaknya kelaparan. Ujung-ujungnya ya dia dipukuli lagi, babak belur, tapi tidak berani membuat laporan kepada polisi karena takut cerai. 

Miris memang, tapi kenyataannya memang begitu. Ada perempuan-perempuan yang terpaksa bertahan dalam pernikahan serupa neraka karena takut dengan nasib anak-anaknya. Atau, ada kasus lainnya. Si istri memang meminta cerai tapi terjun ke dunia pelacuran seperti yang saya ceritakan di atas. 

Dengan mandiri secara ekonomi, para perempuan memiliki opsi tambahan jika ternyata rumah tangganya tidak baik-baik saja. Saya mengalami KDRT pada pernikahan kedua, selama dua tahun saya bertahan, tapi ketika saya nyaris mati di tangannya, saya memutuskan untuk pergi. Tidak, saya tidak takut tidak bisa makan karena toh saya punya penghasilan sendiri. 

Di pernikahan ketiga, suami saya selingkuh dan sudah akan menikah dengan perempuan lain, tanpa pikir panjang saya pun meninggalkannya. Untuk apa bertahan dalam pernikahan seperti neraka? Poligami? Yang benar saja, punya istri satu saja tidak bisa menafkahi kok, apalagi punya dua. Yaiya sih, ada laki-laki yang tidak memiliki keseimbangan antara isi celana bagian depan dan belakang tapi sok-sokan jadi don juan. #eh

6. “Membeli Kebahagiaan”
Dalam ketiga pernikahan, saya pernah bekerja, pernah juga tidak. Terasa betul bedanya. Saya pernah bertengkar dengan suami gara-gara ingin membeli buku seharga 40 ribu. Karena tidak punya uang sendiri, akhirnya saya menabung sesen demi sesen dari sisa uang belanja yang tidak seberapa. Saya juga pernah dikatai “kamu hanya membebani hidup aku aja” karena tidak bekerja. Padahal saya perempuan yang tidak pernah mengeluh. Diberi nafkah seribu yang dicukup-cukupkan, diberi nafkah lima puluh juta ya dihambur-hamburkan. Oke, poin kedua itu fiksi. 

Ketika saya bekerja, apakah saya lantas menjadi istri kurang ajar dan menginjak-injak harga diri suami dengan cara pelesiran ke luar negeri? Saya ingin sekali “balas dendam”, sayangnya saya bukan tipe istri yang demikian. Saya malah berkontribusi terhadap beban ekonomi keluarga, membelikan hadiah ulang tahun ponsel, mengajak suami makan di luar, membeli lingerie, melakukan perawatan tubuh untuk menyenangkan mereka. Dan, tentu saja, membeli buku apa pun yang saya inginkan. No, buku adalah komoditas yang tidak bisa ditawar-tawar. Punya suami yang melarang saya membeli buku dengan uang saya sendiri? Artinya cuma satu: CIVIL WAR!


Sialnya, tidak semua laki-laki memiliki pemikiran terbuka untuk urusan kemandirian ekonomi istrinya. Alasannya pun bermacam-macam, dari mulai dalih agama sampai alasan yang direka-reka. Untuk urusan yang satu ini, saya tidak bisa memberi saran apa-apa. Tapi, kalau Anda memaksa, silakan inbox. #eh
 
Lalu, bagaimana dengan perempuan lajang atau janda? Ya sudah jelas atuh itu mah. Usia 18 tahun saya sudah keluar dari rumah dan mencari uang sendiri. Sebagai janda, tantangannya malah lebih besar lagi. Bukan sekali dua kali kondisi finansial saya dijadikan alasan untuk ya you know lah. Mula-mula baik, sering ngasih untuk susu Aksa dengan alasan sayang, lama-lama “minta bayaran”.

Sepanjang karier saya sebagai janda, tidak ada satu pun lelaki yang benar-benar berniat tulus. Entah kenapa saya selalu dipertemukan dengan para bajingan, mungkin karena saya kurang tampak salehah atau bagaimana. Yang jelas, satu hal yang saya sarankan kepada para janda di luar sana: jangan pernah meminta bantuan perihal keuangan kepada laki-laki karena itu akan membuat mereka menganggap bahwa tubuh Anda bisa dibeli. Kalau Anda bertemu dengan tipe lelaki seperti itu, titip salam jari tengah dari saya untuk dia. *eh kok baper? 

Di Jepang, para perempuan dibekali pendidikan tinggi untuk menjadi ibu rumah tangga. Di Indonesia, para perempuan berpendidikan tinggi yang menjadi ibu rumah tangga malah dihina. Mereka yang tidak kuat dengan stigma ini biasanya mengambil dua macam langkah: kembali bekerja atau terlibat perang argumen di dunia maya. 

Terlepas dari stigma dan anggapan masyarakat, menjadi ibu rumah tangga adalah mulia. Menjadi ibu bekerja juga mulia. Menjadi ibu rumah tangga yang tidak bekerja? Itu juga mulia. Postingan saya ini hanya menawarkan perspektif yang berbeda, cocok atau tidak dengan kondisi rumah tangga Anda bukan saya yang memutuskan. Tolong jangan merasa terintimidasi atau terprovokasi. 

Sekali lagi, setiap rumah tangga memiliki kondisi dan masalah yang berbeda-beda. Ibu bekerja atau tidak juga memiliki motivasi yang berbeda-beda. Anda boleh setuju dengan sudut pandang saya, boleh juga tidak. Saya menghargai pilihan Anda, apa pun itu. Asal jangan ada perang status di antara kita. 

Salam,
~eL

(Konsultan percintaan yang berkali-kali gagal dalam percintaanya sendiri)

11 Comments

  1. May 2, 2016 at 7:56 pm

    sebetulnya itu sih akhirnya pilihan dan yg behak memilih ya pribadi masing2 dan anehnya orang lain yg repot. Waniat bekerja itu pastunay sudah ada ijin dari suami. Apalagi aklau ekonomi belum mencukupi dg perempuan bekerja bisa membantu. Dulu aku bekerja tapi anakk2 juga keurus. Setelah anak-anak dewasa dan merantau aku malah berhenti bekerja karena ingin menikmati hidup sambli banyak berbagi

  2. May 3, 2016 at 1:42 am

    Kalau menurutku yang bikin status kayak gini hidupnya sempit,, ngga tau sesempit apa, cuma kalau dia bilang ibu rumah tangga dadanan kucel, bauk asem dll coba deh situ ke daerah kemang, bintaro dan lain sebagainya. yang ada ibu rumah tangga malah kongkow sama temen arisan, mejeng dan wangi pake duit siapa kalau buka duit suaminya kann. Saya wanita bekerja cuma malah iri sama yang ibu rumah tangga karena bisa full mengurus anak tanpa mengandalkan siapapun yang akhirnya jadi guilty sendiri.. ya kalo boleh jujur sih ini suara hati seorang istri yang suaminya pelit hehehe *piss

  3. May 3, 2016 at 4:29 am

    teman saya punya mertua wanita yang mempertahankan pernihakannya karena masih punya anak kecil dibwah 3 tahun. sedangkan suaminya sudah punya istri lagi dan juga punya anak kecil, namun menikah tidak resmi.

    dia tidak bekerja, setiap bulan mengandalkan kiriman uang bulanan dari suaminya yang sudah pindah rumah dengan istri barunya.

    iya, itu. karena tidak mandiri secara ekonomi jadi tetap mempertahankan suaminya, yang makin lama makin seret untuk kasih uang bulanan.

  4. May 3, 2016 at 5:46 am

    Iya, makanya saya bilang bahwa bekerja atau tidak pada akhirnya adalah masalah pilihan 🙂

  5. May 3, 2016 at 5:47 am

    Aku juga, sebetulnya lebih suka jadi ibu rumah tangga 🙂

  6. May 3, 2016 at 5:48 am

    Kasihan ya? >.<

  7. May 3, 2016 at 2:45 pm

    Saya tidak tahu harus komen apa. 🙂 Tapi ini adalah tulisan tentang ibu bekerja dan tidak bekerja paling keren yang pernah saya baca.

    Salam kenal, Mbak.

  8. May 4, 2016 at 3:20 am

    Saya suka jadi diri saya sendiri. Mau kerja di kantor, mau nguli di rumah tetap ga pengaruh asal saya paham sama diri saya sendiri. …tapi saya setuju, bahwa seorang istri juga harus mandiri dalam hal ini masalah keuangan. Karena jaman saat ini, kebanyakan kasus, istri ditinggal meninggal oleh suaminya tanpa harta tapi dengan hutang yg melimpah.

  9. May 4, 2016 at 7:57 am

    Aku termasuk yg setuju sama tulisan ini. Kelak jikapun suami meminta buat jadi IRT aja ya siap. Lain cerita dg orang tua, mereka beda generasi dan beda cara pandang soal ini

  10. May 5, 2016 at 7:56 am

    perdebatan antara menjadi wanita karir atau ibu rumah tangga ini kayaknya gak akan pernah selesai ya mbak. 😐

Leave a Reply