Perempuan yang Ditikam-tikam Malam

Foto: Pixabay

Foto: Pixabay

Ia berdiri di trotoar, rambut sebahunya diciumi angin pukul 11 malam. Bayi di gendongannya bergerak-gerak, ia merapatkan selimut berwarna biru lalu matanya kembali menyisir lengang jalanan.

Saya mengamatinya dari seberang jalan ketika duduk di bangku penjual bubur ayam, menyantap makan malam yang terlambat. Perempuan itu masih ada di sana ketika saya menyeberang dalam perjalanan pulang.

Ragu, saya mendekat. Ingin melihat lebih jelas, ingin bertanya mengapa ia dan bayinya masih keluyuran pada jam setan begini. 

“Mau ke rumah sakit?” tanya saya.

Ia terhenyak lalu menggeleng. Matanya kini mengamati saya lekat.

“Lalu? Teteh mau ke mana malem-malem begini? Bawa-bawa anak lagi,” pertanyaan saya kian mendesak. Kalau besok ada berita tentang penculikan anak di daerah Cibabat atau berita negatif lainnya, setidaknya saya punya keterangan yang bisa diberikan.

“Mau ke Kopo,” jawabnya. “Nyari suami saya.”

“Jam segini? Kenapa tidak menunggu sampai besok?” tidak biasanya saya banyak bertanya kepada orang asing, malam itu adalah pengecualian.

Ia kembali menggeleng. “Anak saya sakit, sudah dua hari. Suami saya belum pulang sejak lebaran. Kabarnya dia di tempat pacarnya di Kopo,” suaranya bergetar. Bahkan di bawah penerangan lampu helium, saya bisa melihat bahwa matanya berkaca-kaca.

Ah, another drama, pikir saya. Mungkin perempuan di depan saya ini hanyalah penipu yang menjual kemalangan agar lawan bicaranya jatuh kasihan lalu memberikan uang. Modus operandi biasa. Tapi kemudian saya teringat Aksa yang terpaksa dititipkan di rumah Ibu karena pengasuhnya belum masuk dan ada deadline layout-an yang harus saya selesaikan. Jika kau tak bisa menolong, setidaknya jangan berburuk sangka, gumam saya.

“Sudah tahu alamatnya? Nanti kalau keliling-keliling di Kopo kan kasihan anak Teteh,” tanya saya.

Ia mengacungkan secarik kertas. “Sudah,” jawabnya.

“Ada ongkos?” sialan, kenapa justru pertanyaan semacam ini yang saya ajukan?

“Nggg … ada, ada,”

Kalau perempuan di depan saya mau menipu, seharusnya dia mengeluarkan kalimat yang lebih memelas. Sebetulnya saya ingin sekali mengajaknya ke tempat kos, memintanya menunggu hingga pagi lalu melanjutkan perjalanan. Tapi mereka yang tengah bertarung dengan rasa sakitnya harus dibiarkan sendirian dan membuat keputusan.

Saya merogoh saku, mencari-cari uang 50 ribu, uang terakhir yang saya miliki untuk bulan ini. Masih ada stok susu untuk dua hari ke depan, Aksa akan baik-baik saja. “Ini, buat tambahan ongkos.”

Sekali lagi ia terhenyak, memandang uang di tangannya lalu memandang wajah saya. “Oh oh, nggak perlu repot-repot, Teh.”

“Nggak apa-apa, pegang aja. Siapa tahu berguna,” senyum saya terbit.

Mata kaca itu burai, suaranya semakin bergetar ketika mengucapkan terima kasih.

“Saya pamit. Hati-hati di jalan,” saya masih tersenyum lalu gegas membelah malam. Tak ingin menengok ke belakang meski saya tahu ada sepasang mata yang mengamati punggung saya hingga hilang ditelan mulut gang.


Ketika berada di tengah gang yang sunyi dan lengang, saya berhenti sebentar, menarik napas, lalu mulai melangkah sembari berdoa. Semoga perempuan itu menemukan suaminya yang bajingan. Semoga ia segera sadar bahwa pernikahan seharusnya membahagiakan, bukan neraka yang membuatnya menderita. Semoga kelak ia diberi kesanggupan dan ketegaran untuk bertarung dengan hidup, meski sendirian.

Semoga saya dilindungi dari kedunguan menyia-nyiakan waktu dan usia demi bersama lelaki yang tak pantas diperjuangkan.

(Re-post dari status FB)

15 Comments

  1. February 4, 2016 at 3:02 am

    Nggak ada yang spesial, kok. Hanya manusia biasa yang berusaha menjadi sebaik-baik manusia. 🙂

  2. February 4, 2016 at 3:20 am

    judulnya kaya cerpen..tapi fakta dan real….., suka bahasa yang diguunakan..

  3. February 4, 2016 at 3:45 am

    Ini kisah nyata? Kok aku pengen mewek. Pria – pria bajingan kayak gitu emang masih bisa tertawa lepas di luar sana ya? Semoga Tuhan membukakan mata batinnya.

    • February 4, 2016 at 3:53 am

      Iya, kisah nyata. Di luar sana masih banyak kisah yang lebih tikam, Put.

  4. February 4, 2016 at 4:43 am

    if it’s only you, i believe that you can just move on and forget him.
    but it’s also about your son, right?
    be happy and keep strong! 🙂

    • February 6, 2016 at 5:31 am

      No, it’s not about both of those things. It’s about forgive someone who ruins our life.

  5. February 5, 2016 at 8:13 am

    Semoga kemalangan yg menikam perempuan mana pun dapat segera berganti keriangan.

  6. April 24, 2016 at 12:51 pm

    You’re an angle

  7. April 24, 2016 at 12:52 pm

    You’re an angel

  8. Trie-Reply
    April 24, 2016 at 6:25 pm

    Karna tak semua wanita sekuat bahumu…
    Percayalah…suatu hari nanti,,Tangan Tuhan akan merangkulmu…
    Dan dg bangga mengatakan..
    “Surga sudah kupersiapkan untuk menggantikan semua lukamu”,,,
    Aamiin..

    • April 26, 2016 at 3:39 am

      Semua perempuan itu kuat, dengan caranya masing-masing 🙂

  9. April 25, 2016 at 8:16 am

    Membaca kisah-kisah teh el…membuat saya malu untuk mengeluh…semakin bersyukur atas hidup ini…peluk cium untuk dede Aksa

    • April 26, 2016 at 3:22 am

      Setiap kita punya masalah sendiri-sendiri. Yang bisa kita lakukan hanyalah saling bercermin. Dari kejadian ini saya juga bersyukur, setidaknya saya tidak punya pasangan seperti itu. 😀

Leave a Reply