Perempuan yang Mati Berkali-Kali

Jika kematian menjadi sesuatu yang sangat sakral, maka tidak begitu bagi perempuan itu; Maryam. Baginya, kematian menjadi semacam ritual yang dijadwal, persis seperti keberangkatan kereta api atau menggosok gigi di pagi hari. Ya, ia sudah mati berkali-kali kemudian hidup kembali. 

Pertama kali hal itu terjadi sepuluh tahun lalu, Maryam mengira bahwa dirinya adalah siluman cicak dengan kemampuan beregenerasi. Urat nadinya yang sempat rampung kembali tersambung. Waktu itu ia mengira akan mati dengan cara yang diinginkan; telentang di atas ranjang dengan tangan terjuntai dan berlelehan darah. Ia membayangkan ubin-ubin itu akan berubah menjadi lukisan mural berwarna merah. Dalam kepalanya, adegan ibunya yang histeris dan bapaknya yang menangis berseliweran seperti film-film murahan. Ya, ia telentang di atas ranjang. Ya, tangan kirinya terjuntai dengan lelehan darah berwarna merah. Ya, lantai kamarnya berhasil dilukis dengan pola acak berbercak-bercak. Tapi ia tak mati, ia hidup kembali. 

Ia nyaris tak ingat kapan dan bagaimana kematian yang kedua, yang ketiga, dan kematian-kematian seterusnya. Yang ia ingat hanyalah bahwa ia tak pernah benar-benar berhasil mati seakan Izrail atau Tuhan sendiri enggan menerimanya. Jika manusia lain mencari cara agar terhindar dari kepungan kematian dengan berbagai ilmu kanuragan, tidak begitu dengan Maryam. Ia justru melesat ke arah sebaliknya; menyongsong kematian dengan tangan terbuka. 

Di dalam kepala Maryam yang terlalu penat, waktu tidak ditandai oleh detak jarum jam atau coretan pada tanggal di almanak. Waktunya ditandai oleh peristiwa demi peristiwa; luka-luka yang tak pernah bersiap hengkang dari hidupnya. Kehilangan demi kehilangan telah ia mamah hingga kenyang. Ditinggalkan oleh orang-orang tersayang adalah peristiwa yang harus ia telan dengan dada lapang. Semua orang mati, kecuali dirinya. 

Bahkan ia sempat berpikir bahwa dirinya adalah manusia abadi yang akan hidup sampai Tuhan bosan membiarkannya berkeliaran di dunia. Tapi anggapannya salah, selalu saja salah. Tuhan ternyata memiliki banyak hadiah. Hadiah itu dikirimkan malam tadi; carikan pesan yang menjadi pemakamannya sendiri. 

Maka Maryam bersiap mati, sekali lagi. Tapi tak ada yang tahu apakah ini kematian yang lain, ataukah yang terakhir. 

2 Comments

  1. July 7, 2013 at 2:09 pm

    knapa smua tulisanmu selalu saja suram?

  2. Langit Amaravati-Reply
    July 8, 2013 at 3:13 pm

    Sudah dari sononya. Heheheheh

Leave a Reply