PEREMPUAN YANG MENCINTAI RENDRA

Aku mengenalnya dua belas tahun yang lalu. Melalui sebuah tape player dan kaset musikalisasi puisi di ruang kelas yang panas. Tak ingat lagi apa judul puisi yang ia bacakan, tapi gelegar suaranya masih terasa sampai sekarang. Sejak saat itu aku jadi terobsesi pada puisi.
Ketika Bu Elis -guru Bahasa Indonesia kelas dua SMP ku- bertanya apa cita-citaku jika sudah besar nanti, kujawab dengan mantap: “Saya ingin membaca puisi di Taman Ismail Marzuki, bersama-sama dengan Pak Rendra.”
Waktu itu ia hanya tersenyum, tapi tahu bahwa aku tak main-main. Maka ia selalu mendaulatku untuk membacakan puisi di depan kelas. Pun pada acara-acara sekolah. “Untuk persiapan,” katanya.
Semua teman sekelas menganggapku aneh karena akulah satu-satunya murid yang bercita-cita jadi penyair, sedangkan cita-cita mereka setinggi Himalaya. Guru, insinyur, tentara, polisi, presiden, dan semua profesi yang menjajikan kemapanan. Mereka semakin menganggapku aneh sebab akulah satu-satunya murid yang mendapatkan nilai sembilan dalam tugas membuat puisi dan mengarang. Juga karena aku membaca seluruh buku sastra yang tersedia di perpustakaan tanpa ampun.
Beberapa minggu yang lalu aku menggubah sebuah puisi untuk Rendra, dengan terburu-buru seakan tak tersisa lagi waktu. Tapi aku tak tahu bahwa ajal memang tak bisa menunggu.

W.S RENDRA

Tadi malam aku bermimpi
kita berdua bersanding di balai-balai
bercakap tentang malam yang tak pernah usai
mengeluh tentang hujan di pelataran, berinai-rinai
Tadi malam aku bermimpi
kita berdua bergandengan tangan
setelah sebelumnya
sebuah sajak tuntas kumasak di atas tungku
terhidang di atas meja makan lumutan
kau kunyah sebait, kumamah sebait
dandang raib tika sebuat kabut menggedor pintu
aku marah

“Tak apa!” katamu. “Kumasakkan sajak baru untukmu.”

Batu Ampar, 6 Juli 2009

Kemarin berita itu datang, saat aku tengah menonton televisi di ruang tamu. Gelenyar rasa kehilangan mengurung dan menstimulasi kelenjar air mata untuk mulai menitik, satu demi satu. Aku mulai bergumam-gumam di tengah isak. “Jangan mati dulu, kita belum membaca puisi bersama.” Sebuah kalimat duka yang terlampau egois, kurasa. Lalu aku pun bergumam lagi. “Pergilah. Selamat jalan! Obsesiku atasmu dipenggal takdir bernama kematian. Dan aku tak bisa berbuat apa-apa untuk menghalanginya. Semoga kau temukan kedamaian sejati di sana. Sekali lagi, selamat jalan!”

Leave a Reply