PERNIKAHAN BUKANLAH MEDAN PERANG

Konsep pernikahan dari jaman ke jaman tidak pernah berubah.  Perempuan (disadari atau tidak) selalu berada di pihak yang tidak pernah memiliki kebebasan untuk memilih.  Budaya patriarki menjadikan lelaki, dalam hal ini suami, masih berpikir bahwa istri adalah pihak yang harus menuruti segala keinginan, segala titah, tanpa diberi kesempatan untuk diskusi, memberikan argumen bantahan, atau sekadar mengemukakan pendapat.  
Bagi saya, pasangan suami istri adalah partner.  Teman seperjalanan. Teman bergandengan tangan.  Bukan atasan dan bawahan.  Dewasa ini, sulit menemukan lelaki yang mau menerima perempuan atau istri yang kritis, yang mau mengemukakan pendapat, yang memiliki kadar intelektualitas sama bahkan lebih.  Mengapa?  Karena bagi ego laki-laki, itu dianggap sebagai pembangkangan.  Dalam hal ini, perempuan selalu menjadi pihak yang disalahkan.  
Coba bayangkan, sebelum kita bertemu dengan kekasih kita, calon suami kita, masa-masa sebelum itu kita adalah satu individu, entitas yang memiliki kepribadian, sikap, cara berpikir, cara bertindak sendiri, pribadi yang merdeka. Lalu kenapa ketika konsep pasangan masuk, kita harus dipaksa menjadi orang lain?  Sesuatu yang bukan diri kita hanya untuk memenuhi standard yang pasangan kita inginkan.  Berharga kah itu untuk dilakukan?
Mari analogikan diri kita perempuan sebagai warna ungu dan pasangan kita sebagai warna biru. Ketika warna ungu bertemu warna biru, haruskah kita menjadi biru?  Kenapa tidak menjadi indigo? Perpaduan antara warna biru dan ungu sehingga menghasilkan warna lain yang lebih indah, lebih megah. 
Selain itu, perempuan dan laki-laki juga ibarat diagram venn. Ada A dan ada B. Ketika A dan B berarsiran, maka akan terbentuk C. Nah, C itu adalah kita  sebagai pasangan, sementara masih ada ruang bagi kita untuk menjadi A, untuk menjadi B.  Tidak harus ada yang lebur, tidak harus ada yang hancur.
Saat pernikahan menjadi ajang perang; tempat suami dan istri saling menjajah, saling menanamkan taring kepahaman, saling menusukkan pisau keegoisan. Masih berharga kah itu untuk dilanjutkan? 

Leave a Reply