Pukul 1 dini hari, pelataran hotel di Jalan Merdeka sudah sepi. Saat itu saya sengaja datang ke sana sehabis membeli sepatu pesanan untuk menemui teman yang sedang di acara Kongres Kesenian. Saya tidak bisa menginap, harus segera pulang karena besok paginya harus berangkat ke Jakarta untuk menghadiri acara blogger. Karena membawa banyak barang, tanpa pikir panjang saya meminta sekuriti untuk memanggilkan taksi. Saya langsung masuk ketika taksi datang, mengutarakan tujuan, dan duduk diam selama perjalanan. Berpikir, seperti biasa. 

Ketika sampai di Cibabat, saya melirik argo untuk membayar, tapi ternyata argonya mati. Kerlip merah yang tadinya saya sangka argo adalah channel radio. Sambil mengeluarkan dompet, saya bertanya berapa tarif yang harus saya bayar. 

“Ongkosnya 75 ribu, Neng,” kata sopir taksi.

“Hah? Kok mahal, Pak? Biasanya hanya 40 ribu.”

“Emang kalau jam segini tarifnya segini, Neng.”

Dengan sedikit kesal saya membayar, malas berdebat atau menawar. Pagi itu, selain ditipu, saya merasa diperas. 

“Makanya, sebelum naik taksi tanya dulu tarifnya.”


Mungkin sebagian dari Anda akan berkata begitu. Mbak, Mas, tarif taksi itu diukur oleh argo. Kalau harus tanya-tanya tarif, itu bajaj namanya, bukan taksi.

Kenapa saya hanya berbagi satu pelayanan buruk sementara masih banyak pelayanan baik yang saya terima? Karena seperti kata Kadishub Bandung, dalam bidang pelayanan jasa, kepuasan pelanggan adalah nomor satu. 


Ngomong-ngomong soal taksi sebagai salah satu moda transportasi darat, pengalaman buruk saya itu tentu bukan overgeneralisasi karena harus saya akui, masih banyak perusahaan taksi yang berdedikasi. Blue Bird salah satunya. 

Hari ini, para pengguna transportasi umum lebih memilih kemudahan dan kenyamanan. Mengingat lalu lintas perkotaan yang sudah sedemikian semrawutnya, tarif menjadi nomor kedua. Taksi bukan lagi transportasi umum untuk kelas menengah ke atas, melainkan sudah menjadi pilihan semua kalangan masyarakat.

Sebagai “pemain lama”, Blue Bird menjawab tantangan zaman dengan terus-menerus melakukan transformasi dan inovasi agar bisa memberikan pelayanan istimewa kepada para penggunanya. Inovasi yang dilakukan Blue Bird salah satunya adalah dengan membuat aplikasi My Blue Bird yang bisa digunakan di berbagai OS: android, IOS, Windows 8, dan Blackberry. Aplikasi ini merupakan penyempurnaan dari Blue Bird Taxi Mobile Reservation yang sudah dioperasikan sejak tahun 2011, jauh sebelum para pengguna smartphone menjamur seperti sekarang.

My Blue Bird telah di-launching di berbagai kota di Indonesia. Di Bandung sendiri aplikasi ini resmi di-launching pada tanggal 16 Desember 2015 di Saka Bistro, Bandung. Kenapa Bandung? Karena Bandung selain ibukota Jawa Barat, masyarakat Bandung juga terkenal selalu menjadi pionir dalam memanfaatkan teknologi.

Kali ini saya tidak akan membahas detail launching dan sejarah Blue Bird, saya akan langsung membahas tentang aplikasinya. 

 

 

 

 

Aplikasi My Blue Bird

Ada beberapa kelebihan dan kekurangan reservasi via aplikasi jika dibandingkan dengan reservasi konvensional:

Plus:

 

  1. Karena tidak perlu menelepon, aplikasi ini juga bisa digunakan oleh para difabel, dalam hal ini tuna rungu atau tuna wicara.

  2. Bermanfaat bagi para pelupa nomor call center taksi seperti saya.
  3. User friendly. Terus terang, meski setiap saat bergulat dengan smartphone, tapi masih ada orang yang gagap teknologi. My Blue Bird sangat mudah digunakan. Hanya diperlukan 3 langkah untuk memesan taksi. 
  4. Fitur GPS-nya mencakup gang-gang kecil, bukan hanya jalan-jalan protokol. 
  5. Anda tidak hanya bisa memesan taksi untuk saat itu, melainkan juga bisa untuk beberapa jam kemudian atau dua hari kemudian. Taksi, apalagi di kota-kota besar, juga punya high season. Dengan fitur ini Anda tidak usah takut kehabisan armada.

     

  6. Ada dua pilihan jenis kendaraan: sedan dan MPV. Bagaimana dengan tarifnya? Tarifnya sama.

  7. Ada pilihan destinasi ke bandara terdekat.

  8. Kita bisa melihat estimated cost, jadi tidak usah deg-degan mengenai tarif. Kan ada tuh penumpang yang sebentar-sebentar melirik argo karena takut ongkosnya kurang (Oke, itu saya). Tapi sebentar, estimated cost ini artinya perkiraan karena argo taksi memakai dua perhitungan. Jika berjalan, tarif dihitung per KM, jika berhenti tarif dihitung per menit. Jadi kalau macet, kemungkinan nominal di estimated cost juga akan bertambah. (CMIIW)

     

  9. Aman. Nomor telepon Anda tidak akan tampil di driver. Ini mengurangi risiko (maaf) driver-driver nakal. Anda juga bisa membagikan order Anda ke media sosial atau ke privat message keluarga atau teman-teman Anda sehingga jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, keluarga Anda mudah untuk melacak.  
  10. Tidak hanya order, Anda juga bisa menyimpan alamat-alamat destinasi atau pick up location agar tidak perlu memasukkan alamat ketika order berikutnya.

  11. Beroperasi 24 jam. 

 

Minus:

 

  1. Order via aplikasi kadang terkendala dengan koneksi Internet.
  2. Order via aplikasi dengan konvensional sama sulitnya jika pick up location Anda sedang macet parah. 
  3. Hanya tersedia di beberapa kota besar: Jakarta, Surabaya, Medan, Bali, dan Bandung.
  4. Konon, akan tersedia metode pembayaran dengan kartu kredit. Nah, alangkah lebih baiknya kalau tersedia juga metode dengan kartu debit. 
  5. Belum ada fitur taxi nearby, jadi kita tidak tahu ada armada yang tersedia atau tidak.

        
Anda yang belum mengunduh aplikasi My Blue Bird, bisa langsung mengunduhnya di Playstore dan pilih OS sesuai dengan smartphone yang Anda gunakan.  

Bagi saya, peningkatan kualitas pelayanan yang dilakukan Blue Bird adalah kemajuan berarti. Setidaknya, saya tidak perlu khawatir mengalami hal tidak enak seperti yang saya ceritakan di atas.    

Salam,
~eL

5 Comments

  1. December 25, 2015 at 8:25 am

    Suka meleset jauh perkiraan harga sama harga akhirnya. Hehehe. Karena kadang aplikasi hanya ngitung berdasarkan rute tercepat padahal kenyataannya rutenya gak bisa dilalui. Tapi terbantu banget emang ama apps ini. 😀

  2. December 25, 2015 at 8:27 am

    Nah, itu ya. Namanya juga estimasi. 😀

  3. December 25, 2015 at 9:44 am

    Lengkap sekali. Dan saya ikut ngenes baca bagian kena tipunya…

  4. December 25, 2015 at 9:51 am

    Iya, itu pengalaman buruk. Tapi mudah-mudahan akan selalu ada perbaikan kualitas dalam transportasi publik. 🙂

  5. February 17, 2016 at 2:18 am

    selama memakai taksi belum pernah dapet pengalaman buruk dengan argo
    paling cuma mabuk dan pusing karena mabuk AC mobil.

    aplikasi pemesanan bluebird ini juga bagus, kita bisa mengecek sampai dimanakan taksi kita (selama GPS aktif).
    untuk estimasi juga bagus, sih. cocok kalau buat rombongan

Leave a Reply