Poligami, “Surga” di Atas Pecahan Kaca


Saya tidak akan membahas poligami dari kacamata agama karena akan terlalu banyak pro dan kontra dan itu artinya tulisan saya akan sia-sia. Praktik poligami ada di berbagai peradaban, dari zaman ke zaman. Ada kisah-kisah bahagia, lebih banyak lagi yang mengandung luka. Saya ingin mengemukakan pandangan dari sisi perempuan sebagai individu.


Melalui tulisan ini, saya juga menegaskan bahwa sikap saya terhadap poligami adalah kontra. Bagi yang beda partai, tidak usah misuh-misuh atau kirim link ayat. Buat saja esai sanggahan.


Ada beberapa alasan mengapa saya tidak setuju dengan poligami:


1. Jumlah perempuan lebih banyak daripada lelaki


Yang benar? Yakin? Menurut data BPS sampai tahun 2012, penduduk Indonesia berjenis kelamin laki-laki adalah 50.35% sedangkan perempuan 49.65%. Kalau Anda lupa pelajaran matematika, mari saya ingatkan bahwa 50 lebih besar daripada 49.


2. Surga


Aih, ada banyak jalan menuju Roma. Lebih banyak lagi jalan menuju surga.


3. Cinta


Sebuah hubungan tak layak dibangun di atas kehancuran hubungan lain. Ketika Anda sedang bersama lelaki yang Anda cintai, di suatu tempat ada perempuan lain yang tengah Anda lukai. Ketika Anda sedang bersama perempuan yang Anda cintai, di rumah ada istri yang tengah Anda sakiti. Bagian dari cinta yang manakah ini?


4. Ekonomi


Itu sebabnya perempuan harus mandiri secara ekonomi, agar tak harus mencari jalan selamat dengan cara menjadi istri kedua, ketiga, atau kesekian.  


5. Politis


Kalau dengan berpoligami Anda bisa mencegah perang dunia ketiga atau ledakan nuklir di suatu negara, mungkin layak dipertimbangkan. Kalau cuma dengan alasan harta warisan, sebaiknya jangan.


6. Biologis


Bentuk vagina kan semuanya sama saja. Daripada cari istri baru, lebih murah memperbaiki kehidupan sex Anda dan istri Anda.


Istri tidak sanggup melayani karena alasan kesehatan? Coba ingat-ingat, apa alasan Anda menikah? Istri Anda sakit lalu Anda menikah lagi, gitu? What a fuck! Lagi pula Anda tidak akan bercinta setiap saat. Belilah sex doll atau udahlah, pake sabun aja. #Plak


7. Keturunan


Mamen, ada jutaan anak yatim piatu yang bisa Anda adopsi. Ingin punya anak tak harus nambah istri.


8. Rasa kemanusiaan atau kasihan


 Nah, ini dia alasan paling menyebalkan. Laki-laki selalu ingin tampil sebagai pahlawan dan perempuan selalu pandai menjual kemalangan. Tidak semua perempuan yang hidupnya menderita harus Anda nikahi kalau Anda sudah punya istri. Toh Anda bukan panti sosial atau badan amal. Tidak usah repot-repot.  



Kepada perempuan:


Ketika Anda mencintai lelaki beristri, Anda harus tahu bahwa kalian tidak akan pernah bisa utuh saling memiliki. Coba raba hati Anda, tegakah menyakiti hati perempuan lain? Tegakah Anda merampas milik orang lain? Hal lain mungkin bisa dibagi, tapi tidak suami.



Kepada para lelaki:


Istri bukan barang yang jika Anda bosan bisa Anda tukar atau tambah dengan yang baru. Setiap saat Anda akan senantiasa didera dan digoda. Namun percayalah, setia akan selalu memiliki harga.  



Salam,


~eL
(Repost dari catatan FB)

2 Comments

  1. April 16, 2014 at 5:02 am

    Wakaka, siap!. Hei laki-laki, jangan pernah bermimpi menjadikan Teteh ini istri kedua ya!. Kalau saya sih nggak mau dimadu Teh. Kalau ada perempuan lain mau dimadu, silakan saja, asal sanggup menjalaninya. Toh, itu dibolehkan.

  2. Langit Amaravati-Reply
    April 16, 2014 at 5:16 pm

    Saya ga akan sanggup.

Leave a Reply