PRELO_14

Bumi Kita
yang Kian Renta Ini

Dibutuhkan sedikitnya 2.700 liter air untuk membuat sehelai kaus katun yang biasa kita pakai. Jumlah air yang sama bisa memberi satu orang minum selama 90 hari. Coba kalikan dengan jumlah kaus yang kita miliki di lemari. Itu baru air, belum energi lain dan limbah yang ditimbulkannya. Itu baru sehelai kaus, belum lagi sepatu, tas, celana, dan barang-barang lain yang kita miliki.

Menurut Jambeck (2015), setiap tahunnya Indonesia menyumbangkan 187,2 juta ton sampah ke laut. "Prestasi" ini membuat negara kita tercinta berhasil menduduki peringkat kedua di dunia sebagai penyumbang sampah plastik terbesar, satu peringkat di bawah Cina.

Yang saya sampaikan di atas hanyalah dua dari sekian banyak "kejahatan" yang kita lakukan terhadap lingkungan, terhadap bumi yang kita tinggali. Atas nama gaya hidup, pola konsumsi, dan nafsu yang tak berujung, tanpa disadari kita telah menjelma menjadi manusia-manusia rakus yang tak pernah merasa cukup.

Kita lupa bahwa setiap helai pakaian yang kita kenakan, setiap suap makanan yang kita telan, setiap tetes air yang kita minum, telah melalui perjalanan mahapanjang. Perjalanan yang di dalamnya ada keringat para petani, ada peluh dan perjuangan para buruh, ada kekayaan bumi yang diperas dan dieksploitasi. 

Kita lupa bahwa secabik kertas, sepotong plastik, seonggok kaleng, atau sehelai kain yang kita buang membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk diurai oleh tanah. Bahwa sampah yang tidak diolah dengan baik akan mencemari tanah, air, udara, dan membunuh alam secara diam-diam. 

Kita lupa, terlalu sering lupa.

Meski termasuk tipe orang yang menganut filosofi buanglah matan, eh, buanglah sampah pada tempatnya, tapi dulu saya hanya aware terhadap hal-hal paling dasar tentang pengolahan sampah rumah tangga. Misalnya, memisahkan sampah organik dan anorganik, mengurangi penggunaan plastik, dan mendaur ulang.

Kepedulian yang cuma secuil itu mengalami perubahan ketika setahun lalu saya aktif di Indorelawan.org dan menjadi salah satu relawan untuk kegiatan yang diadakan oleh The Street Store Indonesia dan Bekas Beramal Foundation. Mengumpulkan pakaian layak pakai dan menyalurkannya kepada mereka yang lebih membutuhkan membuat saya berpikir ulang tentang setiap benda yang saya beli dan miliki.

Bahwa setiap barang bekas yang teronggok di sudut lemari bukan hanya memiliki dampak terhadap lingkungan, tapi juga memiliki dampak sosial. Baik atau buruk dampak tersebut, tergantung dari cara kita mengolahnya. 

Sejak setahun lalu pula, saya punya hobi memindai seluruh isi lemari dan kamar kos, memilah dan membatasi setiap barang yang akan saya beli. 

Sayangnya, meskipun pola hidup saya sudah sedikit berubah, tapi ada hal-hal yang tidak bisa saya cegah. Misalnya, baju dan sepatu Aksa yang masih bagus banget tapi tahu-tahu sudah kekecilan, atau hadiah-hadiah yang saya dapatkan dari event dan lomba blog. Hadiah-hadiah itu sebetulnya bermanfaat, tapi saya, kan, hanya tinggal berdua dengan balita berusia 2,7 tahun. Tak banyak barang yang saya perlukan kecuali kasih sayang. #eh

Berbulan-bulan, barang-barang itu hanya jadi penghuni kamar kos tanpa saya gunakan. Jadi, demi planet Bumi, saya harus segera mencari solusi.

0
liter air untuk 1 kaus
liter air untuk 1 hamburger
liter air untuk secangkir kopi
0
liter air untuk 1 buah apel

SOLUSI TAK HANYA DONASI

Saya pernah memaksa Ibu agar bersedia menerima upeti hadiah berupa seperangkat kosmetik seharga satu juta (hadiah dari sponsored post) dengan syarat barter dengan semur jengkol buatannya (serius ieu mah). Tawaran yang ditolak mentah-mentah karena beliau lebih menginginkan menantu baru, eh, menurut beliau, kosmetik itu tidak akan bermanfaat baginya. 

Pernah pula saya bertanya kepada koordinator pusat The Street Store Indonesia, apakah saya boleh menyumbangkan kosmetik, yang dijawab hanya dengan emot senyum. Mungkin dia menganggap saya bercanda.

Jadi, memang benar, solusi tak hanya donasi. Sebab memberi barang yang tidak tepat kepada orang yang tidak tepat tak akan mengubah apa-apa kecuali menambah lingkaran sirkulasi sampah. 

"Jual aja, Teh," begitu kata Ibu. 

Sayangnya, menjual barang-barang preloved atau barang baru yang tidak dipakai tidaklah semudah kelihatannya. Saya pernah menjual buku-buku koleksi pribadi di Facebook karena waktu itu lagi butuh uang berencana mau pindah kos. Beberapa buku laku tanpa insiden, sisanya diborong oleh seseorang tapi menyertakan kalimat seperti ini sebelum dia transfer, "Sebetulnya saya bisa saja, sih, membeli buku baru di toko buku. Tapi, saya tahu Teteh BUTUH UANG, jadi saya membeli semua buku Teteh." 

Waktu itu saya sudah tahan-tahan untuk tidak membalas dengan kalimat yang lebih pedas. Tapi ketika buku dikirimkan dan dia marah-marah karena katanya ada item yang kurang (padahal saya sudah memberi bonus buku segala), pertahanan saya jebol juga. Bolehlah saya miskin, tapi eung mun harga diri ditincak-tincak teuing mah piraku teu ngalawan? 

Pernah pula saya menjual barang di sebuah situs jual beli, tapi karena situs tersebut tidak menyediakan rekening bersama, pembeli yang berada di luar kota meminta saya mengunggah kembali di situs yang berbeda. Dua kali kerja, dong. Asa riweuh pisan, aslina.

Jujur, saya sudah lelah menahan beban jual beli barang preloved yang menguras emosi dan tenaga. Untungnya, sekarang saya punya solusi yang lebih baik. Dan solusi itu adalah aplikasi jual beli barang-barang bekas berkualitas: PRELO.  

TENTANG PRELO

Prelo adalah start up yang berbasis di Bandung, mulai hadir pada akhir tahun 2015 dan resmi diluncurkan pada bulan Januari tahun 2016 lalu. Main business-nya sih platform jual beli barang bekas berbasis aplikasi, tapi Prelo juga memiliki program Prelo Student Partners, semacam program untuk memfasilitasi dan mengedukasi anak-anak muda kreatif yang tertarik di bidang bisnis teknologi. 

Berbeda dengan start up lain, Prelo tidak hanya mengedepankan kemandirian ekonomi dan teknologi, melainkan juga concern terhadap isu-isu lingkungan. "Napas" start up yang digawangi anak-anak muda Bandung ini justru digerakkan oleh keinginan untuk ikut berkontribusi dalam menangani masalah lingkungan itu tadi, terutama sampah. Sesuai dengan filosofi yang terkandung dalam huruf "P" di logonya (bentuk lingkaran yang diadaptasi dari Universal Recycling Symbol), Prelo ingin agar barang-barang second yang tadinya bisa saja berakhir di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) menjadi barang yang memiliki nilai ekonomi. Dengan begini, tiga tujuan bisa dicapai hanya dengan satu langkah.

  1. Mengurangi sampah.
  2. Menambah uang saku si penjual.
  3. Mempertemukan pembeli dengan barang impian yang tidak menguras kantong mereka.

Sebetulnya saya sudah mendengar tentang Prelo jauh sebelum ini, tapi baru mengunduhnya seminggu belakangan dan yang kemudian saya lakukan adalah: MEMBONGKAR KAMAR. 

Bagi saya Prelo adalah sebuah jawaban dari timbunan barang-barang yang tidak saya dan Aksa pakai, yang hanya akan jadi kesia-siaan jika tidak didistribusikan kepada orang lain yang membutuhkannya, kepada orang lain yang menginginkannya.

Terus terang, tak mudah menyerahkan kepemilikan sebuah barang kepada orang lain. Di sana, di setiap barang itu, ada cerita yang tertanam, cerita yang sering kali saya kenang diam-diam. Tapi, hidup adalah perkara melepaskan dan merelakan. Semua barang itu hanya akan usang dimamah debu dan waktu tanpa pernah dipergunakan. Jadi, biarlah kenangan tentang mereka saya simpan, sedangkan barangnya sendiri saya lepaskan.

SEDIKIT CERITA DARI BALIK LAYAR

Selain Aksa, ada yang ikut bergembira dengan kegiatan saya akhir-akhir ini: tetangga. Kebetulan dia punya anak laki-laki berusia 1,5 tahun, terpaut satu tahun di bawah Aksa. Ketika saya sedang mengadakan photo session (baca: babalaan di teras) untuk katalog di Prelo, tumben-tumbenan dia menghampiri dan bertanya apa yang sedang saya lakukan. 

"Mau jual sepatu bekas Aksa di Prelo," jawab saya kalem. Eh, tidak tahunya dia malah tertarik untuk membeli. Tak hanya sepatu, dia juga membeli celana jeans bekas Aksa dan gendongan yang memang masih sangat baru karena jarang dipakai. Lucu memang, tidak menyangka bahwa pembeli barang preloved saya justru orang yang nyaris setiap hari bertemu. 

Kok tidak diberikan percuma saja? Menjaga harga dirinya, hanya itu jawaban yang bisa saya berikan. 

Pengalaman Berjualan di Prelo

Ketika pertama kali menggunakan Prelo untuk menjual barang-barang preloved, saya sempat merasa ragu dan tidak percaya diri. Memang ada gitu yang mau membeli barang saya selain tetangga? Mengingat etalase toko lain mah euleuh, barang-barang bermerek wungkul.  FYI, di Prelo Anda bisa menemukan barang-barang preloved bermerek tanpa takut tertipu dengan barang KW karena pembeli diberi garansi selama 3 x 24 jam. Neupi ka Prada oge aya, atuh.

Tapi, rasa ragu itu hilang ketika beberapa jam setelah mengunggah, ada yang nge-chat, bertanya tentang barang yang saya jual. Tidak closing, sih, tapi yaaa ... namanya juga permulaan, segitu mah udah uyuhan. Keeseokan harinya saya jadi lebih bersemangat, mulai mengunggah barang lainnya dan mempromosikan ke media sosial.

Kegembiraan itu datang ketika pada hari Rabu malam, 17 Mei 2017, sebuah notifikasi datang ke email, aplikasi, dan SMS. Brush set yang saya jual dibeli oleh seseorang. Ini bukan kali pertama saya jual beli barang online, tapi entah mengapa, kesan yang ditimbulkan berbeda dengan sebelumnya. Mungkin karena brush set ini sudah begitu lama saya miliki tapi tak pernah digunakan, barangkali juga karena brush set yang sama menyimpan sebuah cerita.

Karena jasa ekspedisi yang diminta jauh dari kosan, maka saat itu juga saya mengirimkan pesan kepada si pembeli, bertanya apakah saya boleh mengganti jasa ekspedisi. Tentu saja dengan bonus memilih layanan paling cepat. Enggak apa-apa, sih, nombok dua ribu mah, yang penting pembeli puas.

Untungnya pilihan jasa ekspedisi yang ada di Prelo tidak di-lock sehingga setelah mendapat persetujuan dari pembeli, saya bisa memilih ekspedisi lain. Kan, ada tuh marketplace yang pilihan jasa ekspedisinya dikunci sesuai dengan yang diminta pembeli sehingga menyulitkan ketika memilih jasa ekspedisi lain atau ketika memasukkan nomor resi.

Esok harinya, gegas saya mengirimkan barang pesanan, tak lupa menyisipkan semacam preloved note. Sekadar ucapan terima kasih kepada pembeli karena bersedia mengadopsi barang preloved saya. Tak lupa pula saya bisikkan pesan kepada si brush set.

“Kau pernah berusaha kudapatkan dengan cara menempuh perjalanan yang cukup jauh. Kau sempat akan kugunakan agar aku bisa tampil memikat di hadapan seseorang. Sayangnya, di tanganku kau hanya jadi penunggu sudut lemari, disimpan di dalam sebuah kotak lalu dilupakan. Maka kuserahkan engkau kepada pemilik baru, pemilik yang semoga saja akan menggunakanmu. Temani ia, semoga ia semakin jelita dan berbahagia ketika memilikimu.”

Lebay, ya? Tapi memang begitulah, selalu ada cerita yang tersimpan di setiap benda.

Setelah paket saya kirimkan, dengan segera pula saya mengisi konfirmasi pengiriman, mengisi nomor resi, dan menggunggah fotonya. Satu kenangan berhasil saya relakan, masih ada beberapa yang menunggu dijemput pemilik barunya.

Review Aplikasi Prelo

User Experience (UX)

Untuk sebuah aplikasi, terlebih itu aplikasi jual beli, User Experience (UX) itu penting, sangat penting. Pengguna, baik itu penjual maupun pembeli, harus bisa menggunakannya tanpa terkena serangan sakit kepala. Bukan, ini bukan masalah apakah pengguna familiar dengan teknologi, tetapi apakah si pembuat aplikasi mampu menjawab kebutuhan pengguna atau tidak.

Well, seperti yang saya tulis dalam review di Google Play, saya sebagai penjual tidak menemui kendala ketika menggunakan aplikasi Prelo. Proses sign up mudah, verifikasi mudah, pun ketika saya mengunggah barang yang akan dijual.

Oh, dan satu tambahan lagi. Aplikasi Prelo termasuk ringan jika dibandingkan dengan aplikasi kompetitor, hanya 39,59 MB. Masih banyak space untuk menyimpan kenangan.

Shortcut

Ketika pertama kali masuk, ada satu tombol dengan ikon kamera di bagian bawah aplikasi. Iya, itu tombol jual. Menurut saya, shortcut ini memudahkan kita jika ingin menjual barang. Yah, teu kudu kukurilingan atau ngubek-ngubek aplikasi.

Dan si tombol jual ini muncul di mana-mana, hayoh. Jadi, di mana pun kita berada, kita bisa langsung menjual barang. Semacam pengingat agar para penjual lapar mata seperti saya segera kembali ke jalan yang benar. *aduh, eta sweater Armani ngadadahan euy

Fitur Jual Barang

Mudah banget, lho, menggunakan fitur jual barang ini. Poin-poin yang harus diisi pun menurut saya detail sehingga para penjual tidak perlu mengarang bebas hanya agar barangnya laku.

Hanya sedikit kekurangannya → batasan minimal resolusi foto yang cukup besar. Yes, I know, ini dimaksudkan agar etalase tidak sareukseuk dengan foto-foto blur atau foto yang tak layak tampil, tapi ini juga menyulitkan bagi penjual yang tidak memiliki memori penyimpanan besar.

Kategori

Seluruh barang yang kita jual ataupun yang akan kita beli dibagi ke dalam kategori dan beberapa subkategori. Well, okay, mungkin ini terdengar biasa. Tapi, tahukah Anda bahwa sistem klasifikasi yang tepat pada aplikasi jual beli akan berpengaruh pada konversi?

Minus: di tampilan pembelian, kategori Women dan Men tidak dibagi ke dalam jenis barang seperti di kategori lain, melainkan disubkategorikan berdasarkan strata merek: luxury, high street, dan budget.

Etalase Toko

Yup, setiap penjual memiliki "warung" sendiri. Tampilannya juga enakeun. 

Fitur Share

Media promosi tambahan? Medsos lah jawabannya. Setelah mengunggah barang jualan, kita bisa langsung membagikannya ke 3 media sosial utama: Facebook, Twitter, dan Instagram. Khusus untuk IG, tidak ada direct link, tapi caption dan foto sudah ready to share. 

Sayangnya tidak ada fitur share ke WhatsApp sehingga agak sulit kalau mau nge-BC, eh, kalau mau membagikan ke personal. 

Fitur share ini juga tidak tersedia di tampilan browser. Barangkali agar semua transaksi dipusatkan di aplikasi. 

Notifikasi

Setiap kali ada transaksi, kita akan dikirimi notifikasi ke email, aplikasi, dan SMS. Kenapa, kok, banyak sekali notifikasinya? Tujuannya jelas kalau menurut saya, supaya jika kita tidak sedang membuka email, misalnya, kita masih bisa menerima notif via SMS.

Proses Verifikasi

Dari yang saya baca di laman FAQ, proses verifikasi pembayaran yang dilakukan oleh pembeli memakan waktu maksimal 2 x 24 jam. Terus terang, awalnya ini membuat saya khawatir. I mean, kalau sistem verifikasi pembayaran saja selambat itu, apa kabar dengan penarikan uang? 

Tapi ... ternyata kekhawatiran saya itu pupus ketika barang saya ada yang membeli. Saya lihat pembelian dan pembayaran dilakukan pada hari yang sama, dan malamnya saya sudah mendapatkan notifikasi pembelian. 

Yang barangkali masih menjadi masalah adalah verifikasi pengiriman. Saya tidak tahu apakah resi sudah sampai di sistem pembeli atau belum, jadi sebagai langkah preventif, saya mengirimkan nomor resi kepada pembeli melalui chat.  

Fitur Search

Memang apa istimewanya fitur search? Toh, nyaris semua aplikasi memilikinya. Oke, begini, di Prelo fitur search dibagi lagi ke dalam beberapa kategori: barang, kategori, merek, nama toko, dan user name. Dan kategori pencarian ini ditempatkan di depan, bukan di pencarian lanjutan. Hasilnya pencariannya pun relevan. Sekali lagi, ini memudahkan. 

Mengapa Prelo?

Iya, mengapa harus Prelo? Apa bedanya aplikasi ini dengan aplikasi sejenis? Saya pribadi sempat berpikir subjektif, sih, maksudnya ketika tahu bahwa Prelo digawangi oleh anak-anak muda Bandung, sebagai mojang priangan (((mojang priangan))), saya langsung merasa bangga gitu. Tapi, sebagai bloger profesional *eheum, saya tentu harus memberikan pendapat yang objektif, bukan? IMHO, ada beberapa poin plus yang membuat Prelo layak untuk saya rekomendasikan. 

Jual Beli

Anda tidak hanya bisa menjual barang-barang second, tapi juga membeli. Saya menyebut ini dengan sistem barter terselubung. Hahahah. Ya, kita bisa menjual barang yang tidak kita gunakan dan membeli barang yang betul-betul kita butuhkan di dalam satu aplikasi.
Tuhan, lindungi saya dari buku-buku yang ngagupayan itu, Tuhan. *doa

Aman

Prelo dibekali dengan sistem rekening bersama sehingga para pembeli merasa aman, pun dengan penjual.

Kualitas

Saya pernah mengunggah barang dengan foto yang saya pinjam dari supplier dan dalam 2 menit langsung dinonaktifkan oleh Prelo. Hahahah. Ya, memang begitu peraturannya. Foto yang digunakan haruslah foto asli. Dengan begini kita tidak akan menemukan barang yang di foto bagus banget, eh, pas sampai kualitas barangnya ya gitu deh.

Garansi

Ini perlindungan pembeli layer selanjutnya. Prelo memiliki fasilitas layanan purna jual selama 3x24 jam. Jadi, jika barang yang dipesan terbukti KW, memiliki cacat yang tidak diinformasikan, atau berbeda dari barang yang dipesan, kita boleh komplain dan mengembalikan barang. Uang akan dikembalikan dalam bentuk Prelo balance dan bisa dicairkan KAPAN SAJA.

Original

Barang-barang bermerek yang dulu hanya kita lihat di televisi atau sekadar gambar di dalam majalah, sekarang bisa kita temukan di Prelo. Ori pula. Tapi, ada satu saran bagi Anda sebelum jalan-jalan ke berbagai kategori ==> kuatkan iman.

Hemat

Tergantung deskripsi dari kata hemat yang Anda miliki. Tapi, menurut saya, hemat adalah bisa membeli buku second, murah, dan tidak usah capek-capek ngesot ke toko buku atau ke Palasari.

APA KATA MEREKA TENTANG PRELO

Aplikasi ini memudahkan bgt buat cari barang yg lg dibutuhin tp budget terbatas.
NIA APRILYA
Nia Aprilya
Mahasiswi
Keren untuk aplikasi barang bekas. Karena prelo memakai rekber jadi lebih aman untuk transaksi.
TARY WILUJENG
Tary Wilujeng
Penulis
Gampang digunakan, fitur2nya oke bgt, banyak pembeli, brg2nya terjamin ori, slama setaun lebih pake aplikasi ini ga pernah kecewa.
rhily zoro
Rhily Zoro
Blogger
DEAR PRELO-01

Dear Prelo

Ini bukan aplikasi yang sempurna, bukan aplikasi tanpa cacat cela. Sebab di dalam kefanaan, yang sempurna hanyalah alis Raisa. Tapi, alih-alih membahasnya sebagai kekurangan, saya lebih suka langsung ke klausul kritik dan saran. Diterima syukur, enggak diterima ya udah kita temenan aja.

Poin-poin informasi detail barang yang tampil di browser berbeda dengan yang tampil di aplikasi. Misalnya, di browser ada info "ukuran" sedangkan di aplikasi tidak ada. Begitu juga dengan info berat badan, eh berat barang (duh sensi euy ngabahas berat badan, mah) ada di apps tapi tidak ada di browser. Menurut saya ini akan membingungkan baik penjual maupun pembeli. Tampilan responsif tentu bagus, tapi akan lebih bagus lagi jika informasi mendasar seperti ini tidak hilang begitu saja. 

Di front end browser ada info ukuran tapi di back end-nya tidak ada isian untuk ukuran, jadi info ukuran di front end kosong. Oke, ini kita sedang membahas aplikasi, tapi mengapa membahas browser? Karena menurut saya sebagai pengguna, saya pribadi menggunakan dua metode untuk mengunggah barang atau ketika membalas pesan dari calon pembeli. 

Mohon tambahkan juga info ukuran untuk item selain sepatu di back end dan front end aplikasi (Ini kenapa sih dari tadi ngomonginnya ukuran mulu?). Atau begini, deh, karena ukuran bisa ditambahkan di nama barang atau deskripsi, yang di front end browser boleh dihapus supaya matching dengan aplikasi dan tidak membingungkan.

Info special story tidak ada di browser, ini kurang seru kalau menurut saya karena walau bagaimanapun, kans kami untuk curhat jadi berkurang. *naon ih aikamu

Untuk menjaga khitah Prelo sebagai tempat jual beli barang bekas berkualitas, saya kira perlu adanya penertiban toko-toko online yang ternyata menjual barang baru biasa. Pertama, karena kalau olshop-olshop ini mulai buka toko di Prelo, lalu apa bedanya Prelo dengan marketplace lainnya? Unique value kalian hilang, dong, kalau begitu. Kedua, keberadaan olshop biasa ini justru akan kontra produktif dengan filosofi Prelo itu sendiri. Ketiga, the most valuable benefit dari membeli barang di Prelo adalah cerita di balik barang-barang itu, bukan hanya harga, bukan hanya barang no KW. 

Karena ini aplikasi yang notabene digunakan di smartphone, akan sangat membantu jika disediakan juga fitur share ke WhatsApp atau aplikasi DM lainnya. Bukan, bukan untuk nge-broadcast, kok. Berdasarkan pengalaman saya kemarin-kemarin, ada teman yang tertarik untuk membeli sepatu ketika saya bercerita bahwa ada aplikasi jual beli barang bekas baru. Karena tidak bisa copas link saya kirim link browser, tapi tidak bisa dibuka. Saya minta dia ke Facebook atau Twitter, masalahnya dia tidak punya kedua medsos itu. Pilihan terakhir adalah meminta dia mencari user name saya, tapi dia sudah lebih dulu haroream.

Subkategori untuk kategori Women dan Man itu apa tidak sebaiknya diklasifikasikan per jenis seperti lainnya? Maksud saya, oke Prelo menjual barang-barang preloved branded yang asli, tapi berapa banyak sih yang hafal kelas-kelas merek seperti itu? Bagi kelas masyarakat nanggung seperti saya, Prada dan H&M itu stratanya sama, yang berbeda hanya harganya. 

Saya tahu bahwa ketika sebuah platform berbasis aplikasi dilempar ke publik, maka si pemilik platform itu tidak dapat mengontrol konten secara penuh. Tapi please atuhlah, saya masih melihat para penjual yang galak pisan. Ada juga, lho, yang di deskripsinya menulis seperti ini, "Yang serius hubungi WA, jangan cuma chat nawar-nawar doang karena saya jarang online di sini. COD daerah X." 

Har, jang naon atuh muka warung ari tara online mah? Jang naon aya rekening bersama yang menjamin keamanan ari kudu COD sagala mah? Matak balanja online ge, haroream kaluar. Hih!

Well, ke depannya mungkin Prelo bisa membuat satu blog post tentang komunikasi bisnis dan mensosialisasikannya ke semua seller. Nggg ... kalau butuh content writer tambahan, boleh hubungi saya. *diteke :p

Selamatkan Bumi
Dari Langkah kecil

Kita, saya dan Anda, tak harus menjadi aktivis lingkungan atau menjadi superhero agar bisa menyelamatkan bumi. Kita bisa memberikan kontribusi sesuai dengan kemampuan. Percaya sama saya, sekecil apa pun kontribusi yang kita berikan, akan memberikan dampak positif bagi planet ini.

Sebelum saya mengakhiri cerita hari-hari saya bersama Prelo, saya ingin kembali mengingatkan Anda tentang kontribusi apa saja yang bisa kita berikan untuk Bumi.

PRELO_7

HEMAT AIR & ENERGI

Menghemat bukanlah sama sekali tidak menggunakan air dan energi, melainkan menggunakannya dengan bijaksana, secukupnya.

IKON PRELO_3

REDUCE, REUSE, RECYCLE

Setiap barang bekas bisa memiliki fungsi lain jika dimanfaatkan dengan benar. Misalnya, kaleng susu bekas bisa disulap menjadi pot tanaman, toples kaca bekas kopi bisa digunakan kembali atau diubah menjadi tempat sendok, kantong-kantong goodie bag bisa juga lho disulap menjadi hanging rack.

IKON PRELO_5

JUAL KEMBALI

Ini bukan hanya tentang uang, sebab ada hal-hal yang tidak bisa dinilai dengan sebanyak apa pun deret angka di buku tabungan. Menjual kembali barang-barang yang tidak kita pakai adalah mengkonversi sesuatu yang sia-sia menjadi berharga.

IKON PRELO_6

BIJAKSANA DALAM MEMBELI

Batasan antara kebutuhan dengan keinginan itu setipis kulit ari. Hanya membeli barang yang benar-benar kita butuhkan bukan hanya akan menghemat uang, tapi juga bisa menyelamatkan Bumi.

IKON PRELO_4

DONASIKAN

Barang bekas yang kita miliki, yang hanya jadi "sampah" di sudut lemari, bisa saja memiliki arti yang lebih besar bagi hidup orang lain. Pilahlah barang-barang bekas layak pakai lalu sumbangkan kepada mereka yang lebih membutuhkan.

Harta Karun Ingatan

Saya tidak pernah menyangka bahwa mengumpulkan barang-barang untuk dijual justru membawa saya ke harta karun ingatan. Setiap benda seperti horcrux dalam serial Harry Potter, yang menguarkan cerita ketika disentuh. Ada sepatu boots bekas Aksa, sepatu boots pertama yang saya belikan untuk dia. Yang mengingatkan saya bagaimana dulu dia memulai langkah pertamanya. 

Ada kosmetik yang dulu begitu saya inginkan agar saya terlihat cantik di mata seseorang, tapi kemudian tidak pernah saya gunakan karena saya sadar bahwa ia tak pantas diperjuangkan.

Ada buku agenda unik yang diberikan ayahnya Aksa, buku agenda yang tak pernah saya sentuh karena setiap kali melakukannya, saya selalu dihantui tentang kepergiannya. 

Dan benda-benda lain yang menyimpan cerita, tawa, dan luka. Tapi, tahukah Anda apa yang saya rasakan ketika mengumpulkan, mengambil gambar, dan mengunggahnya ke aplikasi Prelo? Lega luar biasa. Saya bukan hanya sedang mengkonversi "sampah" menjadi barang yang memiliki nilai ekonomi, bukan hanya tengah berkontribusi menyelamatkan bumi, tapi juga sedang membersihkan memori.

Sebab tak semua ingatan pantas disimpan, lebih banyak lagi yang harus kita lepaskan. Kita relakan.

Blogpost ini diikutsertakan dalam:

PRELO BLOG COMPETITION

Download aplikasi Prelo di sini:

Kunjungi toko saya di:

IKON PRELO_5

@LangitAmaravati

Masukkan kode referral LangitAmaravatiYMfh6L dan dapatkan referral bonus sebesar 25 ribu.

Grafik & Ilustrasi
  1. Langit Amaravati
Foto
  1. Langit Amaravati
  2. Prelo
Sumber Referensi
  1. Prelo
  2. WWF
  3. Nat Geo
  4. Ecological Intelligance (Daniel Goleman, 2009)

17 Comments

  1. May 23, 2017 at 8:12 am

    Penjelasan Mbak Langit memanag Mantap, luar biasa, jadi banyak pengetahuan kita! Keren ya, Prelo, mesti download ne!

  2. May 22, 2017 at 9:39 am

    Kereeen bangeet mbak artikelnya, blognyaa kece pisaan euy 😀

    Aku uda download prelo jugaaa, bagus” barang preloved yg ditawarkan. Harganyapun bersahabat dengan kantong 😀 Suksesss yaaak 🙂

  3. May 22, 2017 at 7:39 am

    Emang cara paling gampang selamatkan bumi adalah menjual barang gak kepake. Udah mah misinya mulia, dapat uang juga aheuheuheuueu 😀

  4. May 21, 2017 at 8:22 pm

    Uda ketagihan jual2 prelovedku nih biar dapet duit banyak.haha

    • May 22, 2017 at 7:13 am

      Hahahah. Iyaaaa… aku juga mau bongkar koleksi buku, nih.

  5. May 19, 2017 at 11:14 pm

    wow keren banget ini mah mba aku jadi ikutan ga yah?hahaha mendadak meriang lihat nu keren kieu mba jadi hoyong nyeblak 😂

  6. May 19, 2017 at 9:57 pm

    Haduh Teh, keren pisan. Tampilan dan isi saling mendukung. Ibarat perempuan, yahui luar dalem. Saya sampek melongo di depan hp saking detilnya. Ckckck… calon juara maning, ini mah.

  7. May 19, 2017 at 9:16 pm

    edun lah..keren pisan artikelna.
    calon jawara ieu mah 😀

    *salam hangat dari Bali teh

    • May 22, 2017 at 7:18 am

      Halo Mas Juniawan, salam hangat juga dari Bandung. Terima kasih sudah berkenan berkunjung. 🙂

  8. May 19, 2017 at 7:16 pm

    akoh udah daptar aplikasinya, teh

    sumpeh deh palaku ndadak poning liat kategori barang luxury to budget, tas2nya ucul ucul + koleksi baju anak pun sama huhuhuhu untung transferan blm masuk, bisa nahan lah

    yg asik dari prelo ini, terbuka informasinya, kayak barang preloved yg dijual itu dari mana, ada yg dari hadiah, ada yg karena baru 2x pake etc

    • May 22, 2017 at 7:19 am

      Iyaaa … aku yang niat jualan malah kelayapan. Dasar godaan pisan. Hahahah.
      Aku juga seneng baca story-nya.

  9. May 19, 2017 at 6:58 pm

    Geellaaa uchhaann…
    Langsung jiper akuuu 😑😑😑😑

    Tajam setajaaamm pisauwww… Semoga berhasil yaaa..

  10. May 19, 2017 at 4:52 pm

    Keren banget Prelo ini.
    Postingannya juga menggugah banget, Chan.
    JUARA!

    • May 19, 2017 at 5:57 pm

      Kak, udah download aplikasinya belum, Kak?
      Kalau belum, download dulu gih terus pake kode referral akoh biar dapet bonus Prelo balance sebesar 25 ribu.
      (balesin komen a la hardselling) Hahahaha

Leave A Comment