Didorong oleh rasa penasaran dan nggak ada kerjaan, aku menonton sinetron Manohara. Entah episode yang keberapa, yang jelas Mano sudah menikah dan mulai mengalami penyiksaan.


Lima belas menit berlalu, aku tak bereaksi apa-apa. Menit berikutnya, mulai tak tahan dan memutuskan untuk mengganti saluran. Lebih baik menonton ‘Shear Genius’ daripada ntar trauma.


Mungkin produsernya berniat baik dengan mengangkat tema KDRT ke dalam sinetron. Terlepas dari pertimbangan komersial, KDRT memang sedang ngetren, sedikitnya tema yang diangkat ini dapat memperlihatkan kepada masyarakat Indonesia bahwa isu ini bukanlah isapan jempol atau sekedar tema di seminar-seminar. Hal ini sungguh terjadi, dan Mano bukanlah satu-satunya.


*



LEARNING FROM PERSONAL EXPERIENCE


Kekerasan -baik secara fisik maupun psikis- yang dialami oleh korban KDRT akan menimbulkan dampak berkepanjangan. Bekas luka di badan bisa hilang seiring waktu, tapi luka dalam alias mental tidak akan bisa sembuh hingga -barangkali- selamanya. Kalaupun efek itu tidak kentara sekarang, namun rasa trauma itu bisa mengendap untuk kemudian bangun lalu ‘mengacak-ngacak’ emosi si korban suatu hari nanti.


Luka psikis lebih berbahaya daripada luka fisik itu sendiri. Sebab tubuh manusia mempunyai kemampuan untuk beregenerasi, sedangkan hati tidak. Maka tidak jarang kita jumpai seorang korban KDRT yang berakhir di rumah sakit jiwa. Atau tetap berusaha waras tapi dengan emosi labil yang setiap saat bisa meledak.


Trauma yang diakibatkan kekerasan oleh pasangan sendiri juga akan berdampak pada pola pikir dan -terkadang- orientasi seksual. Jika si korban adalah perempuan -yang notabene lebih banyak menggunakan perasaan untuk menetralisir keadaan- bisa jadi ia berubah frigid dan tidak tertarik lagi (baca: takut, marah, dendam) untuk membina hubungan dengan lawan jenis. Atau terus-menerus menyalahkan diri sendiri sehingga kehidupannya stuck di satu tititk.


Bisa juga dia berubah 180 derajat dari perempuan baik hati penyuka bunga lily menjadi perempuan sinis, bengis, sadis, penyuka kaktus, dan gemar mengoleksi benda-benda tajam (serius nggak sih aku menulis bahasan ini?).


Meski si korban tidak lantas menjadi homo seksual, kebanyakan dari mereka memutuskan untuk hidup selibat dengan gaya hidup ala biarawati: vegetarian, aktivis green peace, rajin menanam pohon, berpedoman 3R (reduce, reuse, & recycle), serta mengurangi sampah plastik. (sounds on my head: Chan, lu lagi nulis tentang efek psikis pada korban KDRT atau cara meminimalisir global warming?)


Oke, aku akan berusaha serius kali ini. Jadi begitulah, akhirnya Manohara kembali ke pelukan Ibu Pertiwi dan punya profesi baru sebagai bintang sinetron untuk menghidupi keluarganya. Lho?


Baiklah, kesimpulan dari catatan simpang siur ini adalah jelas, bahwa KDRT betul-betul tidak baik untuk dikonsumsi karena bisa menyebabkan kanker, serangan jantung, gangguan kehamilan, impotensi, dan ganguan jiwa. Titik.


*


Dan mengenai sinetron Manohara tadi, sebaiknya jangan ditonton apabila kalian sedang dalam proses perceraian, atau sedang mengalami banyak tekanan pekerjaan, atau sedang terlilit banyak hutang.


***

Leave a Reply