PUISI TANPA JUDUL, UNTUK SESEORANG


Kami akan duduk di kantin saat makan siang


kadang berdua saja


menyantap ayam goreng, setelah kemarin ayam rendang, dua hari yang lalu ayam sambal, tiga hari yang lalu ayam rica-rica


“Lama kelamaan aku bisa berkokok, atau bertelur,” leluconku


kami tertawa tapi menghabiskan ayam goreng itu dengan rela


tak pernah sekalipun ingin mengeluh


karyawan di pabrik lain hanya makan mie instant di tepi jalan, makan siang kami adalah suatu kemewahan




Di tengah kantin yang difasilitasi tivi, gerah, dan berbau keringat


pembicaraan kami tak pernah sama setiap hari


mengingat tayangan di tivi adalah berita tentang selebritis tanah air kita, sebisanya kami menutup telinga dan pura-pura tuli


hidup sudah cukup sesak meski tanpa ditambahi berita perceraian atau pertikaian mereka, orang-orang yang bahkan tidak kami kenal


sesekali menyempatkan diri untuk menyimak, kemudian mencaci dan menertawakan hidup mereka yang bagai imaji



Maka kami akan memperbincangkan tentang pertandingan basket atau sepak bola. Membicarakan pacar masing-masing, orang-orang yang dekat dan kami kenal.

Sekarang, setelah terpisah jauh berbatas lautan, aku tetap makan siang, dengan orang yang berbeda, dan percakapan-percakapan itu tak pernah kembali. Tak ada teman yang begitu asyik diajak mencaci pejabat dan artis di televisi seperti dirinya.


Nagoya, April 2009

Untuk seseorang di Lobam: mengingatmu dan ajaran sesatmu, merindumu dan mengenangmu. Semoga makan siang seperti itu suatu saat kelak akan terulang. Jangan menyesal mengenal manusia nuansa sepertiku.

Leave a Reply