PUISI YANG NYASTRA

Suatu teks disebut sebagai karya sastra apabila mampu memberikan kepada pembacanya suatu pemahaman baru dan mendalam tentang kompleksitas kehidupan manusia. Teks tersebut harus sanggup menjalin interkomunikasi antara hakikat realitas dan hati sanubari. Harus dapat menampilkan suatu segi dari realitas yang belum seutuhnya diketahui, realitas paling abstrak, yang sanggup membangun kesadaran kontemplatif tentang apa hakikat hidup, kehidupan manusia, dan kemanusiaan. (Tjahjono Widarmanto. Pikiran Rakyat, 6 September 2008)
Puisi sebagai karya sastra paling abstrak. Dengan beberapa bait saja, berbagai realitas kehidupan manusia bisa terwakili. Saya sebut abstrak sebab pengertian atau pemahaman tidak didoktrinkan secara gamblang ke dalam benak seseorang. Ini wilayah aman jika ingin bercerita tentang patah hati lalu mengasosiasikannya dengan sebuah gelas pecah, misalnya. Seorang ekonom akan memahami peristiwa itu dari segi ekonomi. Seorang akuntan akan menghitung kerugian dan memikirkan akan dimasukkan ke pos mana gelas yang pecah sia-sia itu. Seorang ibu rumah tangga bisa saja kesal karena teringat perabotannya di rumah. Itu sebabnya kesan bagus atau tidak sebuah puisi tidak bisa distel seragam dalam benak setiap orang. Persis seperti seni rupa. Tidak ada yang benar, tidak ada yang salah.
Terlepas dari maksud seorang penulis terhadap puisinya, daya pikir pembacanyalah yang kelak memberikan nilai. Jadi jalinan interkomunikasi antara hakikat dan hati sanubari penyair dengan hakikat hati sanubari pembacanya hanya akan bertemu di satu titik: pengalaman.
‘Memang di musim salju/Tak ada bunga kuncup walau sepucuk/

Tapi di kalbuku; kau setangkai angkuli/Mekar sudah.’
Kau, Soni Farid Maulana
Ketika membaca bait di atas, apa yang Anda pikirkan? Apa yang Anda rasakan? Saya yang tak pernah melihat salju akan menerka bahwa bait itu tengah bercerita tentang hati seseorang yang dilanda sepi, dingin melebihi musim hujan. Namun seseorang yang diibaratkan setangkai bunga senantiasa mekar dan menghangatkan.
Mungkin Anda yang pernah ke Perancis atau tahu betul tentangnya akan beranggapan lain. Sebab Anda tahu bahwa bunga angkuli itu kebanyakan tumbuh di Perancis. Sekian banyak orang yang membaca, sekian banyak pengalaman berbeda, maka semakin beragam apresiasi yang tercipta.
Ada orang yang beranggapan bahwa semakin susah dimengerti sebuah puisi, maka semakin baguslah karyanya. Jadi di mana membangun kesadaran kontemplatif tentang apa hakikat hidup diletakkan? Apakah di dalam kerut-merut dahi setiap orang? Ataukah di atas anggukan-anggukan samar nan ragu? Terserah, sebab puisi adalah wilayah abstrak :D. Dan memasukinya berarti tenggelam ke dalam benak abu-abu orang lain. Apa yang Anda punya, itulah yang Anda bawa keluar.
Kontradiktif dengan anggapan di atas, juga ada orang yang menarik kesimpulan bahwa puisi yang bagus adalah puisi yang sekali tusuk. Jleb! Langsung mengena di hati sanubari. Tidak harus bingung-bingung dulu atau gulang-guling mencari kamus. Apakah seperti itu yang dikatakan bagus? Saya benci mengatakan ini, tapi sekali lagi, terserah! Ini puisi, seabstrak-abstraknya, seabsurd-absurnya, seaneh-anehnya, dan senyeleneh-nyelenehnya. Toh semua tujuan penulis pada akhirnya akan dimamah oleh pengalaman dan pemahaman pembacanya.
Jadi bagaimana puisi yang nyastra dan bagus? Apakah yang memakai banyak kata kiasan atau yang langsung pada tujuan? Sungguh, saya tidak berhak dan bahkan tak punya jawabannya. Sebab sebagai penikmat sekaligus penggubah puisi, saya tentu punya pendapat yang sangat subyektif mengenai ini.

Sebuah puisi, digubah dengan tujuan membangun kesadaran maupun tidak. Dikategorikan sebagai sastra ataupun bukan. Tetaplah sebuah puisi yang dalam proses pembuatannya melalui labirin kehidupan penggubahnya. Proses pembuatan itu sendiri sudah digodok di dalam rahim kehidupan manusia. Oleh manusia. Mencerminkan pandangan hidup seorang manusia. Jadi tidak penting apakah itu mendapat predikat sastra atau tidak.

Leave a Reply