“Sudah malam, mari kita tidur,” katamu di depan kamar.

“Ini sudah pagi, jadi aku harus terjaga,” balasku.

Percakapan kita tidak pernah ke mana-mana, hanya sampai di ajakan basa-basi yang nyaris sia-sia. Kadang kita membicarkan cuaca, atau skor pertandingan sepakbola. Meski kita tak pernah tahu siapa lawan siapa-siapa atau klub mana yang kita jagokan sebagai juara.  Tapi kita selalu bicara, selalu ingin saling bersua, walau kata-kata terpatah untuk kemudian terlarung kepada entah.

Andai engkau tahu bahwa tidur kerap menjadi hantu. Hantu yang menyergapku ke dalam jeruji bernama sunyi sehingga sering kali tubuhku beterbangan ke dinding atau ke lampu pijar, atau ke tempat lain yang tidak aku kenal. Kepalaku sendiri sudah terlebih dahulu menggelinding kepada pikiran-pikiran liar tentang medan perang di Afganistan sana, sesekali mampir ke pedalaman Afrika dan berlarian di savana. Yang jelas, aku tidak bersamamu, pun kau tidak bersamaku.

Kita adalah dua orang yang tidak saling mengenal. Kita menjadi sedemikian asing. Kadang pula kita adalah dua buah benda bernama pintu dan kipas angin yang satu sama lain tak pernah bermuara di kata ‘ingin’.

Kamar kita adalah penjara, dan malam adalah sipir paling neraka.

Maka aku tidak akan pernah tidur selamanya, jika itu berarti kembali menjadikanku bukan siapa-siapa.

Leave a Reply