Waktu memperpanjang SKCK (Surat Keterangan Catatan Kepolisian) di Polres Bandung Barat, aku udah deg-degan karena cuma bawa uang pas-pasan. Sebelumnya, aku minta dibuatkan SKCK sama petugas kecamatan. Dia minta Rp. 30.000,- Ya udah, mendingan aku bikin sendiri ke Polres. Gila aja, ternyata punya kenalan petugas kecamatan sama sekali nggak ada guna. Emang sih, si petugas itu teman sekelasku waktu SMP, tapi nggak ngaruh juga ya. Secara, dulu dia sering ditindas sama aku. [iya ngaku deh, waktu SMP aku emang preman]
Pas SKCK ku udah jadi, sambil berdebar-debar aku tanya berapa biayanya.
“Berapa, Pak?”
“Apanya?” tanya Pak Polisi. Eh, tukang bikin SKCK di reskrim itu polisi juga kan? Sabodo, teu ngarti!
“Biaya administrasinya,” duh, jangan mahal-mahal Pak, doaku dalam hati. Ni duit buat beliin Salwa es krim dan ongkos pulang.
“Terserah Neng lah!” jawabnya sambil cengar-cengir.
Hah? Gimana sih?
“Jangan bilang terserah dong, Pak! Saya kan nggak tahu TARIF RESMINYA.” sengaja kutekankan kata ‘tarif resmi’ dengan intonasi suara dan mimik intimidasi [yay, gue emang jago kayak ginian :P]
“Ya, Neng mau ngasihnya berapa, terserah.”
Wah, ini udah nggak bener nih. Serasa dapet angin seger, aku tekan lagi dia. “Emang ada ya Pak biaya administrasi untuk pembuatan SKCK?” kali ini dengan raut wajah ‘pura-pura tahu tapi cuek’ plus keeleganan seorang mata-mata KPK.
“Mmmhh…ya udah, bawa aja lagi uangnya.”
Hore! Berhasil! Yes! Yes!
Kuceritakan kejadian ini ama keluargaku di rumah. Jadi adikku ikut-ikutan memperpanjang SKCKnya. Tapi kok dia bayar Rp 15.000,’ Haha…emang udah rezeki aku kali yak.
Aku emang termasuk orang yang rese dengan urusan pungli ini. Jangan harap aku mau mengeluarkan uang seperserpun untuk yang gituan. Nggak ada istilah amal, ikhlaskan saja, atau tak apalah asal urusan beres, dll dalam kamusku. Sebab menurutku membayar pungli sama sekali tidak mendidik. Itu prinsip. Sama aja kita permisif terhadap perbuatan itu. Wong jelas-jelas mereka dah dapet gaji, kok bisa-bisanya memeras rakyat jelata.
Makanya sebelum ngurus dokumen apapun, aku usahakan baca peraturan resmi tentang perincian biaya resminya. Waktu bikin KTP dulu, di perda cuma Rp 5.000,- tapi aku diminta Rp 25.000. Pas aku tanya yang Rp 20.000 itu untuk apa; kan harus minta tanda tangan lurah, katanya. Maka aku pun mintain tanda tangan ke Pak Lurah sendiri, gratis. ‘Kan dokumennya harus diantar ke Disduk’ : ‘Lho, itu kan emang kerjaan kalian. Kalian digaji untuk itu, ngapain juga minta-minta upah sama aku? Nggak malu gitu?’
Biasanya sang petugas kecamatan teman SMPku itu akan menerima uang administrasi resmi dariku dengan berat hati -eh, sekarang bikin KTP malah gratis,kan?- Sudah menjadi rahasia umum, kalau uang pelincinnya kurang, maka proses dokumen kita akan dipersulit, bahkan diabaikan. Terpakasa kebiasaanku menindasnya kambuh lagi.
“Gung, kalau kamu mempersulit ini. Aku bakalan bikin hidup kamu lebih sulit lagi.” Dia tahu aku serius. Dan, tring! Nggak sampe seminggu KTP ku udah jadi.
Tapi paling sebel kalau harus ngadepin ibu-ibu bawel. Pernah legalisir KTP untuk persyaratan penerimaan CPNS, en dimintain uang sama ibu-ibu itu.
“Untuk apa?” tanyaku heran, masa sih minta tanda tangan ama cap aja harus bayar? seberapa mahal kah tanda tangan seorang camat?
“Untuk biaya fotocopy.”
“Kan saya yang foto copy sendiri tadi, Bu. Pake uang saya, nggak minjem dulu uang Ibu.”
“Untuk kas amal kecamatan.”
Aku cari-cari kotak amalnya. Nggak ada. Duh, Ibu; kalo mo minta pungli yang kreatif dikit kek. Sejak kapan kecamatan punya kotak amal? Dan sejak kapan amal harus dipaksa-paksa?
“Tiga ribu per lembar.”
Busyet, lima belas ribu untuk legalisir seuprit doang? Untuk legalisir atau untuk makan siang?
“Mmmhh…” aku memasang tampang ragu.
“Seikhlasnya Neng aja, lah!” si Ibu-Ibu ini mulai terlihat kesal.
Tanggung, kepalang mual, pikirku. “Kalau saya nggak ikhlas?”
“Ya udahlah nggak usah!” lalu si Ibu memasang tampang jutek, khas raut wajah di bagian pelayanan publik.
Aku pun pulang dengan wajah kemenangan. Sejak saat itu petugas kecamatan kapok urusan sama aku. Dikiranya aku wartawan atau mahasiswa kurang kerjaan yang lagi bikin penelitian mengenai kinerja pegawai pemerintahan. [*O*]!!!!! =baca:capek deh!

Leave a Reply