PUTRI DRUPADI



:Salwa Isheeqa Azzahra Maryam

Hari masih pagi ketika kau terbangun lalu tersenyum kemudian beranjak menuju rak buku. “Apa pelajaran kita hari ini, Bun?” tanyamu padaku. Otakku dibanjiri imaji dan ilusi tentang bagaimana memberimu makan sedangkan kau tak pernah sekalipun berkeluh meski setiap hari memamah menu yang sama; peluh. Aku berjinjit, mengintip isi dompet lalu memutuskan bahwa sarapan kita ditunda sampai waktu yang tak tereja. Namun senyummu, senyum dan binar mata yang –aku tahu- bukanlah palsu itu, menjantera seluruh molekul dalam darah untukku menghadapi dunia.

Kau menghisap darahku selama tujuh ratus tiga puluh hari dan mengambil seluruh tegar beserta keinginan hidup yang selalu membuatku terperangah. Berapa umurmu sekarang, Nak? Pernahkah kujejali kau dengan televisi dan iklan-iklan halusinasi? Tidak, bukan? Nah, bersegeralah mandi. Hari ini kita akan menapaki pematang terjal bernama hidup itu lagi.

Bandung, 20 Juni 2010

Leave a Reply