PUTRI DRUPADI



Ternyata kebahagiaan tidak terletak pada mobil mewah, apertemen megah, atau uang melimpah. Kebahagiaan itu ternyata terletak di sebatang es krim berharga tak lebih dari dua ribu rupiah.

Gadis kecil itu baru berusia lima bulan ketika orang tuanya bercerai, berusia tiga belas bulan saat ibunya pergi merantau ke seberang pulau Jawa. Selama bertahun-tahun, dunianya hanya diisi oleh nenek, kakek, paman, bibi, dan tetangga. Sosok Bunda adalah ia yang hanya datang setahun sekali, menelepon tiga hari sekali, dan sepucuk surat setiap dua minggu. Sedangkan ayah adalah laki-laki yang tak pernah ia kenal sampai usianya menginjak 4 tahun.

Sebagai anak dari seorang orang tua tunggal, ia tak pernah membatasi diri untuk bermimpi. Cita-citanya, yang ia susun ketika menginjak usia 6 tahun, membumbung tinggi bersayapkan awan, mengepak-ngepak mewarnai langit-langit bumi. Mula-mula dokter kandungan, lalu pelukis, penyanyi, musisi, dokter hewan, penari, penulis, terakhir ia ingin jadi koki.

Ketika anak-anak sebayanya memakan jajanan apa saja, ia belajar untuk meimilih, mana yang berguna bagi tubuhnya dan mana yang tidak. Saat anak-anak sebayanya dibawa jalan-jalan ke mall untuk berbelanja atau sekedar cuci mata, ia dibawa mengelilingi toko buku, asyik di bagian cerita anak-anak. Kala anak-anak sebayanya berwisata ke kolam renang, arena bermain, atau bermain game di komputer, ia mengunjungi museum-museum.

Waktu anak-anak lain yang satu kampung berduyun-duyun bermain sepeda di halaman atau di jalan kompleks belakang, ia mulai menabung sisa uang jajan, agar tahun depan sepeda yang ia inginkan bisa terbeli.

Gadis kecil itu, memang tidak pernah diajarkan mendapat segala sesuatu dengan mudah. Ia tidak pernah diajarkan untuk lekas menyerah. Ia memupuk akar-akar kegigihan dalam dadanya, yang tumbuh subur dan menjulur-julur menembus senyuman.

Ia tak pernah main-main atas segala sesuatu yang ia inginkan. Tahu bahwa menjadi pelukis adalah salah satu cita-citanya, maka setiap hari ia berlatih menggambar dan mewarnai. Tahu bahwa menyanyi juga cita-cita, ia menghafal lirik lagu dengan serius dan tak malu bernyanyi di depan kelas.

Kebahagiaannya tidaklah rumit. Dan ia tahu betul apa yang harus ia lakukan untuk mewujudkannya.

Setiap hari ia hanya diberi uang jajan tak lebih dari dua ribu rupiah. Yang lima ratus ia pakai jajan di sekolah, yang seribu ia tabung untuk membeli sepeda, sisanya ia kumpulkan untuk membeli jajanan yang agak mahal. Empat hari sekali, sepulang sekolah, ia akan mengajakku ke toko di dekat jalan raya untuk membeli es krim dari hasil mengumpulkan uang jajan.

Matanya, binar ceria dan senyum sumringah di bibirnya itulah yang kerap menohokku. Ia adalah cerminku, sebuah kaca hidup untukku menatap dunia dan terus berjalan berpacu dengan lelah.

Gadis kecil itu, bersama dengan kesederhanaannya, ternyata sanggup menjantera semangatku dari letup kecil menjadi bara raksasa. Ia lah yang memancangkan tonggak-tonggak harapan dan mimpi yang tak akan lekang usang. Ia yang telah membentengi pantai ketegaranku agar tak terabrasi lautan kejam.

Ia putriku. Ia Salwa Isheeqa Azzahra Maryam.

Catatan menyambut hari ulang tahun yang ke-7 Salwa

2 Comments

  1. December 10, 2010 at 6:00 pm

    saya pembaca baru blog kamu.. apa yang kamu lalui .. saya juga pernah lalui.. teruskan menulis.. kerana kamu punya bakat yang besar..:)

  2. Skylashtar-Reply
    December 22, 2010 at 2:08 pm

    melora: wow wow wowwww…nggak nyangka kalau blog aku ini ada pembacanya. hahaha..thanks anyway.
    aku akan terus berkarya dan menulis.

Leave a Reply