“Pulanglah ke dadaku.”

Itu kalimat terakhir yang saya tuliskan dalam secabik surat yang saya tulis beberapa minggu silam. Surat yang dilarungkan untuk seseorang dengan harapan bahwa masing-masing dari kami bisa sama-sama yakin dan menjadi tempat pulang bagi satu sama lain. Namun, entahlah, surat itu tak pernah mendapatkan jawaban. Mungkin saya memang perempuan yang ditakdirkan untuk membangun rumah bagi saya dan anak saya, sendirian.
R U M A H

Satu kata yang menjadi jantera mimpi-mimpi. Satu tempat yang saya harap bisa menjadi tempat pulang nanti. Meski memang, saat ini kosan tempat saya tinggal selama dua tahun sudah saya anggap sebagai rumah, tapi jauh di dalam sini saya tetap menyimpan keinginan untuk punya rumah sendiri. Dengan atau tanpa suami.

R U M A H

Adalah target pencapaian saya paling tinggi. Target yang selama bertahun-tahun ini tengah berusaha saya genapi.

Mimpi Saya tentang Rumah

Mimpi saya tentang rumah tidaklah muluk-muluk karena saya tahu esensi sebuah rumah bukan hanya bangunan dengan atap dan lantai dan pintu dan jendela, melainkan dengan siapa rumah itu akan saya tinggali.

rumah-impian

1. Tidak Usah Terlalu Luas

Tipe 36 atau 45 saya kira cukup untuk kami berdua, saya dan Aksa. Saya memang tidak ingin rumah yang terlalu besar karena malas ngepelnya memang tidak membutuhkannya. Toh saya hanya akan tinggal berdua dengan Aksa. Dua atau 3 kamar tidur, satu ruang tamu, ruang tengah merangkap perpustakaan, dapur, dan kamar mandi.

2. Bersih

Selain luasnya yang tidak terlalu besar, kebersihan adalah faktor utama bagi saya. Saya ingin hunian yang bersih, rapi, dan nyaman untuk ditinggali. Jika punya rumah sendiri, barangkali saya tidak akan memasukkan terlalu banyak perabotan. Lagi pula, tahu sendiri kan anak lelaki itu seperti apa?

3. Pekarangan

Beberapa hari lalu saya melewati sebuah perumahan yang menghadap sawah dan kebun-kebun. Dalam hati saya berteriak, ingin punya rumah seperti itu. Atau kalau tidak memungkinkan, setidaknya ada banyak pepohonan di depan rumah saya. Rumah saya nanti juga harus punya halaman depan dan belakang karena saya tahu bagaimana rasanya tinggal di gang sempit yang pengap. Saya ingin anak saya tinggal di tempat yang lebih baik.

4. Lingkungan

Karena saya punya anak yang sedang dalam masa tumbuh kembang, lingkungan sosial penting untuk mendukung tumbuh kembangnya. Saya ingin punya rumah di kompleks yang sesuai pula dengan kondisi sosial dan ekonomi saya, lingkungan yang kondusif (tingkat pendidikan, pergaulan, keberagaman, dan lain-lain), lingkungan yang … oke, ini mungkin agak abstrak.

Begini, saya tidak suka tinggal di kompleks perumahan ekslusif kelas menengah ke atas dengan rumah super besar karena tidak akan sanggup bayar, eh, maksudnya sometimes di perumahan seperti itu para penghuninya tidak saling mengenal. Tapi, tinggal di perumahan yang terlalu sempit dan crowded juga tidak baik untuk anak saya. Jadi, maunya tinggal di perumahan yang sedang-sedang saja, persis seperti lagu dangdut. Yang penting mah aman, nyaman, dan para penghuninya saling bersosialisasi.

5. Fasilitas

Apa kebutuhan utama saya selain rumah tempat berlindung dari hujan dan badai? Satu, Internet. Dua, air. Tiga, listrik. Jadi, rumah impian saya ya yang sudah tersedia jalur telepon agar bisa memasang Internet fiber optik, jalur PDAM, dan memiliki daya listrik cukup.

6. Akses & Lokasi

Yang penting akses transportasi umumnya mudah karena saya tidak punya kendaraan pribadi. Pilihan kota? Saya kira Cimahi adalah yang paling ideal karena cuacanya yang masih sejuk dan aksesnya yang masih mudah.

Mimpi Besar Dimulai dari Langkah Kecil

Punya rumah sendiri merupakan mimpi besar, tapi mimpi, sebesar apa pun, bisa dimulai dari langkah-langkah kecil. Oke, jadi bagaimana cara mewujudkan mimpi punya rumah sendiri? Ini yang saya lakukan:

1.  Metode Pembiayaan

Ini yang paling penting. Saya harus mencari metode pembiayaan paling tepat yang disesuaikan dengan kemampuan ekonomi saya. Menabung dulu lalu membeli tunai ataukah mengajukan KPR? Well, kalau menabung dulu sepertinya akan menghabiskan waktu 200 tahun, jadi saya kira mengajukan KPR adalah pilihan paling tepat.

Tip:

  • Persentase suku bunga. Tipnya sudah jelas, pilihlah suku bunga yang paling kecil. 😀
  • Pilih KPR yang suku bunganya flat atau fixed agar bisa memperkirakan besar cicilan sejak awal. Saya tidak pandai berhitung dan awam soal fluktuasi suku bunga tiap tahunnya, memilih KPR dengan suku bunga yang fixed memudahkan saya untuk membuat perencanaan.

2. Jangka Waktu

Jangka waktu KPR bervariasi, biasanya mulai 1-30 tahun. Kalau saya sih memperhitungkan usia ketika mengajukan KPR dan usia produktif. Misalnya, saat ini usia saya 33 tahun. Dengan asumsi masa produktif saya sampai sekitar usia 45, maka saya memilih jangka waktu kredit maksimal 15 tahun.

Kenapa memperhitungkan usia produktif ini penting? Karena produktivitas berpengaruh terhadap besar penghasilan dan penghasilan berpengaruh terhadap kemampuan saya membayar cicilan. Cicilannya memang jadi agak besar, tapi lebih cepat pula lunas.

3. Lembaga Pembiayaan

Banyak sekali lembaga pembiayaan KPR di Indonesia, memilih yang betul-betul sesuai dengan kemampuan saya ini yang agak sulit. That’s why saya memilih lembaga pembiayaan dengan pertimbangan sebagai berikut:

  • Terpercaya dan berpengalaman. Perhatikan track record-nya, minta testimoni dan rekomendasi dari pengguna sebelumnya.
  • Pilih bank KPR yang persyaratannya mudah. Terus terang, urusan administrasi ini kadang bikin sensi. Jadi ya gitu, memilih KPR yang persyaratan administrasinya tidak membuat sakit kepala adalah pilihan yang tepat.

4. Rumah Pilihan

Memilih tipe rumah, fasilitas, lokasi, akses, dan lain-lain memerlukan pertimbangan yang matang. Siapa sih yang tidak ingin punya rumah mewah, luas, mudah diakses, dan berada di lingkungan yang nyaman? Tapiii … tapi nih, semua itu dikembalikan kepada kemampuan kita, toh? Memang, saya sudah punya standar rumah impian, tapi sekali lagi, ada beberapa hal yang juga harus saya pertimbangkan sebelum menentukan pilihan:

  • Harga. Harga rumah bervariasi, tergantung tipe, lokasi, dan faktor lainnya. Dengan mengetahui harga rumah, saya bisa memperhitungkan berapa DP yang harus saya sediakan, berapa besar cicilan, dan jangka waktunya.
  • Simulasi cicilan. Jika sudah mengetahui harga rumah yang kita inginkan, sebaiknya lakukan simulasi untuk mengetahui besar cicilan/bulan. Lebih baik juga jika kita melakukan perbandingan dengan pilihan beberapa jangka waktu cicilan. Contoh:

Simulasi cicilan KPR

 

  • Sertifikasi kepemilikan. Ada yang Sertifikasi Hak Milik (SHM) ada juga yang Sertifikasi Hak Guna Bangun (SHGB). Masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihannya. Kalau SHM, artinya tanah dan bangunan menjadi milik kita, tapi harganya jelas lebih mahal. Sedangkan SHGB hanya bangunan dan hak pakai yang kita miliki, tapi harganya lebih terjangkau. Saya sendiri lebih senang memilih yang langsung SHM karena memperhitungkan usia produktif di poin sebelumnya. Kan nanggung juga ya kalau SHGB dulu terus nanti baru ngurus-ngurus SHM.
  • Lokasi. Jujur, saya sempat tergoda untuk membeli rumah di kota-kota yang harga rumahnya masih di bawah 200 juta seperti Karawang, Sukabumi, atau Cianjur. Sayangnya, saya tidak bisa. Karawang karena cuacanya yang tidak cocok, Sukabumi dan Cianjur karena jauh dari Bandung. Membeli rumah di Bandung? Muahal, Mas, Mbak. Lokasi paling strategis dan sesuai dengan kemampuan saya ya di Cimahi.
  • Harga rumah tipe 45 di Cimahi itu paling murah sekitar 400 jutaan dengan perkiraan cicilan 4 juta – 4.9 juta per bulan. Sanggup? Harus sanggup, dong. Kalau nggak diusahakan kapan mau punya rumah sendiri, iya nggak?
  • Fasilitas. Kebutuhan saya apa sih? Internet, air, dan daya listrik. Itu sebabnya saya lebih suka memilih rumah yang sudah tersedia jalur telepon agar lebih mudah memasang Internet fiber optik. Saya kan kerjanya online, kalau tidak ada jaringan Internet gimana bisa kerja dan bayar cicilan rumah, coba? Fasilitas lainnya adalah air. Kondisi geografis setiap lokasi berbeda-beda, debit airnya juga berbeda-beda. Itu sebabnya mengapa tersedianya jalur PDAM menjadi salah satu pertimbangan. Kan nggak lucu ya kalau udah enak-enak tinggal di rumah sendiri tapi setiap musim kemarau harus puasa mandi. Daya listrik minimal 1300 watt. Saya desainer, memakai PC yang memakan daya listrik besar. I had enough with “kalau mau nyalain komputer harus matiin dispenser”.
  • Detail denah. Biaya renovasi biasanya memakan dana yang lebih besar dari biaya pembangunan awal. Untuk meminimalisasi renovasi, saya memilih rumah yang denahnya sesuai dengan kebutuhan. Kebutuhan lho ya, bukan keinginan. Yang penting sekat di antara kita, eh, ada dua kamar untuk saya dan Aksa, ruang tamu yang terpisah dari ruang kaluarga, kamar mandi, dapur, dan halaman.

denah-lokasi

Well, tadinya saya mengira bahwa memilih rumah yang sesuai dan mengajukan KPR artinya kita harus berkeliling dari satu developer ke developer lain, dari satu bank ke bank lain seperti melamar pekerjaan gitu, ternyata tidak. Duh, maafkeun saya yang naif ini. 😀

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan rumah impian di atas dan hasil ngobrol-ngobrol dengan mereka yang sudah punya pengalaman mengajukan kredit, saya memutuskan untuk mengajukan KPR ke BTN Properti.

Ternyata, kalau di BTN Properti kita bisa kok mengajukan pengajuan kredit online. Cocoklah bagi freelancer yang jam kerjanya tidak menentu seperti saya ini. Ada dua jenis pembiayaan, KPR subsidi dan KPR non subsidi (KPR BTN Platinum). Saya sih maunya KPR subsidi biar murah, sayangnya tidak tersedia untuk rumah di daerah Cimahi. Persyaratan adiministrasi awal KPR BTN Platinum juga mudah, hanya KTP dan surat keterangan penghasilan. Sudah disetujui? Belum, kan baru saja mengajukan. Sambil menunggu saya bisa melengkapi persyaratan administrasi lain yang diperlukan jika disetujui.

To be honest, sempat ragu juga sih mengingat penghasilan saya yang belum stabil. Tapi ya itu tadi, kalau nggak sekarang mau nunggu sampai kapan lagi, coba? But, seneng bukan main karena bisa menemukan tipe rumah impian saya di situs webnya BTN Properti.

BTN Properti

Selain pengajuan yang cenderung lebih mudah, saya juga mendapatkan banyak sekali pengetahuan tentang KPR dan tip-tip agar KPR yang saya ajukan disetujui. Bukan itu saja, kalau mau tanya-tanya, bisa kok ke Customer Service Live Chat. Ya, gimana? Dari hari Senin-Minggu selama 24 jam? Oh ya ndaklah, operasional CS-nya sesuai jam kerja, dari Senin-Jumat pukul 07.30-16.30. Lagian, emang situ mau nanya soal KPR tengah malam buta? Ngapain? *memicingkan mata

Gini aja deh, temen-temen yang masih penasaran dan pengen nanya-nanya langsung, boleh datang ke Indonesia Properti Expo 2016 di Jakarta Convention Center. Di sana ada booth BTN Digital Solution. Ada banyak hadiah juga bagi mereka yang melakukan pengajuan online di tempat dan bagi mereka yang mengunduh aplikasi BTNProperti. Acaranya dari tanggal 13-21 Agustus 2016. Yup, sekarang hari terakhir. Info detailnya bisa dilihat di sini:

Cara mengajukan KPR
*

Saya percaya bahwa setiap mimpi, sebesar apa pun itu, akan selalu memiliki jalan untuk diwujudkan. Saya juga percaya bahwa impian untuk memiliki rumah sendiri, tempat berlindung dan pulang bagi saya dan Aksa, suatu hari akan terealisasi.

Yang perlu saya lakukan hanyalah berusaha dan berdoa. Berusaha dan berdoa.
Salam,
~eL

 

7 Comments

  1. August 21, 2016 at 3:11 am

    Semoga apapun impianmu tentang rumah, segera tercapai, Chan. AKu dulunya tak pernah pengen punya rumah sendiri. Ha..ha.. aneh ya? Akhirnya bisa juga beli tipe 21, yang sekarang luasnya udah jadi 4 kali lipatnya, rezeki kelebihan tanah. kalo dipikir-pikir, kayak gak mungkin, eh..ternyata jadi aja 😀

  2. August 21, 2016 at 10:27 am

    Salwa gak diajak Teh?
    Semoga impiannya terwujud ya Teh. Saya nyicil rumah juga pakai BTN �� Gampang prosedurnya, kalau mau ngelunasin juga gampang ��

  3. August 21, 2016 at 12:30 pm

    Yaaah baru baca.
    Usia usia kayak aku nih lagi gencar2nya nyari rumah dan yg mau bantu nyicilin hahhaa

  4. August 22, 2016 at 9:11 am

    sekarang aku lagi cari cari model rumah yang cocok buat ukuran 8×12 meter. sama mau ngutang ke bank mana.. jiji

  5. August 22, 2016 at 9:18 pm

    Home sweet home.
    Semoga segera terwujud.

  6. August 25, 2016 at 3:22 pm

    Bikin rumah kalau nunggu ngumpul duitnya kayaknya berat. Saya juga nekad tapi pinjamnya ke saudara jadi bayarnya suka2.

    Rumah saya dikelilingi sawah teh, adem rasanya 🙂

    Semoga impiannya bisa segera terealisasi teh. Amin….

  7. September 21, 2016 at 7:59 am

    wah detailnya juga nih informasi mengenai rumahnya ..
    rencana saya juga pengen beli rumah di jogja haha tapi lagi nabung buat belinynya
    btw mkasih tulisannya mbak sangat bermanfaat sekali ..
    regards
    sutopo

Leave a Reply