Rancaekek; Simbol Kebusukan Kab. Bandung

Sebelum berangkat dari Cipasung jam tiga sore, kami, saya, Ratna M. Iwan, dan Meitha K.H., sempat berdoa agar perjalanan kami lancar dan tidak dihadang macet mengingat hari itu, Minggu 23 Desember 2012 masih musim liburan. Doa kami terkabulkan, dari Cipasung ke Garut lancar, dari Garut ke Cicalengka pun lancar meski hari mulai hujan. Tepat pukul 17.45, bis yang kami tumpangi memasuki Rancaekek, itu artinya sebentar lagi kami akan sampai di Cileunyi dan sampai di Bandung tidak lama lagi. Tapi apa yang terjadi? Bis terhenti, tak ada kendaraan yang berjalan sama sekali. Kami pikir macet seperti ini sudah biasa mengingat waktu itu adalah jam bubaran pabrik-pabrik yang ada di sepanjang jalan. Tapi anggapan kami bertemu dengan kekosongan, bis tak berjalan hingga jam di HP menunjukkan pukul 19.30. 

Setelah mencari tahu, akhirnya kami menemukan informasi bahwa kemacetan kurang ajar itu disebabkan oleh banjir di seputar Kahatex yang konon terjadi setiap tahun. Kami pun bersabar, menunggu di bis meski dengan dada gusar. Ya, malam itu masih ada banyak janji yang harus kami penuhi. Saya sendiri sudah berjanji pada Salwa untuk pulang hari itu dan berniat menyempatkan diri membeli kado untuk prestasinya menyabet rangking satu di sekolah. Semua janji yang kami buat berantakan.


Waktu terus bergulir sementara bis kami merayap-rayap seperti siput yang kekurangan tenaga. Di luar, air cokelat bergenang-genang. Jalanan ramai dengan celotehan, keluhan, dan tentu saja kebosanan-kebosanan. Bis masih belum bisa berjalan hingga pukul 11 malam. Maka saya dan Meitha menyempatkan diri membeli minuman di sebuah minimarket. Sehabis membeli minuman, saya membeli sesuatu di warung terdekat sambil ngobrol-ngobrol sebentar dengan pemilik warung tentang bencana banjir itu. 

“Oh ini mah udah biasa, Teh. Tahun kemarin aja banjir seperti ini sampai jam 10 pagi,” kata si pemilik warung dengan mimik kasihan. 

Deg! Firasat saya mulai buruk. Berarti banjir sampai lebih satu meter itu terjadi setiap tahun? Berarti kemacetan biadab seperti itu terjadi juga setiap tahun? Lalu apa yang telah dilakukan untuk mencegah hal itu terjadi lagi? Tidak ada sepertinya. Tiba-tiba saya diliputi kemarahan. Betapa bangsa Indonesia adalah bangsa yang masokis, senang sekali menyakiti diri sendiri. Kalau sudah tahu banjir dan kemacetan terjadi setiap tahun, kenapa tidak ada tindakan preventif dan kuratif? Goblok sekali, bukan? 

Jalan Rancaekek itu jalan protokol, satu-satunya akses menuju luar kota, terlihat dari banyaknya bis wisata dan angkutan umum lainnya. LALU KENAPA INFRASTRUKTUR MASIH SEPERTI TAIK? Jalan kecil, drainase buruk, trotoar dan gorong-gorong banyak sekali sampah dan dipadati para pedagang kaki lima. Mau sampai kapan seperti ini? MAU SAMPAI KAPAN? 

Kepada Bupati Kabupaten Bandung dan Kabupaten Sumedang, ini tugas kalian. Please lah, gunakan otak kalian. Sekali lagi, GUNAKAN OTAK KALIAN. 

(Kami sampai di Cileunyi sekitar jam 1 pagi. Can you imagine?)

Leave a Reply