Konon, manusia dibekali nurani agar tetap menjadi manusia. Konon, manusia dibekali pula dengan insting dan pengetahuan untuk memertahankan diri, bukan hanya dari para pemangsa, tapi juga dari sesama. Malam tadi saya kembali membuktikan itu. 

Malam tadi saya bermaksud pulang ke Cimahi dari Terminal Bekasi setelah mengajar infografis di LaCookie dan nongkrong asyik dengan Mak Winda Krisnadefa, niatnya sih akan menumpang bus Prima Jasa jurusan Bekasi-Leuwi Panjang. Sialnya, bus yang saya maksud hanya beroperasi sampai pukul 9 malam, sedangkan saya baru sampai di terminal pukul 10 malam. Entahlah, setiap kali ke luar kota saya selalu luput untuk membekali diri dengan hal-hal teknis seperti ini. Padahal saya selalu merasa diri sebagai periset ulung, ternyata ketajaman insting saya untuk meriset data dan fakta hanya berlaku ketika menulis, tapi tumpul dalam kehidupan nyata.

Terminal, stasiun, bandara, dan tempat-tempat semacam ini selalu menjadi tempat berbahaya terutama di malam hari. Terutama di kota-kota besar. Terutama bagi perempuan yang doyan nyasar.

Ketika tahu bus Prima Jasa jurusan Bandung sudah tidak ada, hal pertama yang saya lakukan -tentu saja- adalah bertanya. Ini kesalahan pertama. Karena saya bertanya kepada siapa saja yang ada di depan mata, dan yang ada di sana hanya tukang ojek. Tukang ojek yang mengatakan tak ada bus ke mana pun. Tukang ojek yang mengatakan satu-satunya pilihan yang harus saya ambil adalah memakai jasanya. Yang mengatakan bahwa mereka akan mengantarkan saya ke Jatibening, tempat yang sangat jauh sehingga saya pantas membayar 40 ribu rupiah.

Padahal tahukah Anda bahwa jarak Terminal Bekasi-Jatibening hanya 9 km dan bisa ditempuh hanya dengan 20 menit di malam hari seperti itu? Sialnya, malam tadi saya tidak tahu fakta ini sehingga nyaris saja percaya dan akan langsung melompat ke sadel motor salah satu dari mereka. Untungnya, insting saya mulai berjalan. Saya mulai curiga.

Di tengah-tengah terminal, saya mengeluarkan smartphone dengan maksud menghubungi teman-teman saya, meminta petunjuk arah. Ini kesalahan kedua. Sembrono, kalau kata si Akang.

Karena tidak yakin dengan metode kepulangan yang harus saya tempuh, saya menuju warung kopi terdekat, kembali mengeluarkan smartphone, merokok dengan maksud membaur dan menjinakkan diri. Ini kesalahan ketiga. Tidak semua warung kopi seramah dan sehangat dalam pikiran kita, terutama di malam hari.

Niat hati ingin mencari informasi berakhir dengan saya yang dipalak oleh entah siapa yang tiba-tiba duduk di samping kanan saya. Saya katakan dipalak karena dia memaksa. Tidak banyak memang, hanya sebatang rokok. Tapi jika nasib saya sial, mungkin akan lebih dari itu. Baru setengah batang rokok saya isap, kembali datang orang asing yang duduk di samping kiri saya, tukang ojek lain. Lagi-lagi, saya dicekoki informasi bahwa tidak ada bus, bahwa dia akan mengantar saya ke Jatibening, bahwa jaraknya sangat jauh, bahwa ongkosnya 40 ribu rupiah.

Saya menolak percaya. Saya masih curiga.

Anda mungkin bertanya, apa yang dilakukan tukang warung? Tidak ada. Bung, Nona, izinkan saya mengatakan sekali lagi bahwa di tempat-tempat seperti itu setiap orang saling menjaga diri dengan cara tidak mencampuri urusan masing-masing. Dan musafir yang tidak tahu jalan pulang seperti saya masuk kriteria “urusan masing-masing” itu tadi.

Saya tidak ingin mengatakan bahwa Terminal Bekasi penuh orang jahat, urusannya tidak sesederhana itu. Saya pernah mengalami situasi yang nyaris sama di Stasiun Bandung, Terminal Cicaheum, Leuwi Panjang, bahkan di daerah Pasteur. Keamanan memang tidak pernah berjodoh dengan malam. Dengan perempuan. 


TERMINAL BEKASI

Malam tadi, saya bisa saja bermalam di Bekasi, menginap di rumah salah satu teman saya. Tapi, ada begitu banyak perkerjaan yang harus diselesaikan. Melewatkan satu malam di tempat orang bukan kemewahan yang bisa saya dapatkan beberapa hari ini. Saya harus pulang, segera.

Mungkin Anda akan berkata, “Tapi bermalam di rumah teman bisa menyelamatkan nyawa.” Dengan senang hati saya akan menjawabnya dengan, “Tapi saya ini keras kepala dan pekerjaan berada di urutan pertama bagi saya.”

Karena tidak ada satu orang pun di terminal yang bisa memberi informasi dan solusi, hanya satu yang bisa saya andalkan sebagai penolong: teknologi komunikasi.

Dan satu-satunya orang yang berada di lingkaran teknologi komunikasi serta bisa memberikan solusi dengan tepat di saat-saat genting seperti itu hanyalah satu orang: si Akang. Well, setidaknya dia membuat saya merasa tenang.

Saya tahu dia kesal karena ini bukan kali pertama saya ketinggalan bus atau kereta atau travel dalam usaha pulang ke Cimahi. Bukan kali pertama pula saya meminta petunjuk arah atau solusi alternatif. Tapi hey, buat apa punya kekasih teman kalau tidak bisa difungsikan sebagai GPS? #Eh

“Bus jurusan Kampung Rambutan masih ada?” tanyanya.

Saya celingukan, meneliti satu per satu bus yang masih beroperasi. “Masih,” lapor saya.

“Naik itu, turun di Jatibening, nyebrang. Naik bus Mayasari Bakti, ajak kondekturnya bicara basa Sunda.”

Saya percaya. Segera beranjak dari warung kopi, meninggalkan tukang ojek yang terus mendesak, naik bus jurusan Terminal Bekasi – Kampung Rambutan, bus terakhir malam tadi.

Anda tahu berapa ongkos yang harus saya keluarkan? DELAPAN RIBU RUPIAH. Bandingkan dengan jika saya naik ojek. Selain ongkos yang jauh lebih mahal, keselamatan saya pun tidak terjamin. Tidak, saya tidak takut diperkosa atau dicelakakan. Saya cuma takut notebook, kamera, dan smartphone saya dirampok. Konyol memang, tapi harga nyawa manusia itu relatif, setidaknya bagi saya.

BUS: TERMINAL BEKASI – KAMPUNG RAMBUTAN

“Pak, saya mau naik bus ke Bandung. Nanti tolong turunkan di Jatibening ya. Makasih,” ujar saya kepada sopir bus.

Sopir bus, lelaki setengah baya di depan saya hanya mengangguk. Tapi, tahu tidak? Saya tidak diturunkan di Jatibening melainkan dibawa sampai ke Kampung Rambutan. Rasanya ingin menangis dan lompat dari bus saat itu juga ketika sadar bahwa saya sudah melewati UKI, Jatibening hanya titik merah di layar GPS, berkilo-kilo meter di belakang.

“Pak, tadi kan saya bilang mau naik bus ke Bandung di Jatibening. Ini sudah sampai mana?” saya mulai panik.

“Jam segini udah nggak ada bus jurusan Bandung di Jatibening. Tadi lihat kan? Nanti saya turunkan di Kampung Rambutan, banyak bus arah Bandung.”

Pukul 11 malam dan dia benar. Sepanjang jalan saya memang tidak melihat satu pun bus antarkota yang terlihat. Saat itu insting saya memutuskan untuk percaya.

Bus berhenti sebelum Terminal Kampung Rambutan, tepat di belokan tempat berbagai macam taksi dan bus antarkota berada.

“Turun di sini, Neng. Itu tuh bus ke Bandung. Saya tungguin di sini sampai dapat bus.”

Tergesa, saya turun, berjalan menuju bus-bus yang terparkir. Memang tidak ada bus jurusan Bandung, yang ada adalah bus jurusan Garut, bus terakhir malam itu. Entahlah, mengapa malam tadi saya selalu berurusan dengan bus terakhir. 


Sebelum seluruh badan saya ditelan bus, saya mengacungkan jempol ke arah bus Terminal Bekasi – Kampung Rambutan yang tengah berhenti sembarangan di belokan, memberikan tanda bahwa situasi sudah terkendali.

BUS: BEKASI – GARUT

Kondektur bus antarkota lebih bisa dipercaya daripada tukang ojek terminal, asal Anda tahu saja. Karena itu bus jurusan Garut dan tidak melewati Leuwi Panjang, jadi saya minta diturunkan di Kopo.

Sebentar, perjalanan saya belum berakhir. 

Beberapa menit kemudian seorang pemuda yang duduk di belakang saya menyapa, menanyakan saya akan turun di mana. Ternyata dia dan beberapa temannya juga mengalami nasib yang nyaris sama, ketinggalan kereta. 


Dilihat dari sisi yang berbeda, mereka justru lebih pantas dikasihani. Mereka asal Jakarta, sedang melakukan perjalanan menuju Lembang, akan diturunkan di Kopo dengan semena-mena, dan mereka tidak tahu harus dengan cara apa supaya bisa sampai di Lembang. Karena rasa kasihan itulah saya memutuskan untuk mengantar mereka sampai Ciroyom atau stasiun agar mereka bisa naik angkot ke Lembang.

“Sudah sampai mana?” sebuah pesan masuk, dari si Akang.

“Kampung Rambutan, bus jurusan Garut,” jawab saya.

“Kok? Nggak ada bus yang langsung ke Bandung?”

“Nggak ada, udah habis,” mungkin ada, tapi saya malas membahas bahwa saya tidak tahu Jatibening itu seperti apa sehingga saya terbawa ke Kampung Rambutan. Hey, hidup juga harus berimprovisasi, bukan? Lagi pula, kalaupun saya turun di Jatibening, mau naik apa? Toh sudah tidak ada bus.

“Mau turun di mana?”

“Kopo.”

“Memang tahu dari Kopo ke Cimahi naik apa?”

“Tahu dooonggg. Naik Soreang – Leuwi Panjang lalu lanjut ke Cimahi, kan?” padahal saya ngarang. Saya bahkan lupa pintu tol Kopo itu seperti apa dan saya tahu bahwa angkot menuju Cimahi paling hanya ada sampai pukul 11 malam.

“Turun di Padalarang juga bisa,” ia memberi saran.

“Tapi aku mau nganter dulu temen sampai mereka dapet angkot Lembang. Anak Jakarta, katanya nggak tahu angkot ke Lembang. Kasihan.”

 “Lho, aku kira kamu sendirian.”

“Ya memang sendirian, anak-anak ini ketemu di bus.”

“Laki-laki atau perempuan?”

“Laki-laki,” saya menahan napas. Tahu betul dia akan bilang apa.

“Ya biarin aja, tho?”

 
Dengan kata lain, si Akang cuma mau bilang bahwa mereka laki-laki, beberapa orang pula, sedangkan saya perempuan dan sendirian. Yang seharusnya diselamatkan adalah saya. 

“Perjalanan paling lama 4 jam, nanti mah sudah Subuh, aman,” katanya menutup percakapan.

Tidak ada ucapan “hati-hati di jalan” atau “jangan lirik-lirik lelaki lain di dalam bus”. Dem! Lelaki kadang makluk praktis yang menyebalkan.

“Iya,” hanya itu jawaban saya. Saya mengatakan kepada kondektur bahwa saya minta diturunkan di Padalarang walau sebetulnya siap diturunkan di mana saja asal jangan terbawa sampai ke Garut.

Sebelumnya, saya menuliskan rute angkot di secarik kertas, menyerahkannya kepada pemuda di belakang saya disertai permintaan maaf karena saya tidak bisa mengantar mereka. Tak lupa saya berpesan bahwa minimarket 24 jam lebih aman daripada stasiun atau terminal, kecuali minimarket di daerah Cibiru.

PINTU TOL DARURAT: CIMAREME

Pukul setengah tiga pagi, kondektur membangunkan saya.

“Neng, turun di Cimareme saja ya,” dia menunjuk arah sopir, meminta saya pindah tempat duduk.

Dengan keluguan seorang musafir, saya menurut, turun dari bus pada pukul setengah 3 dini hari lalu … ini di manaaa? Ketika bus kembali berjalan, saya baru sadar tengah berdiri di tepi jalan tol, di jalan layang, pada pukul setengah 3 dini hari.

“Ini bukan Cimareme, bangsat! Ini bahu jalan tol yang akan membuat saya terbunuh kapan saja,” saya mengutuk kondektur bus yang telah menyeret saya ke dalam situasi kritis. Memangnya apa yang harus saya lakukan di atas jalan layang? Melompati benteng ke jalan di bawah sana untuk mencari angkot Cimahi?

Sinting! Saya kembali mengutuk.

“Neng, bade ka mana?” suara lelaki terdengar tak jauh dari saya.

Saya menoleh dengan takut-takut. Dirampok atau dianiaya di bahu jalan tol pada dini hari buta adalah cara mati yang tidak elegan, pikir saya. Lebih baik saya menabrakkan diri ke mobil-mobil yang tengah melaju.

“Neng!”

Seorang lelaki berdiri dengan ransel besar di bahu, beberapa meter dari tempat saya berdiri. Uh oh, ternyata dia sesama penumpang bus. Saya memicingkan mata, menajamkan radar bahaya. Oke, lelaki seumuran si Akang itu terlihat seperti lelaki baik-baik. Setidaknya radar saya mengatakan demikian.

“Nggg … anu, Kang. Bade ka Cibabat. Dupi ieu kaluar tolna ka palih mana, nya?”

Ia mendekat, saya siaga. Sebetulnya saya sudah lupa semua kata karate tapi tidak apa-apalah, namanya juga usaha. Ia memberi aba-aba agar saya mengikutinya. Jadilah kami beriringan di tepi jalan tol seperti dua petualang tolol. Well, saya sih yang tolol, ia tidak karena setidaknya ia tahu apa yang sedang dilakukan.

Kendaraan demi kendaraan masih melaju di samping kami, kami cuma punya space tak lebih dari 30 cm agar tidak terserempet mobil. Kalau Anda ingat plang “Dilarang menurunkan penumpang di jalan tol” sekarang Anda tahu kan mengapa plang itu dibuat? Iya, untuk mencegah orang-orang berbuat tolol.

Ia, lelaki itu, menjauh dari jembatan dan berhenti di depan dinding pembatas jalan tol yang tingginya hanya 1 meter. Tidak cukup tinggi memang, tapi di balik dinding adalah tanah landai penuh semak-semak yang berakhir di dinding tinggi lain. Siapa yang cukup gila melintasi medan itu hanya untuk masuk ke jalan tol? Oh, oke, ternyata ada orang yang cukup gila karena di balik dinding jalan tol itu ada sebuah tangga kayu, di ujung tangga kayu ada jalan setapak yang mengular hingga ke dinding pembatas di bawah sana.

Saya memanjat dinding lalu turun melalui tangga itu duluan, menuju din … dua orang dengan senter di tangan mereka, tak jauh dari dinding tinggi yang membatasi tanah penuh semak-semak dengan jalan di bawahnya. Apa ini? Panitia penyambutan? Saya menoleh ke belakang, meminta penjelasan. Lelaki di belakang saya hanya memberikan pandangan “jalan saja terus” tanpa berkata apa-apa.

Otak cerpenis itu selalu penuh drama, Anda mengerti, kan? Selama menuruni jalan setapak itu otak saya menggubah sebuah cerita, cerita bahwa saya adalah korban sebuah konspirasi komplotan perampok. Si lelaki di belakang saya bertugas menggiring korban sedangkan kedua kawannya bertugas menjaga agar korban tak lari ke mana-mana. Saya pasrah, siap menyerahkan barang-barang berharga di dalam tas asalkan saya tetap dibiarkan hidup, kembali kepada anak-anak, menikah dengan si Akang, punya anak lagi, lalu hidup bahagia sampai dongeng berakhir.

Ketika sampai di ujung jalan setapak, dua lelaki dengan senter menyambut kami dengan pertanyaan, “Ka mana, Kang, Neng? Ojek?”

“Hah?” saya bengong. Ojek? Lagi?

Jadi mereka berdua bukan bagian dari komplotan penjahat yang sedang berusaha merampok diri ini? Jadi saya tidak akan masuk koran atau duduk di kantor polisi sambil membuat BAP? Jadi, mereka adalah tukang ojek yang berinovasi dengan cara menjemput bola di pintu tol darurat pada jam-jam setan?

Saya ingin tertawa. Kalau perlu, terbahak-bahak.

Tolong bilang pada Nadiem Makarim, aplikasi dan inovasi Go-Jek tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan tim ojek penyambutan di pintu tol darurat.

Saya menoleh ke belakang, kali ini bukan untuk meminta penjelasan, melainkan meminta petunjuk. Lelaki di belakang saya itu hanya menggeleng.

Kedua tukang ojek turun duluan. Saya naik ke dinding pembatas, turun dengan tangga kayu ke jalan di bawah sana.

“Ka mana, Neng?” salah satu dari mereka bertanya dengan nada mendesak.

“Cibabat,” jawab saya jujur.

“Udah nggak ada angkot atuh jam segini mah, naik ojek aja. Hayu saya antar,” suara tukang ojek semakin mendesak. Saya tidak berani bertanya perkara ongkos.

“Ari Akang bade ka mana, Kang?” tukang ojek kedua bertanya kepada lelaki di belakang saya.

“Ka Saguling saya mah. Neng, tunggu angkot di sini,” katanya tegas. Sekaligus mengatakan kepada kedua tukang ojek itu bahwa dia tidak akan membiarkan cewek seksi di depannya jatuh ke tangan mereka. Oh, my hero!

Tukang ojek yang tadinya hanya dua orang kemudian bertambah tiga, mereka mengatakan hal yang sama: tidak ada angkot ke Cibabat. Saya tidak percaya karena memang tidak ingin percaya.

Tepat ketika “tidak ada angkot” menjadi viral karena diucapkan berulang-ulang dengan nada mendesak, sebuah angkot Cimahi arah Leuwi Panjang melitas di seberang jalan. Lelaki si penyelamat saya berteriak untuk menghentikannya.

Sebelum berlari ke seberang jalan yang lengang, saya kembali menoleh ke belakang, ingin mengucapkan terima kasih. Sebetulnya saat itu saya tergoda untuk mendaratkan satu pelukan atau memberi kartu nama, tapi saya urungkan karena hati ini sudah dimiliki orang lain.

Hati saya masih milik si Akang berjenggot mendebarkan. Utuh miliknya. *hapasih

ANGKOT: CIMAHI-LEUWI PANJANG

Pukul 3 lebih 10 menit pagi saya sampai di depang gang. Selamat.

Ketika menyerahkan selembar uang 5 ribu untuk ongkos, sopir angkot mengeluarkan kalimat yang sudah terbiasa saya dengar, “Kurang sarebu, KANG.”

Saya menyerahkan selembar uang lagi lalu melenggang ke kosan sambil tertawa sekaligus meringis.

Dalam satu malam, insting saya diuji. Dalam satu malam, nurani saya juga diuji. Dalam satu malam, saya belajar bahwa rasa curiga dan rasa percaya hanya setipis kulit ari.

Tapi, pelajaran paling penting adalah bahwa tanpa saya sadari, penampilan saya yang lebih mirip lelaki barangkali telah “menyelamatkan” saya berkali-kali. Di kota mana pun, pada jam berapa pun, perempuan yang melakukan perjalanan seorang diri memiliki risiko tinggi.

Cangkang andorogini yang saya miliki, yang sering kali saya kutuki, mengambil fungsi sebagai pelindung. Siapa pula yang tega berani mencelakai manusia yang jenis kelaminnya tidak bisa diidentifikasi dalam sekali lirik?

Cangkang androgini yang saya miliki ternyata adalah salah satu sistem pertahanan, memastikan saya aman dari para “pemangsa”, dari kejahatan sesama.

Sambil membuka kunci kamar kosan, saya bergumam, “Tuhan, Anda aneh, deh.”

Salam,
~eL

 

35 Comments

  1. April 1, 2016 at 7:57 am

    *speechless*

  2. April 1, 2016 at 8:04 am

    *Tersihir*

  3. April 1, 2016 at 8:34 am

    Terus, aku haru rekomen apa kalau komen kalian kayak gitu? Hahaha.

  4. April 1, 2016 at 8:52 am

    Aduh, Teh eL….. saya jadi merasa bersalah. Besok lagi beajarnya online saja lah… Jam segitu baru sampe Bandung? Duh, duh….. (nah, silahkan yg ini direkomen wkwkwkkwk)

  5. April 1, 2016 at 9:05 am

    Ih, nggak apa-apa atuh, Teh. Setiap perjalanan berharga bagi saya mah.

  6. April 1, 2016 at 9:16 am

    Hahaha… kisah tragis dan mengharukan berujung sakit perut nahan ketawa “kirang sarebu, kang”

    Ameng atuh ka supermarket Cibiru nya, diantos. *cag

  7. April 1, 2016 at 9:28 am

    Kalo saya ngak punya nyali teh, mending nginep dulu di Jakarta hihihi, pernah dulu sekali pulang kerja. Pas barengan rombongan supporter sepakbola usai tanding, duuuh di terminal ramenya mitna ampun. Saya seorang yang cewek, kapok abis itu gk lagi pulang kerja malam2.

  8. April 1, 2016 at 9:31 am

    Ga kebayang beraninya si teteh. Bacanya aja merinding -__-

  9. April 1, 2016 at 10:06 am

    Sumpah teh aku deg degan baca postingan ini. Alhamdulillah teteh selamat sampai rumah.

  10. April 1, 2016 at 10:07 am

    Sumpah teh aku deg degan baca postingan ini. Alhamdulillah teteh selamat sampai rumah.

Leave a Reply